Konten dari Pengguna

Ketika FIA Ragu tapi Kimi Raikkonen Membuktikan Diri di F1 2001

Rakha Athalla Wijaya

Rakha Athalla Wijaya

Mahasiswa Sejarah Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rakha Athalla Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Formula 1 kerap melahirkan kisah pembalap muda yang meroket lebih cepat dari perkiraan siapa pun. Namun dari sekian banyak nama, jarang ada yang secepat dan sekontroversial Kimi Raikkonen. Pembalap asal Finlandia ini menembus grid F1 pada 2001 dengan jam terbang balap yang nyaris tidak masuk akal, ibarat seorang pembalap kemarin sore yang tiba-tiba dilempar ke panggung paling elite dalam olahraga otomotif dunia.

Kimi Raikkonen muda. Foto: dok. shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kimi Raikkonen muda. Foto: dok. shutterstock

Dari Karting ke Kokpit F1 dalam Hitungan Bulan

Sebelum namanya dikenal dunia, Raikkonen hanyalah pembalap muda yang menonjol di ajang karting Finlandia, Nordik, hingga Eropa. Ia baru pindah ke mobil roda terbuka pada 1999, dan setahun kemudian menjuarai Formula Renault UK dengan memenangi tujuh dari sepuluh balapan musim itu. Total, ia baru mengumpulkan 23 kali start balapan mobil sepanjang kariernya, sebuah angka yang lebih pantas dimiliki pembalap yang baru naik dari ajang pemula, bukan calon pembalap F1.

Titik baliknya terjadi pada September 2000, ketika tim Sauber memberinya kesempatan tes privat di Sirkuit Mugello, Italia. Saking rahasianya sesi ini, tim bahkan menyamarkan identitas Raikkonen dengan kode nama "Eskimo" agar tidak tercium tim rival. Pada hari pertama ia sempat kesulitan menahan tekanan di leher akibat downforce mobil F1, namun di hari kedua catatan waktunya melesat tiga detik lebih cepat. Dalam tiga hari tes, ia menuntaskan 80 lap, dan performa itu cukup untuk meyakinkan Peter Sauber bahwa dirinya sanggup duduk sebagai pembalap balapan penuh musim 2001, bukan sekadar pembalap tes.

Jika dibandingkan dengan jenjang balap modern, lompatan Raikkonen ini setara dengan pembalap yang baru setingkat Formula 4 tiba-tiba langsung duduk di kokpit F1, melompati Formula 3 dan Formula 3000 yang biasanya menjadi jalur wajib menuju kelas tertinggi.

Perebutan Superlicense yang Berujung di Meja FIA

Lompatan sedrastis itu tentu tidak mulus. Aturan FIA mengharuskan pembalap mengantongi superlicense sebelum diizinkan turun di F1, dan rekam jejak Raikkonen yang minim dianggap terlalu berisiko oleh sejumlah petinggi federasi. Presiden FIA saat itu, Max Mosley, secara terbuka menyatakan keberatannya karena Raikkonen belum pernah sekalipun turun di Formula 3 maupun Formula 3000, dua kelas yang selama ini menjadi tolok ukur kesiapan seorang pembalap.

Untuk meyakinkan FIA, Sauber kembali menurunkan Raikkonen dalam sesi tes musim dingin resmi di Sirkuit Jerez, Spanyol, pada awal Desember 2000. Sesi itu berlangsung nyaris bersamaan dengan rapat F1 Commission di Monaco pada 7 Desember 2000, tempat superlicense-nya diputuskan lewat pemungutan suara. Raikkonen tampil tenang di tengah tekanan, mencatatkan waktu tercepat ketujuh pada hari itu, sebelum akhirnya kabar baik datang: mayoritas anggota komisi sepakat memberikan superlicense kepadanya, meski berstatus sementara dan bisa ditinjau ulang jika performanya di empat balapan awal musim 2001 mengkhawatirkan. Mosley disebut menjadi satu-satunya suara yang menolak keputusan tersebut. Kesan mendalam dari tes Mugello pada September, ditambah penampilan meyakinkan di Jerez, pada akhirnya cukup untuk meyakinkan FIA bahwa Raikkonen layak diberi kesempatan meski jalur kariernya jauh dari konvensional.

Sauber C20, Mobil yang dikendarai Kimi Raikkonen pada musim debut-nya di F1, tahun 2001. Foto: dok. shutterstock

Musim Debut yang Membungkam Keraguan

Begitu lampu start menyala di Grand Prix Australia 2001, Raikkonen langsung menjawab semua keraguan itu. Dari empat pembalap rookie di grid musim itu, yaitu dirinya, Juan Pablo Montoya, Fernando Alonso, dan Enrique Bernoldi, hanya Raikkonen yang berhasil finis di posisi poin pada balapan pembuka tersebut. Sepanjang musim 2001, ia mengumpulkan sembilan poin bersama Sauber, dengan dua kali finis di posisi keempat sebagai hasil terbaiknya, sebuah pencapaian yang solid untuk ukuran pembalap yang setahun sebelumnya masih berlaga di Formula Renault.

Konsistensi itulah yang membuat McLaren melirik Raikkonen sebagai kandidat pengganti Mika Hakkinen yang bersiap pensiun. Hanya dalam satu musim, Raikkonen berhasil membuktikan bahwa keputusan Peter Sauber mempertaruhkan reputasinya bukanlah keputusan gegabah, melainkan intuisi yang tepat sasaran.

Jejak yang Membenarkan Keberanian Sauber

Kisah debut instan Raikkonen pada akhirnya menjadi salah satu contoh paling sering dikutip setiap kali muncul perdebatan soal kelayakan pembalap muda mendapatkan superlicense. Perjalanan yang dimulai dari lintasan karting, melompat lewat Formula Renault, hingga duduk di kokpit F1 dalam waktu kurang dari setahun, kelak bermuara pada gelar juara dunia bersama Ferrari pada 2007 dan rekor jumlah start terbanyak sepanjang sejarah F1, setidaknya sebelum rekor itu dipecahkan Fernando Alonso di GP Singapura 2022. Raikkonen membuktikan bahwa jam terbang di atas kertas tidak selalu berbanding lurus dengan kesiapan sesungguhnya, dan bahwa keberanian mengambil risiko, baik dari sisi tim maupun federasi, kadang menjadi kunci lahirnya legenda yang tidak terduga.