Konten dari Pengguna

Pertengkaran Orang Tua: Luka Mental Bagi Sang Anak

Ramdan Maulana

Ramdan Maulana

Mahasiswa UIN Bandung Program Studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik Semester 3

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ramdan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/side-view-sad-boy-sitting-indoors_30268122.htm#fromView=search&page=1&position=21&uuid=ac7f17b6-8dc0-4d16-9630-1047cd91a0d9&query=Depressed+child
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/side-view-sad-boy-sitting-indoors_30268122.htm#fromView=search&page=1&position=21&uuid=ac7f17b6-8dc0-4d16-9630-1047cd91a0d9&query=Depressed+child

Pertengkaran dalam hubungan rumah tangga merupakan sesuatu yang lumrah terjadi. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orangtua pasti telah atau akan mengalaminya. Namun, banyak orangtua yang tidak peka terhadap situasi sekitar saat bertengkar. Mereka bisa secara lugas saling melontarkan perkataan dengan nada tinggi, berkata kasar, bahkan sampai menggunakan kekerasan, tanpa memikirkan perasaan sang anak yang sedang menyaksikan atau mendengarnya. Peristiwa ini sering dianggap biasa saja, tapi dampaknya bisa serius bagi anak.

Secara tidak sadar, pertengkaran orangtua di depan anak merupakan bentuk kekerasan emosional yang sering diabaikan. Pertengkaran tersebut dapat menyerang mental dan fisik anak yang dapat menimbulkan berbagai dampak buruk. Dilansir dari situs Alodokter, rasa cemas, depresi, stres, sakit kepala, dan kesulitan bersosialisasi merupakan beberapa diantara dampak buruk tersebut.

Sungguh kasihan seorang anak yang mengharapkan kasih sayang, perlindungan, dan kehangatan dari kedua orangtuanya malah mendapatkan sebaliknya. Ini bisa memicu tindakan-tindakan berontak sebagai bahan pelarian bagi anak, seperti tawuran, perundungan, mabuk-mabukan, dan lain-lain. Alih-alih menjadi generasi yang bermanfaat bagi negara dan dunia, mereka malah menjadi generasi yang destruktif. Tentu ini sangat mengkhawatirkan. Berawal dari konflik rumah tangga yang ditimbulkan orangtua, berujung pada aksi destruktif di luar rumah.

Anak tidak ingin mengetahui apapun masalah yang sedang dihadapi kedua orangtuanya. Mereka hanya ingin kedua orangtuanya berinteraksi dengan damai dan harmonis. Mereka hanya ingin kehidupan keluarganya dipenuhi dengan kasih sayang. Oleh karena itu, marilah bagi orangtua untuk menghadapi masalah dengan bijak. Sebab, perkataan negatif orangtua yang menyayat hati sang anak akan menjadi luka batin yang berkepanjangan.