Konten dari Pengguna

Teddy Yip: Pengusaha Kasino Macau kelahiran Medan yang berkiprah di F1

Rakha Athalla Wijaya

Rakha Athalla Wijaya

Mahasiswa Sejarah Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rakha Athalla Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teddy Yip, pengusaha asal Macau kelahiran Medan sekaligus pendiri Theodore Racing. Foto: dok. gettyimages
zoom-in-whitePerbesar
Teddy Yip, pengusaha asal Macau kelahiran Medan sekaligus pendiri Theodore Racing. Foto: dok. gettyimages

Formula 1 identik dengan nama-nama pembalap legendaris seperti Ayrton Senna, Michael Schumacher, hingga Lewis Hamilton. Namun, di balik gemerlap podium dan persaingan tim-tim raksasa, sejarah F1 juga mencatat sosok pemilik tim yang tidak kalah unik meski jarang dibicarakan, yaitu Teddy Yip.

Berbeda dari kebanyakan bos tim F1 yang berasal dari dunia otomotif sejak muda, Yip justru baru benar-benar masuk ke dunia balapan kelas satu ini di usia yang sudah tidak muda lagi, sekitar 67 tahun. Ironisnya, di usia senjanya itu ia justru membangun salah satu tim independen paling berwarna dalam sejarah F1, lengkap dengan livery oranye khasnya yang mudah dikenali di sepanjang lintasan.

Dari Sumatra ke Kerajaan Bisnis MacauDi Hong Kong

Yip memulai bisnis dengan berdagang beras dan kayu. Namun titik balik kariernya terjadi ketika ia bekerja sama dengan iparnya, Stanley Ho, mendirikan Sociedade de Turismo e Diversões de Macau pada awal 1960-an. Dari perusahaan inilah Yip kemudian meraih hak monopoli untuk mengoperasikan seluruh bisnis kasino di Macau, sebuah keputusan yang mengubah nasibnya menjadi salah satu pengusaha terkaya di kawasan itu.Kekayaan dari bisnis kasino inilah yang kelak menjadi modal Yip untuk menyalurkan kecintaannya pada dunia balap, termasuk menjadi salah satu tokoh penting di balik lahirnya Macau Grand Prix yang masih berlangsung hingga sekarang.

Uang Kasino yang Membuka Pintu Formula 1

Kiprah Yip di F1 dimulai pada 1974, saat ia disarankan oleh rekannya, Sid Taylor, untuk mensponsori tim Ensign yang tengah kesulitan dana. Syaratnya, pembalap Vern Schuppan harus tetap mendapatkan kursi. Sejak saat itu, paddock F1 mulai mengenal sosok pria asal Macau berkumis tipis dengan senyum lebar dan kepribadian yang hangat.

Nama "Theodore" sendiri diambil dari nama panggilan Inggris milik Yip, "Teddy". Warna oranye mencolok yang menjadi ciri khas mobil-mobilnya pun membuat tim ini selalu mudah dikenali di antara mobil-mobil tim besar seperti Ferrari, McLaren, atau Lotus.

Salah satu kisah paling berkesan dari era Theodore Racing terjadi pada 1977, saat Yip merekrut pembalap muda asal Prancis, Patrick Tambay. Hubungan keduanya sempat memanas menjelang balapan di Hockenheim, ketika Yip mendesak Tambay menandatangani kontrak perpanjangan saat itu juga dengan ancaman "tanda tangan sekarang, atau tidak ada mobil untukmu." Meski sempat berselisih, keduanya akhirnya berdamai, dan Tambay membalas kepercayaan itu dengan finis keenam pada balapan tersebut, sebuah hasil yang kemudian membuka pintu baginya untuk bergabung dengan McLaren pada musim berikutnya.

Teddy Yip bersama Patrick Tambay, pembalap yang direkrutnya untuk Theodore Racing, 1981. Foto: dok. gettyimages

Tambay kembali ke Theodore Racing pada 1981, kali ini mengendarai mobil buatan sendiri, Theodore TY01. Bersama Yip, ia sempat mencatatkan hasil terbaik tim berupa finis keenam di Grand Prix Amerika Serikat Barat yang digelar di sirkuit jalan raya Long Beach, sebelum akhirnya pindah ke Ligier di pertengahan musim.

Teddy Yip bersama Patrick Tambay, pembalap yang direkrutnya untuk Theodore Racing, 1981. Foto: dok. gettyimages

Selain Tambay, sejumlah pembalap lain juga pernah merasakan mobil oranye maupun putih milik Yip, termasuk Keke Rosberg yang kelak menjadi juara dunia F1 bersama Williams pada 1982. Bagi banyak pembalap muda pada era itu, tim Yip menjadi batu loncatan penting untuk unjuk kemampuan di hadapan tim-tim papan atas, meski dari sisi kompetitivitas mobil, Theodore Racing jarang bisa menandingi kekuatan Ferrari atau McLaren.

Warisan yang Melampaui Lintasan Balap

Sepanjang keberadaannya, Theodore Racing tercatat mengikuti 51 Grand Prix dengan total 64 entri mobil sejak 1974 hingga akhirnya berhenti berlaga di F1 pada 1992. Meski tidak pernah meraih kemenangan di level tertinggi ini, kontribusi Yip terhadap Macau Grand Prix jauh lebih membekas. Ia menjadi motor penggerak di balik perubahan format balapan tersebut dari Formula Atlantic ke Formula 3 pada 1983, keputusan yang justru melahirkan momen ikonik ketika Ayrton Senna memenangkan seri Formula 3 pertama di sirkuit jalanan Macau tahun itu.

Yip tetap dikenang sebagai sosok yang penuh semangat dan kedermawanan di lingkungan paddock, jauh berbeda dari citra pebisnis kasino yang biasanya identik dengan kalkulasi dingin. Ia terus terlibat dalam dunia otomotif hingga akhir hayatnya, dan nama Theodore Racing bahkan sempat dihidupkan kembali oleh putranya, Teddy Yip Jr., untuk berlaga di Macau Grand Prix pada 2013 sebagai penghormatan atas warisan sang ayah.

Kisah Teddy Yip mungkin tidak dikenang lewat statistik kemenangan seperti para pembalap besar. Namun, perjalanannya dari seorang pedagang beras di Hong Kong, menjadi raja kasino Macau, hingga pemilik tim Formula 1 di usia yang sudah melewati enam dekade, menjadikannya salah satu anomali paling menarik dalam sejarah balap jet darat ini. Ia membuktikan bahwa gairah terhadap kecepatan tidak pernah mengenal batas usia, bahkan bagi seorang pengusaha yang baru menemukan panggungnya di lintasan balap ketika sebagian orang lain justru memasuki masa pensiun.