Konten dari Pengguna

PMM Desa Baskara Bakti 2025 Selesai, Namun Semangat Pengabdian Tetap Berlanjut

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Randi Syafutra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bangka Tengah – Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) 2025 di Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, resmi berakhir pada 25 September 2025. Meski program rampung, semangat pengabdian masih hidup di tengah masyarakat. Suasana penarikan mahasiswa di balai desa menjadi penutup yang hangat sekaligus momentum baru bagi keberlanjutan inisiatif pemberdayaan di desa pesisir ini.

Program PMM Desa Baskara Bakti 2025 berlangsung sejak 28 Juli hingga 25 September 2025. Selama dua bulan, mahasiswa bersama dosen pembimbing dan mitra desa menggulirkan beragam kegiatan edukatif, konservatif, dan sosial-kultural. Mitra utama program ini adalah Karang Taruna “Becampak” dan Pokdarwis “Cemara” yang sama-sama memiliki peran penting dalam menggerakkan pemuda, menjaga budaya, dan mempromosikan potensi ekowisata desa.

Tim dosen melakukan penarikan tim mahasiswa dari Desa Baskara Bakti, menandakan selesainya program PMM Desa Baskara Bakti 2025 yang telah berlangsung selama dua bulan.
zoom-in-whitePerbesar
Tim dosen melakukan penarikan tim mahasiswa dari Desa Baskara Bakti, menandakan selesainya program PMM Desa Baskara Bakti 2025 yang telah berlangsung selama dua bulan.

Ketua Tim Dosen sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Randi Syafutra, S.Si., M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel), menjelaskan bahwa program ini disusun dengan metode partisipatif agar selaras dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami merancang seluruh kegiatan berdasarkan potensi dan permasalahan yang dihadapi masyarakat, khususnya komunitas Suku Sekak. Hasilnya bukan hanya berupa dokumen dan produk, tetapi juga keterampilan, rasa percaya diri, dan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga warisan budaya serta lingkungan,” ujar Randi.

Ketua Tim Dosen PMM Desa Baskara Bakti 2025, memberikan plakat ucapan terima kasih dan kenang-kenangan kepada Kepala Desa Baskara Bakti (diwakili oleh Sekretaris Desa).

Dalam pelaksanaan program, dua anggota tim dosen turut berperan penting dalam memperkuat dimensi keilmuan dan memastikan kegiatan berjalan sesuai arah tujuan. Maulina Hendrik, S.Pd., M.Pd. dari Unmuh Babel, berkontribusi dalam merancang strategi pendidikan dan literasi yang kontekstual, sekaligus mendampingi proses dokumentasi dan publikasi hasil pengabdian agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Dr. Fitri Ramdhani Harahap, S.Sos., M.Si. dari Universitas Bangka Belitung (UBB), berfokus pada analisis sosial dan dinamika komunitas, membantu tim dalam membaca struktur sosial masyarakat pesisir, mengidentifikasi potensi kolaborasi, serta merumuskan pendekatan berbasis partisipasi yang sesuai dengan karakter komunitas Suku Sekak. Sinergi keahlian keduanya menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif, menjembatani aspek konservasi, literasi, dan sosial budaya secara integratif.

Selama pelaksanaan, program ini menghasilkan kegiatan utama seperti Pojok Literasi Sekak, Kelas Kreatif “Foto Cerita Sekak”, Video Dokumenter Pendek “Sekak Muda Bercerita”, Lokakarya Peta Wisata Impian, hingga Kampanye Laut Bersih. Di samping itu, dilaksanakan juga kegiatan pendukung seperti Pengembangan Desain Kemasan Produk UMKM “Pekasem Teritip”, Pelestarian Seni Dambus dan Campak Dalung, hingga Pelestarian Seni Kriya berupa busana daur ulang plastik.

Kepala Desa Baskara Bakti, Bahtiar Effendi, mengungkapkan apresiasinya atas kehadiran program ini.

“Kami melihat anak-anak muda di desa semakin percaya diri dan berani menunjukkan kreativitas. Program ini memberikan semangat baru untuk terus menjaga warisan budaya sekaligus mengelola potensi wisata pesisir dengan lebih baik,” katanya.

Hal senada disampaikan Asmawati, Wakil Ketua Karang Taruna “Becampak” sekaligus Ketua Pokdarwis “Cemara”. Ia menegaskan bahwa manfaat program dirasakan langsung oleh komunitas pemuda dan masyarakat pesisir.

“Banyak ilmu yang kami dapat, mulai dari manajemen organisasi, cara mendampingi wisatawan, sampai bagaimana membuat narasi budaya Sekak lebih menarik. Semua ini sangat membantu kami dalam mengembangkan desa,” ucapnya.

Dari sisi mahasiswa, program ini juga menjadi pengalaman berharga. Fikri, Ketua Tim Mahasiswa PMM Desa Baskara Bakti 2025, menyampaikan rasa bangganya bisa terlibat langsung dalam proses pemberdayaan.

“Kami belajar banyak dari masyarakat, terutama bagaimana budaya dan kearifan lokal bisa menjadi kekuatan untuk membangun desa. Kami berharap masyarakat tetap melanjutkan kegiatan yang sudah berjalan meskipun kami sudah kembali ke kampus,” ujar Fikri.

Sementara itu, Randi Syafutra menekankan pentingnya kesinambungan pasca-program.

“Pengabdian bukan hanya selesai saat mahasiswa ditarik pulang. Semangatnya harus diteruskan oleh masyarakat, didukung pemerintah desa, dan diperkuat kerja sama lintas pihak. Itulah yang menjadikan program ini bermakna,” tegasnya.

Program PMM ini berhasil terlaksana berkat dukungan pendanaan dari DPPM Ditjen Risbang Kemdiktisaintek RI melalui Hibah Kompetitif Nasional Tahun 2025 dengan No. Kontrak Induk: 119/C3/DT.05.00/PM/2025, No. Kontrak Turunan: 201/LL2/DT.05.00/PM/2025, dan No. Kontrak LPPM dan Pengabdi: 041/MOU/LPPMPP/IV/F/2025 (Randi Syafutra, S.Si., M.Si.). Dukungan ini menjadi landasan kuat bagi keberhasilan program sekaligus bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dapat melahirkan perubahan positif.

Berakhirnya PMM Desa Baskara Bakti 2025 bukanlah titik akhir, melainkan pijakan awal untuk langkah yang lebih besar. Masyarakat, pemuda, dan seluruh mitra kini membawa bekal pengetahuan, jejaring, dan semangat baru untuk terus menjaga laut, merawat budaya, serta mengembangkan desa dengan visi keberlanjutan.

Baca juga: