Mulai Aja Dulu: Cerita Menekuni Dunia Fotografi

Mahasiswa UIN Bandung Program Studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik Semester 3
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ramdan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerita Awal Menekuni Fotografi
Dulu saya sering berpikir jika memulai sesuatu, maka memerlukan sesuatu yang lengkap dan terencana. Salah satunya ketika saya memutuskan untuk menekuni dunia fotografi.
Pada awalnya saya berpikir harus memiliki perlengkapan yang sempurna untuk menekuni fotografi. Saya harus memakai kamera dan lensa yang mahal dengan spesifikasi tinggi agar mampu menghasilkan foto yang ciamik dan berkualitas.
Selain itu, saya juga berpikir kamera smartphone tidak bisa menghasilkan foto yang berkualitas. Kamera smartphone memang tidak memiliki fitur atau spesifikasi sebaik kamera profesional.
Namun, semua pola pikir tersebut pada akhirnya luntur dari kepala saya berkat keterbatasan yang saya miliki. Saya memiliki keterbatasan finansial untuk membeli kamera impian saya yang harganya sangat mahal.
Setelah sadar akan keterbatasan tersebut, saya "mulai aja dulu" dengan barang seadanya, yaitu dengan menggunakan smartphone.
Saya mulai belajar teori dan praktik dasar fotografi, seperti segitiga exposure, rule of thirds, pengambilan angle, color theory, cara menaruh lighting, dan lain-lainnya di internet.
Selain itu, saya juga belajar pengeditan foto menggunakan software Adobe Lightroom (mobile) untuk memaksimalkan kualitas foto dari smartphone saya.
Setelah itu, saya mulai memberanikan diri untuk melakukan hunting foto di berbagai tempat dengan hanya bermodalkan smartphone. Memaksimalkan momen sekitar dan perangkat yang ada.
Walaupun kamera smartphone tidak memiliki spesifikasi sebagus kamera profesional, tetapi setelah menekuninya selama setahun lebih, saya mampu menghasilkan foto yang ciamik dan tidak kalah bagus dengan kamera profesional.
Saya juga mulai membangun akun TikTok yang berisikan proses pengeditan dan hasil dari foto saya. Ini dilakukan untuk menabung portofolio sekaligus menyebarkan kebermanfaatan kepada orang banyak.
Pelajaran yang Dapat Dipetik
Keterbatasan tidak selalu buruk dan menjadi simbol kekurangan. Keterbatasan mampu membuat kita memaksimalkan potensi diri dan memaksimalkan apa yang dimiliki.
Terdapat kompensasi yang didapatkan berkat keterbatasan. Misalnya, Karena finansial yang terbatas untuk membeli kamera, membuat saya memaksakan diri memanfaatkan barang seadanya (smartphone dan lighting), sehingga kreatifitas saya terlatih dan mampu mencapai potensi sebaik-baiknya. Dan, ini belum tentu didapatkan jika dari awal saya sudah memiliki perlengkapan yang proper dan mahal.
Setelah melewati semua proses ini, saya tersadarkan bahwa untuk memulai sesuatu tidak harus sempurna. Hasil yang baik akan beriringan dengan proses yang bertahap. Oleh karena itu, saya bersyukur bisa terus berproses dengan barang seadanya dulu. Semoga di lain kesempatan, saya bisa membeli kamera dan perlengkapan lainnya yang saya inginkan.
