Dari Sampah Jadi Semangat: Kisah Pengelola TPS3R Karawang

Student of University of Singaperbangsa Karawang - Undergraduation of Chemical Engineering
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari RANDY TAFAHN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KARAWANG - Tumpukan sampah yang biasa dilihatnya setiap hari, kini bukan lagi musuh yang menakutkan. Di tangan para pengelola TPS3R Berkah Bersama, Desa Telukjambe, Karawang, sampah organik dan plastik perlahan berubah menjadi proyek penuh harap. Berbekal pelatihan dari Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA), mereka memulai perjalanan baru: membudidayakan maggot dan mencetak paving block. Hasilnya mungkin belum seberapa, tapi semangat dan optimisme mereka sudah layak dijual.
“Dulu lihat sampah ya mumet, mau dibakar aja biar beres. Sekarang lihat sampah organik, kita langsung mikir ‘ini makanan maggot’. Lihat plastik, ‘ini bisa jadi paving block’. Pelatihan kemarin benar-benar ubah cara pikir kita. Ya, mudah-mudahan bisa terus diterapin di sini.” tutur salah seorang pengurus yang akrab disapa mang Otieb, dengan tekad yang terpancar jelas di matanya, saat ditemui di lokasi pelatihan.
Perjuangan itu terlihat nyata. Dengan peralatan seadanya, mereka mencoba mempraktikkan ilmu yang didapat. Sampah plastik dilelehkan dan dicetak manual menjadi paving block. Sampah organik ditumpuk sebagai media budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly).
“Hasil paving blocknya masih sedikit, dan maggotnya masih dalam tahap berkembang. Tapi buat kita, ini udah dikatakan suatu kemajuan. Yang penting kita udah mulai dan bisa konsisten,” tambahnya.
Hilman Imadul Umam, S.Pd., M.Si., ketua tim pengabdian dari UNSIKA yang menggagas program ini, melihat potensi besar dalam semangat yang ditunjukkan warga. "Tujuan kami bukan sekadar memberi pelatihan, tapi menyalakan api semangat. Kami melihat antusiasme dan perubahan pola pikir ini sebagai fondasi terkuat untuk membangun kemandirian pengelolaan sampah yang berkelanjutan di desa," ujarnya.
Haerudin, seorang praktisi dari Green Day Farm yang hadir sebagai narasumber, mengapresiasi langkah berani ini. “Mereka punya semangat belajar yang tinggi. Ini fondasi yang paling penting. Dari sini, tinggal bagaimana konsistensi dan dukungan untuk naik ke skala yang lebih produktif,” ujar Haerudin.
Kepala Desa Telukjambe, Uji, menyambut baik gelora perubahan yang ditunjukkan oleh warganya. “Saya lihat antusiasme mereka luar biasa. Ini bukan soal bisa langsung kaya, tapi soal memberdayakan diri sendiri. Kami berharap ini bisa berjalan terus, tidak berhenti di pelatihan saja. Ilmu ini adalah modal berharga untuk menekan timbunan sampah dan suatu saat nanti, semoga juga menambah penghasilan,” harap Uji.
Langkah kecil ini mungkin belum mengubah desa seketika. Tapi dari tumpukan sampah, telah lahir semangat baru yang jauh lebih berharga: harapan dan keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin untuk dimulai.
Tentang Kegiatan:
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2025 sesuai Kontrak Nomor: 104/C3/DT.05.00/PM/2025.
