Para Perasuk: Ketika Ambisi Berubah Menjadi Obsesi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret, Surakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rakha Adi Prasetya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mendobrak Panggung Internasional
Industri perfilman Indonesia mengudara di panggung internasional melalui film Para Perasuk. Film yang disutradarai oleh Wregas Bhanuteja ini mendapatkan standing ovation di Sundance Film Festival 2026. Film ini membawa angin segar di tengah industri perfilman Indonesia yang kerap bermain aman dengan formula atau ide-ide cerita yang monoton.
Akan tetapi, kesuksesannya di kancah internasional menyisakan sebuah ironi besar. Pasalnya, film ini hanya mencatat sekitar 140-148 ribu penonton selama penayangannya di bioskop Indonesia sebelum akhirnya turun layar.
Desa Latas dan Obsesi Besar Bayu
Para Perasuk berlatar di sebuah desa fiktif bernama Desa Latas. Di desa ini, terdapat tradisi yakni sebuah ritual di mana para warga (“pelamun”) membiarkan diri mereka dirasuki oleh roh hewan demi bisa lari dari kerasnya realita. Tradisi tersebut diberi nama “Pesta Sambetan”.
Film ini berfokus pada Bayu (Angga Yunanda), seorang pemuda yang memiliki ambisi besar untuk menjadi “Perasuk” (pemimpin musik di Pesta Sambetan). Ambisi Bayu didasari kondisi ekonominya yang sulit dan ayahnya yang ingin menjual rumah warisan kepada korporasi demi mendapatkan modal untuk merantau. Dalam mencapai tujuannya, terdapat beberapa struggle yang dialami Bayu mulai dari persaingan perasuk yang ketat, tekanan keluarga, hingga belum berdamainya Bayu dengan masa lalunya. Ambisi ini perlahan bergeser menjadi obsesi gelap yang mengabaikan batas moral Bayu dan melintasi kewarasannya. Dorongan karakter Bayu dihidupkan secara emosional oleh karakter lain seperti Laksmi (Maudy Ayunda), Guru Asri (Anggun C. Sasmi), Pawit Arifin (Chicco Kurniawan), dan Ananto (Bryan Domani).
Identitas yang Kuat, Musik yang Menggelegar
Wregas Bhanuteja berhasil membawa penonton masuk ke dunia Para Perasuk melalui pendekatan cerita dan latarnya. Meskipun Desa Latas merupakan desa fiktif, nuansa budaya Nusantara yang dibawakan sangat autentik seakan-akan benar-benar ada di tengah masyarakat kita. Konflik antara korporasi yang ingin membeli Desa Latas dengan warga asli menjadi kritik sosial yang tajam dan relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.
Aspek yang paling menonjol ada pada scoring music yang digarap oleh Yennu Ariendra. Alunan instrumen alat musik yang dibawakan mulai dari selompret, gitar listrik, kendang, dan sebagainya mampu membangun suasana magis yang merasuk hingga ke kursi penonton. Kombinasi antara sentuhan budaya dan kritik sosial inilah yang menjadikan film ini memiliki identitas yang kuat yang sudah jarang ditemukan di film-film lokal lain.
Celah di Balik Aspek yang Megah
Di balik aspek megah yang telah disebutkan sebelumnya, film ini masih memiliki celah pada aspek visualnya. CGI yang digunakan beberapa kali terasa kasar, terutama pada adegan pelamun kerasukan roh kutu. Gerakan melompat tinggi masih terasa kasar dan kurang menyatu dengan latar dunia aslinya sehingga mengganggu cinema experience penonton. Selain itu, terdapat satu adegan yang cukup disturbing yang berpotensi menyebabkan ketidaknyamanan penonton.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Para Perasuk merupakan kejeniusan Wregas Bhanuteja dalam meramu cerita, konflik sosial, dan identitas budaya Nusantara. Alhasil film ini pun sukses menarik perhatian di kancah internasional. Meskipun demikian, film ini harus menghadapi ironi pahit berupa minimnya jumlah penonton yang rendah di bioskop lokal. Aspek visual yang terasa kasar juga masih menjadi persoalan yang perlu dibenahi bagi industri perfilman lokal. Terlepas dari itu, Para Perasuk tetap menjadi film yang sangat layak mendapatkan atensi lebih khususnya dari penonton lokal.
