Konten dari Pengguna

Monyet Ekor Panjang dan Cermin Ekologi Kita

Randi Syafutra

Randi Syafutra

Dosen Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Kandidat Doktor PSL IPB University, & Pendiri TERRA Indonesia

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Randi Syafutra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak ada cermin yang lebih jujur dibandingkan dengan alam. Segala yang kita lakukan padanya akan kembali memantul, baik sebagai anugerah maupun sebagai peringatan. Salah satu cermin itu kini menatap kita dengan mata lebar, tajam, dan penuh tanda tanya. Ia adalah Macaca fascicularis 'monyet ekor panjang', satwa yang dulu begitu akrab di tepian desa, pinggir kebun, pura Bali, bahkan di pusat-pusat penelitian medis. Ironi zaman kita terletak pada kenyataan bahwa satwa yang begitu dekat dengan manusia kini justru ditetapkan oleh IUCN pada 2022 sebagai spesies berstatus genting atau endangered setelah populasinya anjlok lebih dari 40% dalam empat dekade terakhir.

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) © 2011 Rana Pipiens [https://www.flickr.com/photos/87453322@N00/6572516213]
zoom-in-whitePerbesar
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) © 2011 Rana Pipiens [https://www.flickr.com/photos/87453322@N00/6572516213]

Monyet ekor panjang adalah primata yang sangat adaptif. Dengan ekor sepanjang tubuhnya, ia piawai melompat dari satu cabang ke cabang lain, lihai memanjat, cerdas memecahkan persoalan sederhana, dan oportunis dalam mencari makanan. Ia mampu bertahan hidup di berbagai ekosistem, mulai dari hutan mangrove, pegunungan, ladang, hingga permukiman manusia, membuat sebagian orang menganggap ia tidak akan pernah punah.

Namun, kemampuan beradaptasi itu kini menjadi pedang bermata dua. Makin sempitnya hutan membuat monyet mencari makanan di kebun dan rumah warga. Setiap kali hal itu terjadi, label “hama” menempel padanya. Padahal, jika kita mau jujur, monyet datang ke halaman kita bukan karena ia berubah menjadi rakus, melainkan karena kita yang pertama kali merampas rumahnya.

Di Yogyakarta, fenomena ini terlihat jelas. Populasi monyet ekor panjang di Gunungkidul dan sekitarnya makin sering menyeberang jalan, masuk ladang, merusak jagung, dan bahkan masuk ke pekarangan rumah. Jalan Lintas Selatan yang membelah habitat, pembangunan kawasan wisata baru, dan penyempitan ruang hijau memaksa mereka mencari sumber makanan alternatif.

Bagi petani, kehadiran monyet berarti kerugian ekonomi. Bagi warga desa, monyet berarti ancaman keselamatan. Namun, jika kita mundur sejenak, bagi monyet, manusia merusak ruang hidup mereka. Konflik ini mencerminkan kegagalan kita membaca pesan ekologi bahwa hutan dan satwa liar adalah satu kesatuan yang tidak bisa terus-menerus kita tekan tanpa konsekuensi.

Di Sumatera, kisah serupa berulang. Video yang beredar di media sosial menunjukkan monyet turun ke pasar tradisional, mengais sampah, dan sesekali menyerang orang yang membawa makanan. Beberapa bulan lalu, seorang tukang becak di Tanjung Balai luka parah karena gigitan monyet. Aparat akhirnya menembak mati satwa itu demi melindungi warga. Tindakan ini mudah dipahami sebagai upaya menjaga keamanan, tetapi juga sebagai potret kegagalan kita sebagai pengelola ruang hidup. Seekor monyet yang tersesat di ruang manusia sesungguhnya membawa kabar duka dari hutan yang sudah kehilangan daya dukung.

Bali memberi kita cermin lain. Di Pura Uluwatu, Sangeh, dan Monkey Forest Ubud, monyet ekor panjang menjadi bagian dari pariwisata. Ribuan turis datang setiap tahun, membayar tiket, memberi makan, dan berfoto. Ekonomi bergerak—masyarakat lokal mendapat keuntungan—tetapi pada saat yang sama, monyet belajar bergantung pada pemberian manusia.

Ilustrasi monyet ekor panjang. Foto: Patrik Lumintu/Shutterstock

Ketika pandemi Covid-19 melanda dan jumlah turis anjlok, monyet-monyet di Monkey Forest kehilangan sumber makanan instan. Mereka kembali merambah sawah dan kebun serta menambah daftar panjang konflik satwa dan manusia. Pariwisata yang tidak dikelola dengan visi ekologi justru menjebak monyet dalam ketergantungan artifisial sekaligus menciptakan masalah baru ketika situasi krisis datang.

Lebih ironis lagi, Indonesia tercatat sebagai salah satu pemasok terbesar monyet ekor panjang untuk pasar internasional. Dalam kurun 2010—2019, ratusan ribu ekor monyet diekspor; sebagian besar untuk kebutuhan penelitian medis, termasuk pengembangan vaksin pada masa pandemi.

Dunia riset global memandang monyet sebagai komoditas laboratorium. Sementara itu, masyarakat lokal memandangnya sebagai hama kebun. Dua persepsi yang berbeda, tetapi sama-sama mengabaikan nilai intrinsik monyet sebagai bagian dari ekosistem. Inilah paradoks yang ditunjukkan cermin ekologi: kita hanya menilai satwa sejauh manfaatnya bagi manusia, entah sebagai pemasok data medis atau sebagai musuh yang harus dibasmi.

Dalam budaya Nusantara, monyet sebenarnya tidak pernah dipandang sebatas binatang pengganggu. Dalam kisah Ramayana, Hanoman adalah simbol kesetiaan dan keberanian. Dalam tradisi Bali, monyet di sekitar pura dianggap bagian dari harmoni kosmik.

Namun, narasi-narasi itu perlahan terpinggirkan oleh modernitas yang lebih sering menyematkan label negatif pada satwa liar. Lahan yang semakin sempit dan ekonomi yang semakin rakus membuat masyarakat lupa bahwa monyet adalah indikator ekologi. Turunnya monyet ke sawah menandakan kondisi hutan di belakang desa yang sudah tidak lagi menyediakan cukup pakan. Bila ia merambah kota, berarti ruang hijau yang kita miliki perlahan-lahan habis.

Persoalan ini semakin kompleks karena secara hukum monyet ekor panjang di Indonesia masih belum mendapat perlindungan. Statusnya hanya diatur lewat kuota tangkapan dan masuk dalam Appendiks II CITES. Padahal, secara global ia sudah dinyatakan genting oleh IUCN. Kontradiksi ini menempatkan Indonesia dalam posisi rapuh. Di satu sisi, kita menyebut diri sebagai negara megabiodiversitas, tetapi di sisi lain, kita lalai memberi perlindungan pada spesies yang populasinya sedang terjun bebas. Apakah kita akan menunggu sampai populasi monyet benar-benar habis lalu menyesal?

Ilustrasi monyet ekor panjang. Foto: Shutter Stock

Di banyak daerah, sebenarnya masyarakat mulai mencari jalan tengah. Ada desa yang menanam pohon buah-buahan di tepi hutan agar monyet punya sumber makanan alternatif. Ada yang membuat kesepakatan adat untuk tidak membunuh monyet meski dianggap mengganggu. Ada juga program sterilisasi yang coba diterapkan di kawasan wisata agar populasi terkendali. Semua langkah ini masih sporadis, tetapi memberi isyarat bahwa solusi bukanlah sebuah hal yang mustahil. Hal yang dibutuhkan adalah kerangka kebijakan yang jelas, dukungan anggaran, dan pendampingan bagi masyarakat agar mereka tidak merasa sendirian menghadapi konflik ekologis.

Kita perlu beranjak dari paradigma lama. Perlindungan monyet bukan berarti membiarkan mereka bebas merusak kebun, tetapi membangun tata kelola ruang hidup yang adil. Pemerintah dapat meninjau ulang status hukum, memasukkan monyet ekor panjang ke dalam daftar satwa yang dilindungi, dan menyusun strategi koeksistensi berbasis data ilmiah.

Universitas, lembaga riset, dan LSM dapat berperan aktif mengedukasi masyarakat dan meluruskan bahwa satwa liar bukanlah musuh manusia, melainkan mitra dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Media punya peran penting dalam mengubah narasi. Dari sekadar sensasi serangan monyet menjadi diskusi mendalam tentang kerusakan habitat.

Pertanyaan mendasar bagi kita: Apakah masih ada ruang untuk memperbaiki wajah kita di cermin ekologi itu. Jika kita berani menatapnya dengan jujur, kita akan melihat betapa rapuhnya tata kelola lingkungan kita. Monyet ekor panjang hanyalah satu dari banyak spesies yang kini berteriak lewat perilakunya. Jika kita gagal mendengarkan, maka jeritan itu akan berubah menjadi sunyi yang berarti sebuah kepunahan.

Inilah saatnya kita belajar rendah hati, mengakui bahwa pembangunan yang kita banggakan sering kali abai pada detail-detail kecil yang justru menentukan keberlanjutan. Bahwa jalan raya, perkebunan, tambang, dan pariwisata yang kita puji sebenarnya telah merampas ruang hidup makhluk lain. Bahwa monyet yang kita anggap musuh sesungguhnya adalah pengingat setia bahwa alam tidak bisa terus ditindas tanpa perlawanan.

Monyet ekor panjang adalah cermin. Ia memperlihatkan wajah kita yang rakus, tergesa, dan sering lupa diri. Namun, layaknya sebuah cermin, ia juga memberi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki raut wajah yang tampak di dalam. Jika kita mau mengubah arah dan menata ulang relasi kita dengan alam, maka kita tidak hanya menyelamatkan monyet ekor panjang, tetapi juga menyelamatkan diri kita sendiri. Sebab, di ujung segala krisis, satu hal yang pasti: manusia tidak mungkin hidup tanpa ekosistem yang sehat, dan ekosistem tidak akan sehat tanpa semua makhluk yang ada di dalamnya.