Santri untuk Peradaban Hijau

Dosen Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Kandidat Doktor PSL IPB University, & Pendiri TERRA Indonesia
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Randi Syafutra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Santri sering dipahami sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi lebih dari itu, santri adalah penjaga martabat kemanusiaan dan pelanjut peradaban. Di tengah masyarakat yang bergerak cepat dan dunia yang menghadapi perubahan besar, mulai dari krisis iklim hingga ketimpangan sosial, peran pesantren kembali menemukan relevansinya.
Jika dahulu pesantren menjadi pusat pembelajaran agama dan etika, hari ini pesantren sedang memasuki babak baru sebagai pusat lahirnya generasi masa depan yang berdaya secara sosial, ekologis, dan moral.
Refleksi sederhana dapat diajukan: Siapa yang pertama kali menanamkan kesadaran bahwa hidup tidak sekadar konsumsi, tetapi juga tanggung jawab? Siapa yang mengajarkan cinta pada alam sebagai amanah, bukan sekadar ruang eksploitasi? Siapa yang menjaga tradisi kesederhanaan, kemandirian, dan gotong royong ketika dunia diseret arus individualisme? Jawabannya adalah pesantren. Di sinilah fondasi keberlanjutan tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi dibiasakan melalui laku hidup.
Sesungguhnya gagasan pembangunan berkelanjutan telah hidup jauh sebelum istilah SDGs dikenal. Prinsip keseimbangan, keadilan sosial, ketercukupan, dan tanggung jawab lintas generasi telah lama menjadi nilai keagamaan dan kearifan pesantren.
Yang berbeda hanyalah bahasa. Global menyebutnya sustainability, sedangkan tradisi pesantren menyebutnya amanah, maslahat, ihsan, dan tanggung jawab khalifah di muka bumi. Kini, tugas kita adalah menjembatani keduanya agar pesantren tidak hanya menjadi pewaris nilai masa lalu, tetapi juga penggerak masa depan peradaban hijau.
Santri sebagai Motor Keberlanjutan
Pembangunan berkelanjutan sering dibicarakan di ruang akademik dan forum kebijakan, tetapi kehidupannya justru berakar pada perilaku sehari-hari. Di sinilah santri memainkan peran nyata.
Santri tidak bergerak berdasarkan instruksi proyek, tetapi panggilan iman. Ia tidak dimotivasi oleh keharusan administratif, tetapi keyakinan moral bahwa menjaga kehidupan adalah ibadah. Ketika nilai ini bertemu dengan pendekatan modern, lahirlah paradigma baru: santri sebagai motor SDGs.
Hal ini terlihat dari tiga kontribusi utama yang telah mengakar dalam sistem pesantren.
Pertama, pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter. Pendidikan pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi melatih kebiasaan hidup dengan akhlak. Santri belajar disiplin bukan karena diawasi, tetapi karena merasa diawasi oleh hatinya sendiri. Pendidikan akidah dan akhlak yang terstruktur melahirkan integritas batin, pondasi yang menjadi ruh dari pembangunan berkelanjutan.
Kedua, kemandirian dan ekonomi berbasis kerakyatan. Kemandirian ekonomi yang selama ini dipraktikkan pesantren melalui usaha produktif, unit usaha kecil, koperasi, dan pelatihan kewirausahaan adalah bentuk keberlanjutan sosial sekaligus ekonomi. Ketika santri menciptakan nilai ekonomi dari bawah, kemiskinan dan ketergantungan struktural perlahan berkurang.
Ketiga, kepedulian terhadap lingkungan. Spirit kesederhanaan yang dijalankan pesantren beririsan langsung dengan prinsip keberlanjutan ekologis. Saat pesantren mengelola air bersih, menanam pohon, memilah sampah, dan menjaga kebersihan lingkungan, mereka sedang membentuk generasi yang memahami bahwa lingkungan bukan objek pemanfaatan, melainkan bagian dari amanah kehidupan.
Dengan kata lain, pembangunan berkelanjutan bukan hal baru dalam pesantren. Justru dunia kini sedang mengejar apa yang telah lama dipraktikkan oleh tradisi.
Menghubungkan Nilai Religius dengan Agenda Global
Ada keindahan ketika nilai-nilai keagamaan bertemu dengan misi global. SDGs berbicara tentang planet yang sehat, masyarakat yang adil, pendidikan berkualitas, dan pengentasan kemiskinan. Pesantren berbicara tentang amanah, maslahah, kemuliaan akhlak, kesederhanaan, dan keadilan sosial. Keduanya saling berpelukan dalam nilai terdalam: menjaga kehidupan.
Santri belajar bahwa bumi bukan benda mati, melainkan tanda kebesaran Tuhan. Menjaganya adalah ibadah dan melindunginya adalah bagian dari rasa syukur. Nilai-nilai ini membentuk karakter ekologis yang tidak berhenti pada kesadaran, tetapi menuntun perilaku. Ketika santri menebar keberkahan, ia sedang membangun keberlanjutan. Ketika santri menolak berlebihan dan pemborosan, ia sedang menjaga keseimbangan.
Inilah mengapa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan lembaga pembentuk peradaban keberlanjutan.
Pesantren sebagai Pusat Pendidikan Keberlanjutan
Pesantren memiliki modal sosial yang luar biasa besar untuk menjadi pusat model hidup berkelanjutan.
