Sidang Skripsi di UNNES: Ilmiah yang Bergeser Jadi Gimmick

Mahasiswa S1 Ilmu Politik di Universitas Negeri Semarang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ramanda Bima Prayuda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dahulu, sidang skripsi dianggap sebagai momen sakral yang membuat mahasiswa berdebar lebih hebat dibanding menyatakan perasaan kepada gebetan. Namun kini, di Universitas Negeri Semarang (UNNES), nuansa itu mulai bergeser. Sidang skripsi lebih menyerupai sesi pemotretan daripada forum ilmiah. Mahasiswa tampil rapi dengan jas licin yang disetrika sempurna, menggenggam buket bunga, dan berpose penuh gaya di depan kamera. Terkadang juga lebih dipersiapkan dibanding isi presentasinya.
Pihak kampus pun tampak antusias. Angka kelulusan melonjak, akreditasi meningkat, semua tampak berjalan baik. Namun di balik euforia itu, ada satu hal yang kian memudar yaitu esensi dari skripsi itu sendiri. Skripsi perlahan menjauh dari maknanya sebagai proses intelektual, bergeser menjadi ajang perlombaan untuk lulus secepat mungkin dan tampil seestetik mungkin di linimasa media sosial.
Inilah realitas di UNNES hari ini, di mana sidang skripsi menjadi konten harian yang menarik perhatian, sementara proses akademik hanya menjadi latar yang perlahan terlupakan.
Skripsi Cepat Esensi Lewat
Sidang akhir di UNNES kini lebih menekankan kecepatan daripada kedalaman. Fokusnya bukan lagi pada kualitas argumen atau proses berpikir ilmiah, melainkan seberapa cepat mahasiswa bisa menyelesaikan tugas akhir dan meraih toga. Alternatif seperti artikel ilmiah kian diminati karena dianggap lebih ringkas dan efisien, cukup satu-dua bimbingan, revisi seperlunya, lalu tayang di jurnal. Dalam skema ini, dosen pembimbing tak ubahnya pengecek dokumen, dan proses bimbingan lebih menyerupai formalitas administratif.
Fenomena ini dirayakan semua pihak. Mahasiswa senang cepat lulus, kampus bangga grafik kelulusannya naik, dan orang tua lega tak lagi membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Namun di balik itu, proses intelektual perlahan memudar. Banyak yang lulus tanpa sempat benar-benar meneliti atau merenung. Selama artikel bisa tayang, PDF bisa diunggah, dan feed instagram penuh foto bunga dan caption haru, maka esensi akademik bukan lagi prioritas. Di UNNES, tugas akhir cukup cepat, rapi, dan instagramable.
Panggung Estetik Bernama Sidang Skripsi
Fenomena sidang skripsi di UNNES kini mencerminkan transformasi wajah dunia akademik yang kian berorientasi visual. Forum yang semestinya menjadi ruang uji pemikiran ilmiah telah bergeser menjadi panggung selebrasi simbolik. Tradisi membuat MMT kelulusan bersama satu lingkaran pertemanan menjadi bukti nyata pergeseran ini. Nama-nama disusun rapi dalam desainnya, lokasi dokumentasi dipilih bukan karena relevansi akademik, melainkan karena estetika latar. Kelulusan tak lagi semata hasil dari proses intelektual, melainkan peristiwa publik yang ditata agar layak tampil di media sosial.
Perubahan ini berlangsung tanpa banyak pertanyaan atau resistensi. Proses ilmiah memang masih berlangsung, namun tertutupi oleh narasi visual yang lebih menarik perhatian publik. Maka, ketika sidang skripsi lebih dikenang lewat foto dan estetika, kita layak merenung “apakah pencapaian akademik kini benar-benar dirayakan, atau justru dikemas ulang sebagai pertunjukan visual belaka?”
Wisuda sebagai Klimaks dari Segalanya
Setelah sidang skripsi berlalu, euforia konten justru menemukan momentum klimaksnya pada hari wisuda. Momen yang seharusnya menjadi puncak perjalanan akademik kini menjelma menjadi panggung selebrasi visual yang megah. Wisuda bukan lagi semata seremoni kelulusan, melainkan festival simbolik di mana mahasiswa tampil layaknya selebriti kampus, lengkap dengan jubah toga, sepatu hak tinggi, riasan maksimal sejak subuh, dan pose-pose strategis di bawah lampu sorot. Ruang akademik yang dahulu menjadi pusat perhatian kini bergeser ke latar, tergantikan oleh backdrop panggung, dekorasi bunga, dan kamera yang tak henti menyorot. Tak sedikit yang lebih hafal jadwal sesi foto bersama keluarga dibandingkan susunan acara resmi, apalagi nama-nama tokoh akademik yang hadir di podium.
Tak berhenti di situ, persiapan pun dirancang sedetail mungkin. Outfit dua lapis disiapka, toga untuk prosesi resmi, busana stylish untuk sesi foto bebas. Fotografer profesional diboyong sejak pagi, lengkap dengan properti seperti balon helium, papan ucapan, dan buket bunga dalam jumlah yang cukup untuk mengisi galeri unggahan Instagram selama seminggu penuh. Semua itu dilakukan demi menghasilkan satu konten wisuda yang estetik, menyentuh, dan tentu saja menggugah komentar, “Kok cepet banget sih lulusnya?” Ironisnya, yang dirayakan bukan lagi proses intelektual atau capaian ilmiah, melainkan kemasan visual dan respons publik. Maka, ketika substansi akademik tersisih oleh narasi estetik, kita patut bertanya ulang “apakah yang dirayakan benar-benar kelulusan, atau sekadar pencitraan?” Jika esensi perkuliahan bisa dilupakan asal kontennya maksimal, maka tak berlebihan jika kita menyebutnya “Inilah era kampus sebagai studio, dan UNNES tampaknya menjadi salah satu yang paling aktif memproduksi narasinya.”
Ramanda Bima Prayuda
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang
