Konten dari Pengguna

Secercah Harapan di Balik Jeruji yang Penuh Kegelapan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rakha Adi Prasetya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sampul novella Different Seasons karya Stephen King. Foto koleksi pribadi penulis (Foto: Dok. pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Sampul novella Different Seasons karya Stephen King. Foto koleksi pribadi penulis (Foto: Dok. pribadi)

Judul Buku: Different Seasons "Rita Hayworth and Shawshank Redemption"

Penulis: Stephen King

Alih Bahasa: Tanti Lesmana dan Barokah Ruziati

Tebal Buku: 512 Halaman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2025

Bagi pecinta film mungkin sudah tidak asing dengan The Shawshank Redemption. Film fenomenal yang hingga saat ini masih bertengger di urutan pertama pada situs IMDb. Film tersebut diangkat dari sebuah novella karya Stephen King dalam antologi Different Seasons dengan judul “Rita Hayworth and Shawshank Redemption".

Cerita bermula ketika Andy Dufresne, seorang bankir muda yang tenang dan tertutup, dijatuhi hukuman seumur hidup di penjara Shawshank atas tuduhan pembunuhan yang tidak ia lakukan. Di tempat di mana harapan seharusnya mati, Andy menjalani hari-harinya dengan kepala dingin. Ia tidak melawan dengan kekerasan, melainkan bertahan dengan caranya sendiri—mulai dari berteman dengan Red hingga menggunakan kecerdasannya untuk bertahan di antara para narapidana kejam dan sipir yang korup. Dari situlah, babak demi babak kehidupan di dalam penjara mulai terurai.

Menurut saya, segi penceritaan dalam novella ini sangat bagus. Jika filmnya membuat penonton terpaku pada kisah Andy Dufresne, membaca novellanya memberikan pengalaman yang jauh lebih mendalam karena cerita disampaikan melalui sudut pandang Ellis “Red” Redding, seorang narapidana yang telah lama menghuni Shawshank. Dari mata Red, Shawshank tidak hanya menjadi tempat Andy menjalani hukuman, tetapi juga sebuah dunia dengan aturan, kekuasaan, dan orang-orang yang perlahan kehilangan kehidupan di luar penjara.

Salah satu hal yang paling saya kagumi, Stephen King sangat berhasil dalam menggambarkan suasana Shawshank yang sangat gelap, mencekam, tetapi selalu ada harapan bagi karakter Andy. King tidak butuh elemen horor untuk membuat tempat ini terasa menakutkan. Kekerasan dan sistem korup yang diceritakan sudah cukup membuat pembaca ikut merasakan sesaknya.

Melalui Red, pembaca diperlihatkan bagaimana seseorang beradaptasi hingga penjara perlahan menjadi “rumah”. Namun, di tengah kehidupan Shawshank yang kelam itu, Andy tampil sebagai sosok yang berbeda. Hubungannya dengan Red memperlihatkan bagaimana harapan sekecil apapun terus dipertahankan di saat dunia seakan merenggut segalanya.

Meskipun penceritaannya memukau, jujur saja ada beberapa hal yang cukup menjadi tantangan selama saya membaca buku ini. Karena saya membaca yang versi bahasa Indonesia, terkadang ada kosa kata atau struktur kalimat yang terasa membingungkan, sehingga menuntut konsentrasi lebih untuk mencernanya.

Selain itu, banyaknya karakter yang nanti di tengah cerita muncul juga berpotensi membingungkan. Banyaknya nama narapidana atau tokoh pendukung yang lalu-lalang, pembaca harus ekstra jeli mengingat peran masing-masing agar tidak kehilangan benang merah cerita.

Bagi pembaca yang sudah menonton The Shawshank Redemption, membaca novellanya mungkin menimbulkan perasaan familiar. Namun, perbedaannya tetap terasa menarik. Narasi Red membuat pembaca memahami bagaimana kehadiran Andy memengaruhi cara Red memandang hidupnya sendiri. Format novella yang mengandalkan kedalaman narasi untuk membangun dunia Shawshank berhasil memberikan pendalaman karakter yang lebih dibandingkan dengan versi filmnya.

Kesimpulan

Pada akhirnya, Rita Hayworth and Shawshank Redemption bukan sekadar cerita tentang pelarian diri. Buku ini berbicara tentang manusia yang bertahan hidup di tempat paling suram. Bagi saya pribadi, terlepas dari sedikit kendala terjemahan dan ramainya karakter, novella karya Stephen King ini tetap sangat layak dibaca untuk melihat cerita populernya dari sudut pandang yang jauh lebih jujur dan personal.