Modal pertama, kepercayaan. Pesantren dipercaya masyarakat karena reputasi moral. Ini adalah modal sosial yang tidak dimiliki semua institusi. Legitimasi ini membuat pesantren mudah menjadi pusat gerakan perubahan.
Modal kedua, spiritual. Nilai keberlanjutan menjadi kuat ketika ditopang keyakinan iman. Pendidikan berbasis iman tidak hanya membimbing pikiran, tetapi menenangkan jiwa. Pilihan menjaga bumi menjadi laku ibadah, bukan sekadar kewajiban administratif.
Modal ketiga, budaya. Pesantren hidup dari tradisi gotong royong, bukan individualisme. Dalam keberlanjutan, kebiasaan komunal adalah modal terpenting. Dunia modern baru belajar kolaborasi, pesantren telah menghidupkannya sejak berabad-abad lalu.
Dengan ketiga modal ini, pesantren tidak hanya siap mengikuti program pemerintah, tetapi justru menjadi lokomotif peradaban hijau.
Ekonomi Hijau Berbasis Komunitas: Rute Perubahan
Pembangunan berkelanjutan tidak bisa dilepaskan dari ekonomi. Namun, ekonomi masa depan bukan lagi mengejar keuntungan tanpa batas, melainkan keberlanjutan nilai dan kesejahteraan jangka panjang. Di sinilah santri memiliki potensi besar melalui UMKM berbasis komunitas, koperasi, produk halal, pertanian organik, dan kewirausahaan sosial.
Jika dirancang dengan baik, pesantren mampu melahirkan wirausahawan hijau yang tidak hanya memikirkan pendapatan, tetapi juga keberkahan. Ketika ekonomi digerakkan oleh etika, kesejahteraan tidak melahirkan ketimpangan, tetapi keadilan.
Sosio-Kultural: Moderasi, Damai, dan Masa Depan Kebangsaan
Kontribusi santri dalam pembangunan tidak hanya bersifat ekonomi atau ekologis, tetapi juga menyokong stabilitas sosial. Di tengah meningkatnya intoleransi identitas di berbagai belahan dunia, pesantren menghadirkan narasi keberagamaan yang menentramkan. Dakwah pesantren bukan tentang menang atas yang lain, melainkan saling menguatkan di dalam perbedaan. Santri menjadi jembatan, bukan pagar pembatas.
Identitas inilah yang dibutuhkan masa depan Indonesia yang plural. Pemimpin keberlanjutan tidak hanya harus cerdas, tetapi juga dewasa menghadapi keragaman. Tidak cukup memiliki teknologi, tetapi harus memiliki kesabaran sosial. Pesantren telah menyiapkan fondasi itu jauh sebelum istilah moderasi dikenal dalam kebijakan publik.
Mengapa Masa Depan SDGs di Indonesia Tidak Bisa Dipisahkan dari Pesantren?
Ada alasan mendasar mengapa santri dan pesantren harus ditempatkan sebagai aktor utama, bukan sekadar mitra pembangunan.
Pembangunan tidak berhasil jika hanya top-down. Pesantren memiliki kekuatan akar rumput.
Keberlanjutan tidak akan bertahan jika tidak disandarkan pada nilai iman. Pesantren memiliki legitimasi moralnya.
Kebijakan tidak cukup tanpa keteladanan. Pesantren menjalankan nilai melalui budaya hidup sederhana.
Jika pembangunan masa depan ingin memiliki jiwa, pesantren adalah sumbernya. Jika keberlanjutan ingin bertahan lebih dari satu generasi, pendidikan berbasis spiritual adalah sumbunya. Dan jika pembangunan ingin memuliakan manusia, santri adalah aktor yang menjaga martabatnya.
Peradaban Hijau yang Lahir dari Laku Hidup
Saat dunia mencari model keberlanjutan yang tidak terjebak pada teknologi semata, pesantren menawarkan perspektif yang lebih dalam: keberlanjutan dimulai dari hati. Ia lahir dari kedisiplinan moral, bukan dari kebijakan formal; ia hidup dalam kebiasaan, bukan slogan; ia tumbuh dalam komunitas, bukan sekadar dokumen.
Santri, dengan kesederhanaan hidupnya, telah mengingatkan bahwa kemajuan bukan berarti meninggalkan nilai. Justru nilai yang menjaga agar kemajuan tetap beradab. Ketika santri menata perilaku, ia sedang merawat masa depan. Ketika pesantren membentuk karakter, ia sedang membangun SDGs dari sisi yang paling mendasar: manusia.
Jika dunia ingin masa depan hijau, Indonesia memiliki jalannya sendiri. Modalnya bukan hanya teknologi dan regulasi, melainkan spiritualitas dan kebijaksanaan hidup. Pesantren telah menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar kebijakan modern, melainkan bagian dari ibadah yang diwariskan lintas generasi.
Masa depan Indonesia tidak hanya membutuhkan insinyur, ekonom, atau teknokrat; ia membutuhkan penjaga nurani. Dalam misi ini, peran santri bukan pelengkap, melainkan sebagai penentu arah.
Karena peradaban hijau tidak lahir di ruang konferensi, tetapi dalam jiwa yang disiplin menjaga amanah kehidupan.
