Konten dari Pengguna

Pentingnya Keseimbangan Jiwa dalam Falsafah Hidup Buya Hamka

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Safana Nurhayati Rangkuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Gemini/Dokumentasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Gemini/Dokumentasi AI

Di era modern yang segalanya serba cepat ini, perbincangan mengenai mental health dan kesehatan otak sudah tidak asing kita dengar. Banyak dari kita berlomba-lomba mencari cara agar senantiasa fokus, tidak mudah burnout, dan terhindar dari cemas berlebih. Sering kali kita memanjakan otak dengan suplemen, istirahat cukup, hingga mendengarkan terapi gelombang suara.

Namun, pernahkah kita bertanya, apakah menjaga kesehatan otak biologis saja sudah cukup untuk membuat manusia betul-betul tenang?

Jauh sebelum tren mental health semarak hari ini, ulama dan filsuf besar Indonesia, Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka), telah mengulas pertanyaan mendasar ini dalam karya legendarisnya, Falsafah Hidup. Lewat pandangan filosofis dan keislamannya, Buya Hamka mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar mesin dengan ratusan miliar sel otak, melainkan makhluk rohani yang membutuhkan keseimbangan jiwa.

Otak sebagai Perkakas, Jiwa sebagai Penggerak

Dalam sub-bab "Hidup", Buya Hamka secara takjub membedah keajaiban fisik manusia. Beliau mencatat bahwa dalam otak manusia terdapat tak kurang dari 180 miliar sel halus yang bekerja sangat rapi untuk merespons suara, penglihatan, dan rasa. Beliau bahkan mengutip perkembangan ilmu kedokteran jiwa modern dan pemikiran yang membuktikan bahwa gangguan pada otak atau fisik dapat memengaruhi jalan pikiran dan perilaku seseorang, oleh Prof. Sigmund Freud.

Namun, Buya Hamka memberikan batas tegas: otak hanya sebuah zat kasar yang menjadi perkakas atau alat bagi kekuatan batin, yaitu roh atau jiwa.

Analogi sederhananya seperti sebuah gitar dan suara musik yang dihasilkannya. Kira-kira otak adalah instrumen gitarnya, sedangkan jiwa adalah alunan musiknya. Mengobati atau merawat fisiknya saja tanpa memperhitungkan kondisi rohaninya hanya akan membuat kehidupan terasa hampa. Ahli kesehatan yang hanya memandang manusia dari segi kebendaan mendahulukan "lilin daripada nyala", sedangkan pendekatan filosofis dan Islam memandang bahwa "nyala" (jiwa/roh) itulah hakikat utama kehidupan manusia.

Mengendalikan Kusir dan Kuda Berlarian

Lantas, bagaimana cara mencapai keseimbangan jiwa menurut Buya Hamka?

Dalam buku tersebut, Hamka membagi kekuatan dalam diri manusia menjadi tiga bagian: kekuatan akal (yang mengarahkan pada kebenaran), kekuatan marah (dorongan bertahan dan kekuasaan), serta kekuatan syahwat (dorongan mengejar kelezatan dan kesenangan).

Merujuk pada ceramah Dr. M. Amir, seorang pakar ilmu jiwa Indonesia zaman dulu, Buya Hamka menggambarkan bahwa hawa nafsu dan emosi kita bagai seekor kuda yang berlari kencang, sedangkan akal dan kejernihan jiwa adalah kusir yang memegang kekangnya.

Kehidupan anak muda zaman sekarang sering kacau bukan karena otaknya kurang cerdas, melainkan karena "kuda" emosinya berlari tanpa arah sementara "kusirnya" (akal dan spiritualitasnya) tertidur. Ketika kita hanya menuruti dorongan emosi atau standar sukses orang lain tanpa kendali akal, kita akan gampang merasa cemas (anxiety) dan kehilangan arah hidup (quarter life crisis)

Menyelaraskan Sains Modern dan Nilai Spiritual

Dari pemikiran Buya Hamka ini, kita belajar satu hal penting: kesehatan mental yang sejati tidak bisa dicapai hanya dari satu sisi.

Menjaga kesehatan fisik dan otak (seperti makan bergizi, tidur cukup, atau konsultasi ke psikolog jika perlu) adalah hal yang wajib. Namun, memelihara ketenangan jiwa melalui pemaknaan hidup, pembersihan hati (tazkiyatun nafs), serta kepasrahan kepada Allah (tawakal) adalah kunci penutup yang tidak boleh ditinggalkan.

Akal yang sehat akan menuntun manusia pada kebaikan dan kedekatan kepada Sang Pencipta. Sebaliknya, spiritualitas yang kuat akan menjaga akal agar tidak mudah goyah saat dihantam cobaan hidup.

Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang menilai seberapa canggih otak kita memproses data, melainkan seberapa bijak jiwa kita memaknai setiap langkah perjalanan. Seperti yang dituturkan Buya Hamka, "Bukan hidup sembarang hidup, babi di hutan hidup juga.. Lezat akal sempurna basa, mulia hati lautan paham."