Konten dari Pengguna

Mahasiswa Beban Akademik: Gobloknya Dipelihara, Malunya ke Mana?

Ramadhan Hidayat

Ramadhan Hidayat

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muahammadiyah Malang 2022.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ramadhan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi mahasiswa berarti memikul tanggung jawab, bukan hanya mengejar nilai, tetapi juga membangun integritas. Namun mirisnya, masih banyak mahasiswa yang justru membebankan tugas-tugas akademiknya kepada orang lain, seperti UTS dan UAS. Sikap ini tidak hanya menunjukkan kemalasan, tetapi juga kurangnya rasa tanggung jawab serta adab dan norma jika tidak menghargai banyak orang terutama si pembuat tugas.

Pendidikan vs Kebodohan. Foto: Maria Vonotna/istochkphoto.com
zoom-in-whitePerbesar
Pendidikan vs Kebodohan. Foto: Maria Vonotna/istochkphoto.com

Keikhlasan Bukan Pembenaran

Sering kali alasan “toh dia ikhlas membantu” dijadikan tameng. Padahal, keikhlasan pemberi bukan alasan untuk mengabaikan norma menghargai. Menganggap kebaikan orang lain sebagai hal biasa menunjukkan minimnya adab dan empati.

“Ikhlas bukan berarti bebas dari kewajiban menghargai. Setiap usaha dan waktu yang diberikan tetap berhak mendapat penghormatan.”

Mahasiswa yang bermoral seharusnya memahami bahwa tugas akademik adalah tanggung jawab pribadi, bukan untuk dibebankan kepada orang lain dengan alasan apa pun.

“Mahasiswa Beban Akademik: Di Mana Rasa Malu?”

Dampak Perilaku Ini

1. Bagi Si Pelaku:

Ilutasi Mahasiswa menjadi Beban dalam Dunia Kerja. Foto: A Mokhtari/istochkphoto.com
  • Mentalitas Lemah: Perilaku ini menciptakan kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan. Jika Anda terbiasa mencari jalan pintas, apa yang akan Anda lakukan di dunia kerja saat harus menghadapi tantangan nyata? Orang yang terbiasa menghindari tanggung jawab dengan kebodohannya seperti ini akan terus menjadi beban, bukan solusi.

  • Harga Diri Rendah: Dalam hati kecil Anda, pasti ada rasa malu karena sebenarnya anda tidak tau apa-apa. Ini hanya akan mengikis harga diri Anda dan membuat Anda merasa semakin tidak berharga.

  • Beban di Dunia Kerja: Lebih jauh lagi, mahasiswa dengan kebiasaan seperti ini akan menjadi beban dalam dunia kerja. Ketika tugas akademik saja tidak bisa diselesaikan sendiri, bagaimana mungkin mereka mampu menghadapi tuntutan dan tekanan dunia kerja yang jauh lebih kompleks? Rekan-rekan kerja atau perusahaan akan merasa dirugikan dengan keberadaan mereka yang tidak mampu bekerja secara mandiri dan selalu bergantung pada orang lain.

2. Bagi Institusi Akademik:

  • Masalah Originalitas Tugas: Kampus dirancang untuk menghasilkan karya akademik yang orisinal. Namun, fenomena seperti ini menciptakan budaya tugas palsu yang mengurangi nilai akademik itu sendiri. Tugas yang seharusnya menjadi alat evaluasi berubah menjadi alat manipulasi. Hal ini mencoreng integritas institusi akademik, yang pada akhirnya akan memengaruhi kepercayaan publik terhadap kualitas pendidikan di kampus tersebut.

  • Degradasi Adab dan Norma Kampus: Salah satu misi utama institusi pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai etika, adab, dan tanggung jawab. Ketika mahasiswa membiasakan diri melanggar norma ini, budaya akademik yang sehat akan tergantikan oleh praktik-praktik tidak etis seperti ini. Kampus bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi juga tempat belajar moral, dan perilaku seperti ini bertentangan dengan tujuan itu.

  • Citra Kampus yang Tercoreng: Jika praktik semacam ini terus berlanjut, lulusan dari institusi tersebut akan dianggap tidak kompeten oleh masyarakat dan dunia kerja. Citra kampus sebagai institusi pendidikan berkualitas menjadi ternoda karena dianggap gagal menanamkan integritas dan tanggung jawab kepada para mahasiswanya.

“Perilaku selama kuliah mencerminkan bagaimana seseorang akan berkontribusi di dunia kerja. Ketika nilai tanggung jawab diabaikan, dampaknya akan dirasakan tidak hanya oleh diri sendiri, tetapi juga oleh lingkungan kerja yang menjadi korban sikap tidak kompeten tersebut.”

Orang yang tidak menghargai usaha orang lain sering kali merasa dirinya paling hebat. Mereka bertindak seolah-olah tugas yang mereka titipkan adalah hak yang wajib dilayani. Sikap semena-mena ini tidak hanya merusak hubungan antarindividu, tetapi juga mencerminkan kurangnya integritas.

Lebih buruk lagi, saat tugas akademik menjadi tanggung jawab Anda, alih-alih menyelesaikannya, Anda malah memilih bersikap acuh tak acuh. Bermain game, tidur sepanjang hari, atau mengabaikan tanggung jawab menunjukkan bahwa bukan tugas itu yang berat, tetapi mentalitas Anda yang lemah.

“Jika Anda merasa berhak memperlakukan orang lain sesuka hati, bahkan pada hal sekecil tugas akademik, maka yang Anda bangun bukanlah prestasi, melainkan kesombonganm bahkan ketololan tanpa dasar.”

Sikap seperti ini hanya akan membuat seseorang kehilangan rasa hormat dari orang-orang di sekitarnya. Tidak ada yang lebih rendah dari mereka yang merasa hebat di atas perjuangan orang lain.

Refleksi: Mahasiswa atau Beban Akademik?

Ilustrasi Mahasiswa tidak boleh bodoh. Foto: LuckyBusiness/istochkphoto.com

Mahasiswa sejati adalah mereka yang menjunjung tinggi nilai-nilai tanggung jawab dan adab. Jika Anda merasa nyaman membiarkan orang lain bekerja keras untuk tugas Anda, pertanyakan kembali apakah Anda masih layak disebut mahasiswa?

“Mahasiswa bukan hanya sekadar status atau gelar. Itu adalah panggilan untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mandiri, dan menjunjung integritas. Nilai yang Anda dapatkan dari hasil usaha sendiri akan jauh lebih bermakna daripada sekadar angka di transkrip yang diraih dengan cara tidak terhormat, lebih jauh lagi anda harus memahami bahwa Nilai Adab Lebih Tinggi daripada Nilai Akademik.”

Sudah saatnya setiap mahasiswa memahami, tugas akademik bukan sekadar kewajiban, tetapi juga cerminan karakter. Jika Anda tidak menghargai, merasa hebat, bersikap semena-mena, dan malah memilih mengabaikan tanggung jawab dengan bermain game atau tidur, maka yang hilang bukan hanya rasa tanggung jawab, tetapi juga penghormatan dari orang-orang di sekitar Anda, jangan sampai dampak buruk yang lebih besar akan datang.