Konten dari Pengguna

Berdamai dengan Rasa Bosan

Ramdan Maulana

Ramdan Maulana

Mahasiswa UIN Bandung Program Studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik Semester 3

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ramdan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berdamai dengan rasa bosan. Sumber foto: https://www.freepik.com/free-photo/medium-shot-man-laying-grass_19905439.htm#fromView=search&page=1&position=18&uuid=2fb68f16-90b5-4c13-9653-7170ff9d2ba2&query=Feeling+serenity
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berdamai dengan rasa bosan. Sumber foto: https://www.freepik.com/free-photo/medium-shot-man-laying-grass_19905439.htm#fromView=search&page=1&position=18&uuid=2fb68f16-90b5-4c13-9653-7170ff9d2ba2&query=Feeling+serenity

Berdamai dengan rasa bosan rasanya sulit untuk dilakukan di era digital ini. Ketika kita mulai merasakan kebosanan beberapa menit saja, kita cenderung mendistraksi atau mengalihkannya dengan membuka ponsel kita.

Ponsel kita memiliki banyak sumber kesenangan atau kebahagian instan yang membuat kita tidak bisa fokus untuk merasakan kebosanan tersebut.

Padahal, rasa bosan tidak selalu memberikan suasana hampa. Rasa bosan dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan refleksi atau mengenal diri.

Dalam sebuah penjelasan singkat dari seorang profesor Harvard, Arthur C. Brooks, melalui kanal YouTube Harvard Bussiness Review, menjelaskan bahwa kebosanan merupakan kesempatan untuk mengetahui makna hidup atau tujuan hidup kita.

Ia menjelaskan bahwa saat kita berada dalam fase bosan, di saat itulah otak akan memasuki default mode. Ia menjelaskan bahwa mode tersebut adalah momen di mana otak secara otomatis mulai memikirkan hal-hal yang membuat kita tidak nyaman.

Sebagai contoh, ketika mode tersebut aktif akan muncul pertanyaan-pertanyaan, seperti "apa makna hidup ini?" dan "apa arti dari hidupku ini?". Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita tidak nyaman, karena mungkin kita sendiri tidak mengetahui jawabannya. Itulah sebabnya mengapa kita cenderung menghindari kebosanan.

Namun, jika kita terus mengabaikan kebosanan tersebut sebagai ruang refleksi, maka kita akan semakin kesulitan mengenal diri atau mengenal makna kehidupan kita. Dengan kata lain, mungkin kita akan semakin tersesat.

Maka, tidak heran terdapat banyak orang yang mengalami depresi dan kecemasan di era digital ini, mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya ruang untuk melakukan refleksi dan evaluasi melalui kebosanan.

Oleh karena itu, cobalah untuk terbiasa dalam situasi bosan. Cobalah diam sejenak untuk melakukan refleksi dan evaluasi di setiap detik dalam kebosanan.

Mungkin, kita tidak perlu melawan rasa bosan. Kita hanya perlu berdamai dengannya.