Konten dari Pengguna

Childish atau Investasi Mental? Mengapa Memenuhi Inner Child itu Penting?

Rana Fathya Raseuki

Rana Fathya Raseuki

Mahasiswi Psikologi Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rana Fathya Raseuki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Normal gak sih kalo aku masih suka main ayunan atau perosotan, padahal aku udah dewasa? Aku ngerasa senang setiap kali bisa main, tapi teman-temanku bilang kalo aku childish”.

Sumber: Pinterest (AI Illustration by Göktug)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pinterest (AI Illustration by Göktug)

Ya! Dunia psikologi justru membuktikan bahwa itu hal yang normal dan sangat dimengerti. Carl Jung, psikolog asal Swiss, memperkenalkan istilah “inner child” pertama kali, yaitu sosok anak kecil yang bersemayam dalam diri seseorang. Ini menunjukkan bahwa usia dewasa sama sekali tidak menentukan ukuran ketiadaan jiwa kekanak-kanakan pada diri seseorang.

Seiring berkembangnya ilmu psikologi, juga muncul isitlah “inner child trauma”, yaitu permasalahan trauma di masa kecil yang belum dituntaskan dan juga belum berdamai, yang akan memengaruhi kemampuan berinteraksi sosial seseorang pada saat dewasa.

Lalu, bagaimana inner child dan inner child trauma itu muncul? Inner child biasanya muncul ketika terdapat kondisi yang belum terpenuhi saat masa kecil, seperti kebutuhan makan enak dan menyenangkan atau keinginan membeli pakaian modis yang mahal. Kondisi ini sering disebabkan oleh faktor ekonomi orangtua yang tidak memadai.

Sedangkan salah satu sumber utama inner child trauma yang paling umum terjadi adalah parenting trauma, yaitu pola asuh orangtua yang menyebabkan seseorang mengalami trauma saat kecil. Sementara itu, inner child yang berhubungan dengan pola pengasuhan orangtua, lebih berfokus pada istilah mother hunger dan father hunger.

Father hunger, kondisi ketika anak merasakan tekanan psikologis karena ketiadaan figur seorang ayah. Seorang perempuan dewasa yang merasakan father hunger saat kecil cenderung merasa haus akan kasih sayang dari bapak-bapak, selalu ingin diperhatikan, dan sering terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

Kondisi ini memengaruhi proses pernikahan di masa depan, seperti terjadi confirmation bias dalam proses memilih dan menerima pasanagan. Saat seseorang sudah meyakini satu hal, mereka cenderung hanya meyakini hal itu dan juga hanya mencari bukti yang berkaitan dengan hal tersebut. Tidak ada celah yang bisa dimasuki untuk meyakini hal-hal buruk lainnya.

Begitupun dengan mother hunger, laki-laki dewasa yang tidak terlalu dekat dam tidak mendapatkan kasih sayang sebagaimana mestinya dari sosok ibunya cenderung salah memilih pasangan hidup di masa depan. Mereka akan mempunyai kecenderungan melihat sosok ibu dan secara tidak sadar mencari karakter perempuan yang memiliki kemiripan dengan ibunya. Tentunya ini mengarah kepada hubungan yang tidak sehat (toxic relationship).

Berdamai dengan inner child yang terluka dapat dilakukan dengan reparenting diri sendiri. Dimulai dengan mengidentifikasi emosi yang belum selesai, fokus pada perbaikan emosi tersebut, dan tidak lupa diakhiri dengan mengapresiasi perkembangan diri yang sudah dilalui sebelumnya.

Ketika inner child berhubungan dengan peristiwa yang terlalu berat, seperti pelecehan dan peninggalan oleh orang tua secara tiba-tiba, dibutuhkan sosok psikolog untuk membantu mereka mengidentifikasi dan keluar dari permasalahan trauma tersebut. Psikolog mempunyai banyak tools yang berbeda-beda dan dapat disesuaikan dengan keunikan dinamika setiap klien terhadap kondisi psikologis mereka.

Menyadari dan menyembuhkan inner child adalah langkah awal untuk memutus rantai trauma. Bacaan literasi di sosial media memang terasa mampu untuk mengedukasi permasalahan inner child, tetapi tidak untuk mengasumsikannya secara pribadi (self-diagnose). Ini bisa menyebabkan kondisi mental yang akan selalu merasa menjadi korban (playing victim) dan mengakibatkan diri seseorang untuk tidak bisa maju mencapai seluruh mimpi mereka saat ini dan masa yang akan datang.

Salah satu hal yang dapat membantu seseorang untuk mencapai segala mimpi besar mereka yaitu dengan menjaga kesehatan mental, seperti rutin melakukan self-love dan self-care melalui mental health check-up terutama mengenai hal yang berkaitan dengan inner child. Hal ini tentu dilakukan agar seseorang mengetahui tingkat inner child dalam diri mereka dan dapat memperbaiki diri, menjadi seseorang yang lebih produktif, dan menjalani hari dengan lebih bahagia.

Jadi, kalo lain waktu ada yang mengatakan kalo kamu childish, kasih tau mereka kalo itu merupakan investasi kesehatan mentalmu, sepakat?