Konten dari Pengguna

Pemanfaatan Radioisotop di Bidang Medis

Ramacos Fardela

Ramacos Fardela

Dosen Departemen Fisika FMIPA Universitas Andalas

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ramacos Fardela tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Radioisotop adalah isotop dari suatu unsur yang memiliki inti atom yang tidak stabil dan mengalami peluruhan radioaktif, yang menyebabkan unsur tersebut memancarkan radiasi dalam bentuk partikel atau gelombang elektromagnetik. Karena sifat tidak stabil

itulah, radioisotop memiliki waktu paruh tertentu, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk setengah dari jumlah atom radioaktif dalam sampel

tertentu untuk mengalami peluruhan radioaktif.

Radioisotop digunakan dalam berbagai aplikasi di bidang medis, industri, dan penelitian ilmiah. Pada artikel sebelumnnya telah disampiakan terkait pemanfaatan radioisotop di bidang Industri pangan https://kumparan.com/ramacosfardela/pemanfaatan-radioisotop-pada-industri-pangan-22hS3iYqQ8R. Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang aplikasi radioisotop pada Bidang Medis.

Radioisotop memiliki beragam aplikasi penting di ranah medis, termasuk untuk keperluan diagnostik, terapi, dan kegiatan penelitian.

Kedokteran Nuklir memanfaatkan Radioisotop yang dicampurkan dengan bahan obat yang dinamakan radiofarmaka untuk melakukan diagnosa atau terapi suatu penyakit (Sumber Gambar: shutterstock)

Pada diagnostik, beberapa jenis radioisotop dapat menghasilkan radiasi yang terdeteksi oleh alat pencitraan seperti PET scan, SPECT scan, dan Kamera Gamma. Contoh radioisotop yang umum digunakan untuk tujuan diagnostik adalah Fluorine-18, Technetium-99m, dan Iodine-131. Radioisotop yang biasa digunakan memiliki waktu paroh yang pendek, sebagai contoh Tc-99m memiliki waktu paroh fisika sekitar 6 jam, tidak toksik (beracun) dan persyaratan lainnya. Radioisotop ini sangat membantu dokter untuk melacak pergerakan serta konsentrasi zat tertentu dalam tubuh, memfasilitasi diagnosis penyakit seperti kanker, penyakit jantung, dan gangguan neurologis. Untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan radioisotop ini diberi semacam penanda sehingga dapat langsung menuju bagian yang diinginkan, sehingga dinamakan dengan Radiofarmaka.

Radiofarmaka dimasukkan kedalam tubuh secara intravena atau dapat juga dihirup oleh pasien kemudian SPECT Scan melakukan deteksi berdasarkan radiasi yang dipancarkan oleh radiofarmaka. Distribusi radiofarmaka di dalam tubuh dapat mendiagnosa kelainan pada organ, citra yang dihasilkan SPECT Scan akan dibaca oleh Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir dan diagnosa dokter dapat ditegakkan dengan tepat (Sumber Gambar: shutterstock)

Radioisotop juga dimanfaatkan dalam terapi radiasi untuk mengobati kanker dan kondisi medis lainnya, yang dikenal sebagai radioterapi. Contoh penggunaannya meliputi Iodine-131 untuk terapi kanker tiroid, serta Strontium-89 atau Samarium-153 untuk terapi metastasis tulang.

Penggunaan radioisotop juga melibatkan sterilisasi peralatan medis dan farmasi, di mana radioisotop seperti Cobalt-60 digunakan untuk memusnahkan mikroorganisme patogen dan mikroba lainnya, menjaga keamanan peralatan medis selama prosedur medis.

Dalam kegiatan penelitian, radioisotop membantu melacak reaksi biologis, melakukan studi farmakokinetika, serta meningkatkan pemahaman tentang proses biologis dalam tubuh manusia. Hal ini mendukung pengembangan obat-obatan baru dan teknologi medis.

Penggunaan radioisotop memerlukan pengaturan yang ketat demi menjaga keselamatan pasien, personel medis, dan lingkungan. Oleh karena itu, perlu menerapkan prosedur dan peralatan yang tepat guna menghindari paparan radiasi berlebihan.

Saat ini di Indonesia diagnostik dan terapi menggunakan radioisotop terus berkembang, salah satu yang perlu dipersiapkan adalah sumber daya manusia untuk mendukung pemanfaatan teknologi ini tepat guna dan tidak menimbulkan resiko bahaya. Salah satu komponen penting terkait itu adalah keberadaan Fisikawan Medis di Rumah Sakit.

Apa tugas dan tanggung jawab seorang Fisikawan Medis?

Fisikawan Medis bertanggung jawab untuk memastikan penggunaan teknologi nuklir secara aman dan efektif dalam diagnosis dan terapi pasien. Peran utama fisikawan medis dalam kedokteran nuklir diantaranya:

Pemeliharaan dan Kalibrasi Peralatan: Fisikawan medis bertanggung jawab untuk memastikan bahwa peralatan nuklir seperti PET scan, SPECT scan, dan alat pencitraan lainnya beroperasi dengan benar. Mereka melakukan pemeliharaan rutin, kalibrasi, dan pengujian kualitas untuk memastikan bahwa peralatan memberikan hasil pencitraan yang akurat.

Kontrol Dosis Radiasi: Fisikawan medis memonitor dosis radiasi yang diterima oleh pasien selama prosedur nuklir. Mereka merancang protokol pencitraan dan terapi yang meminimalkan paparan radiasi pasien sambil tetap memastikan gambaran yang jelas dan efektif.

Pengembangan Teknik Baru: Fisikawan medis terlibat dalam pengembangan teknik pencitraan dan terapi nuklir baru. Mereka melakukan penelitian untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas pencitraan, serta untuk mengembangkan terapi radiasi yang lebih efektif dan terarah.

Pada artikel yang akan datang kita akan membahas terkait bagaimana cara untuk menjadi seorang fisikawan medis yang diakui oleh pemerintah atau dapat bekerja di rumah sakit atau instansi lain yang membutuhkan.***