Jujur Tapi Merugi: Kenapa Bertindak Jujur Sulit Dilakukan?

Mahasiswa UIN Bandung Program Studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik Semester 3
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ramdan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bertindak atau berperilaku jujur rasanya sangat sulit dilakukan. Seringkali seseorang yang bertindak jujur selalu merugi. Hingga lama-kelamaan saya sering bertanya pada diri sendiri, apakah kejujuran sudah tidak relevan di zaman ini?
Pertanyaan tersebut tidak serta-merta muncul tanpa alasan. Pertanyaan tersebut muncul sebagai reaksi dari kondisi realitas kehidupan saat ini yang penuh dengan kecurangan atau kebohongan di berbagai sektor kehidupan.
Manusia memang sering dihadapi dengan pilihan yang sulit. Dari pilihan sulit ini, tidak jarang mereka memilih jalan curang demi melewati rintangan tersebut dengan mudah. Misalnya ketika sedang melaksanakan ujian sekolah. Tidak dapat dipungkiri kejadian seperti menyontek demi mendapatkan nilai tinggi sering terjadi.
Hingga seseorang yang bertindak jujur rasanya seperti sedang membawa lilin dengan api kecilnya di tengah terpaan angin kencang. Rasanya berat sekali mempertahankan kejujuran di tengah kecurangan yang melanda di lingkungan sekitar.
Patut diakui bahwa ketika bertindak jujur seseorang sering mengalami kerugian, penyesalan, dan kegagalan. Hal ini karena bertindak jujur bukan jalan yang mudah untuk ditempuh. Butuh integritas dan mental yang kuat untuk berperilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.
Walaupun begitu, bukan berarti kejujuran sudah tidak relevan lagi. Seseorang yang bertindak jujur mungkin akan merugi di saat ini, tetapi di masa depan akan mendatangkan berbagai manfaat yang tak disangka-sangka.
Kita tarik kembali contoh kasus ujian sekolah. Ketika orang lain mendapatkan nilai lebih tinggi dari kita, boleh jadi di masa depan orang tersebut akan kesulitan menghadapi ujian masuk perguruan tinggi karena terbiasa menggunakan jalan curang.
Sedangkan, kita yang mengambil jalan atau cara yang jujur, mungkin mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, tetapi boleh jadi di masa depan mental dan pengetahuan kita sudah terbentuk untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi karena sudah terbiasa mengambil jalan yang jujur.
Pola seperti ini berlaku di berbagai sektor kehidupan, baik dalam pekerjaan, kehidupan sosial, maupun sektor kehidupan lainnya.
Oleh karena itu, marilah tanamkan sekaligus pertahankan sifat dan perilaku jujur di kehidupan sehari-hari. Mungkin manfaatnya tidak akan terasa saat ini, tetapi akan terasa di masa depan. Ini karena tidak semua hal baik selalu datang dengan cepat. Terkadang hal baik membutuhkan waktu dan usaha yang bertahap agar dapat terasa manfaatnya.
