Jempol Lebih Tajam dari Lidah: Hadis untuk Kita yang Suka Berkomentar di Medsos

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Rakha Arkana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak, kamu menulis komentar pedas di media sosial, lalu menyesal setelah menekan tombol kirim? Atau sebaliknya, kamu yang jadi sasaran komentar kasar dari orang yang bahkan tidak kenal kamu?
Kalau pernah, kamu tidak sendirian. Kolom komentar sekarang sering berubah jadi tempat saling serang. Padahal, hampir 1.400 tahun lalu, Nabi Muhammad SAW sudah memberi pedoman soal menjaga ucapan.
Berkata Baik atau Diam
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam.
Pesannya sederhana. Kalau ucapan kita tidak membawa kebaikan, lebih baik tidak usah diucapkan. Di zaman sekarang, "ucapan" itu bukan hanya yang keluar dari mulut, tetapi juga yang kita ketik.
Tangan Juga Harus Dijaga
Ada hadis lain riwayat Bukhari dan Muslim. Nabi menjelaskan bahwa muslim sejati adalah orang yang membuat muslim lain selamat dari lisan dan tangannya.
Dulu, "tangan" mungkin dipahami sebagai pukulan. Sekarang, tangan juga bisa berarti jari yang mengetik. Satu komentar menghina, satu tangkapan layar yang disebar untuk mempermalukan orang, atau satu unggahan yang membuka aib seseorang, semuanya bisa melukai, bahkan lebih dalam daripada kata-kata langsung.
Kebiasaan Buruk di Medsos yang Sering Kita Anggap Biasa
Coba cek, apakah kita pernah melakukan hal-hal ini:
Mengomentari fisik orang. "Kok gemukan?" atau "Jelek banget" mungkin terdengar sepele, tapi bisa menyakiti.
Menyebar aib. Membagikan kesalahan orang demi viral jelas bertentangan dengan anjuran Islam untuk menutup aib sesama.
Ikut menghakimi. Kita sering langsung menyimpulkan sebelum tahu cerita lengkapnya, lalu ikut menyerang bersama banyak orang.
Debat tanpa ujung. Ngotot menang di kolom komentar sering membuat hati panas, bukan membuat orang paham.
Cara Mudah Menjaga Jempol
Berikut beberapa langkah kecil yang bisa langsung dicoba:
Tarik napas sebelum membalas. Jeda beberapa detik sering menyelamatkan kita dari penyesalan.
Tanya diri sendiri. "Apakah komentar ini baik? Apakah perlu?" Kalau jawabannya tidak, hapus saja.
Berani memilih diam. Tidak semua hal harus kita komentari.
Sampaikan kritik dengan sopan. Fokus pada masalahnya, bukan menyerang pribadinya.
Kirim pesan pribadi. Kalau mau menegur, lakukan secara pribadi, bukan di depan banyak orang.
Penutup
Media sosial seperti pisau. Bisa dipakai untuk kebaikan, bisa juga melukai. Tergantung siapa yang memegangnya.
Mulai hari ini, yuk jadikan kolom komentar tempat yang lebih sehat. Kalau tidak bisa menulis hal baik, diam itu pilihan yang mulia. Siapa tahu, satu komentar baik dari kita bisa menjadi penyemangat bagi orang yang sedang berjuang.
