Ketika Merah Putih Menderu di Mobil Marussia

Mahasiswa Sejarah Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rakha Athalla Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Selama puluhan tahun, Formula 1 hanya bisa disaksikan Indonesia dari layar kaca. Di tengah dominasi pebalap Eropa dan biaya masuk ajang motorsport yang selangit, seorang pemuda kelahiran Surakarta, Rio Haryanto, duduk di kokpit mobil F1 dan keluar dari garasi dengan helm merah putih yang ikonik & mimpi itu segera menjadi kenyataan.

Karier Balap Mobil Rio Haryanto: Sebelum 2012
Sejak digelar perdana di Silverstone pada 1950, Formula 1 identik dengan pebalap Eropa dan biaya yang nyaris tak terjangkau. Bagi Indonesia, arena itu terasa seperti dunia lain.
Rio Haryanto mulai menembusnya dari bangku gokart. Dibelikan gokart sejak 1999 pada usia enam tahun, ia menjuarai kelas kadet nasional pada 2002, lalu dinobatkan Ikatan Motor Indonesia sebagai Best Gokart pada 2005 dan 2006. Ia naik ke Formula Renault Asia pada 2008 dan menjuarai Formula BMW Pacific setahun kemudian.
Pintu F1 terbuka lewat GP3 bersama Marussia Manor Racing. Ia finis kelima klasemen pada 2010, dua kali naik podium pada 2011, termasuk di Nurburgring yang diguyur hujan. Di GP2 bersama Carlin pada 2012, ia merebut pole position dan putaran tercepat di Spa-Francorchamps dalam kondisi basah, yang membuatnya dijuluki spesialis cuaca basah. Tahun itu pula ia menjadi orang Indonesia pertama pemegang FIA Super License.
Kesempatan emas itu datang.
Marussia tidak asing dengan Rio. Ia sudah dua tahun menjadi bagian dari Marussia F1 Team Young Driver Program, dan tim itu disebut mengikuti setiap balapannya dengan penuh perhatian. Dengan jatah uji coba F1 yang sangat terbatas, memberi bangku kepada pebalap muda binaan sendiri adalah investasi yang masuk akal.
Kesempatan pertama datang pada 2010. Rio menjadi orang Indonesia pertama yang mengendarai mobil F1 saat diundang Virgin Racing ke Young Driver Test di Abu Dhabi. Virgin adalah tim yang dimiliki Manor, cikal bakal Marussia. Usianya baru 17 tahun.
Dua tahun kemudian, kepercayaan itu berlanjut. Bersama rekan setim di Carlin, Max Chilton, ia menjajal mobil F1 Marussia di Silverstone pada 12 dan 13 Juli 2012, mobil yang biasa dikendarai Timo Glock dan Charles Pic.
Rio Haryanto memulai kariernya dari gokart di Solo, menapaki GP3 dan GP2, lalu mengendarai mobil F1 untuk pertama kalinya pada 2010 dalam tes pebalap muda di Abu Dhabi. Pada 2016 ia mengikuti 12 seri F1 bersama Manor Racing sebelum digantikan karena kendala pendanaan. Hingga kini, ia tercatat sebagai satu-satunya pebalap Indonesia yang pernah tampil di grid start F1.
