Konten dari Pengguna

Melawan Tekanan Hustle: Tertinggal Tak Selalu Gagal

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rama Rudiyat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah gempuran budaya hustle dan standar sukses di media sosial, banyak mahasiswa terjebak dalam tekanan untuk terus produktif. Namun, perjalanan hidup tak harus selalu cepat, sebab setiap orang punya waktunya sendiri untuk tumbuh dan bersinar.

(Sumber: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber: Ilustrasi AI)

Pernahkah kamu merasa seolah tertinggal saat melihat teman sebaya sudah membangun usaha sendiri, berlibur ke luar negeri, atau bahkan mendapat pekerjaan sebelum lulus kuliah? Kalau iya, percayalah, kamu tidak sendirian.

Sebagai mahasiswa di Jakarta, saya pun kerap merasakan hal serupa. Teman-teman di sekeliling saya tampak begitu percaya diri memamerkan berbagai pencapaian mereka di media sosial. Ada yang mendapat IPK nyaris sempurna, sukses menjalani proyek freelance, hingga mulai merintis bisnis online. Perasaan iri pun muncul, disertai keinginan untuk bisa mencapai hal yang sama. Tapi di sisi lain, saya juga dilanda kebingungan dari mana harus memulai semua itu?

Saya menyadari bahwa rasa tertinggal tak selalu bersifat negatif. Justru, dalam beberapa hal, perasaan itu sempat menjadi bahan bakar semangat saya untuk menuntaskan target-target kecil. Misalnya, menyelesaikan tugas kuliah tepat waktu atau memperoleh nilai terbaik dalam satu mata kuliah. Namun, ketika dorongan untuk ‘mengejar’ terus tumbuh tanpa jeda, perlahan ia berubah menjadi tekanan mental yang melelahkan.

Istilah hustle culture, atau budaya kerja keras tanpa henti, kini begitu populer di kalangan anak muda. Banyak yang menganggapnya sebagai simbol kegigihan dan semangat hidup. Ucapan-ucapan seperti “kalau mau berhasil, jangan malas” atau “tidur itu hanya untuk yang gagal” sudah jadi jargon sehari-hari, terutama di dunia motivasi dan entrepreneurship.

Sayangnya, semangat produktif ini kadang justru membuat mahasiswa seperti saya terjebak dalam rutinitas yang tidak sehat, penuh kecemasan, overthinking, bahkan burnout.

Dalam studi yang dipublikasikan oleh AIP Conference Proceedings (2024) berjudul The Influence of Hustle Culture on Mental Health, dijelaskan bahwa budaya hustle yang mengedepankan produktivitas ekstrem dapat meningkatkan stres jangka panjang, kelelahan mental, dan penurunan fungsi sosial pada kalangan mahasiswa.

Dari sekian banyak sumber tekanan, media sosial terutama Instagram menjadi pemicu terbesar dalam hidup saya. Melihat unggahan story teman-teman yang sedang magang di perusahaan startup besar, mengikuti pelatihan di luar kota, atau menjadi pembicara di acara kampus, kerap membuat saya merasa kecil.

Padahal, apa yang kita lihat di media sosial sejatinya hanya potongan terbaik dari hidup seseorang. Jarang sekali ada yang menunjukkan kegagalan, lelah, atau perjuangan panjang di balik pencapaiannya. Tetapi sayangnya, ketika kita sedang merasa tidak percaya diri, momen-momen “highlight” milik orang lain itu bisa terlihat seperti standar hidup yang harus segera dicapai.

Satu hal penting yang harus kita pahami adalah bahwa kesuksesan bukanlah ajang perlombaan cepat-cepatan. Tiap orang punya titik berangkat dan garis akhir yang berbeda. Mungkin hari ini temanmu sukses di bidang tertentu, tetapi bukan berarti kamu tidak akan memiliki waktumu sendiri untuk bersinar, mungkin di bidang lain.

Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Indrayanti, M.Si., Ph.D., mengingatkan bahwa budaya hustle sering kali menanamkan keyakinan keliru bahwa semakin sibuk seseorang, maka semakin bernilai dirinya.

“Budaya ini menanamkan keyakinan bahwa semakin sibuk seseorang, maka semakin bernilai dirinya. Padahal ini adalah jebakan produktivitas yang bisa merusak kesehatan mental secara perlahan,” ujar Indrayanti dalam siaran pers UGM (2023).

Bagi saya pribadi, rasa cukup itu hadir ketika saya mampu menyelesaikan tanggung jawab sebagai mahasiswa dengan baik, bisa belajar sesuatu yang baru, dan tetap menjaga keseimbangan emosional. Hal sederhana seperti mendapat nilai A dalam tugas atau berhasil mempresentasikan materi tanpa gugup sudah cukup membuat saya merasa puas.

Menjadi mahasiswa bukanlah tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak, tetapi tentang siapa yang mampu berkembang secara utuh baik secara akademik, sosial, maupun emosional.

Memiliki ambisi tentu bukan hal yang salah. Tapi jika tidak dibarengi dengan kesadaran akan batas diri, ambisi bisa berubah menjadi beban. Budaya hustle memang bisa memotivasi, namun tidak semua orang cocok menjalani hidup dengan ritme secepat itu.

Tertinggal bukanlah sebuah kegagalan. Semua orang punya jalan hidup masing-masing, dan tidak ada yang terlambat. Jika hari ini kamu merasa belum mencapai apa pun, ingatlahitu bukan akhir cerita tetapi justru mungkin itu adalah awal dari perjalananmu yang sebenarnya.

Daripada terus membandingkan diri dengan standar orang lain, mungkin sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri“Apa arti sukses menurut versiku sendiri?”