Ketika Teknologi Makin Cangih, Apakah Manusia Semakin Manusiawi?

saya adalah mahasiswa universitas siber asia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari rani purwandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perkembangan teknologi membuat kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Kehadiran internet, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Big Data, robot, dan berbagai teknologi digital lainnya membuat banyak aktivitas yang dahulu membutuhkan waktu lama kini dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat. Perubahan tersebut merupakan bagian dari perkembangan Revolusi Industri 4.0 yang membawa manusia ke dalam kehidupan yang semakin terhubung dengan teknologi.
Namun, di tengah kemajuan tersebut muncul sebuah pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: ketika teknologi semakin canggih, apakah manusia juga menjadi semakin manusiawi? Pertanyaan ini menjadi penting karena kemajuan teknologi bukan hanya persoalan kemampuan mesin, tetapi juga menyangkut bagaimana manusia menggunakan teknologi dan mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.

Revolusi Industri 4.0 pada dasarnya merupakan perkembangan menuju industri yang semakin terhubung secara digital. Mesin, manusia, data, dan berbagai sistem dapat saling terhubung melalui teknologi informasi dan komunikasi. Internet of Things memungkinkan perangkat mengirim dan menerima data, sementara Big Data membantu mengolah informasi dalam jumlah besar. AI juga dapat digunakan untuk menganalisis data, mengenali pola, memberikan prediksi, hingga membantu proses pengambilan keputusan. Teknologi seperti cloud computing, cyber security, augmented reality, system integration, dan additive manufacturing juga menjadi bagian dari perkembangan teknologi Industri 4.0.
Perubahan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Perkembangan industri telah berlangsung melalui beberapa tahap. Revolusi Industri 1.0 ditandai dengan penggunaan mesin dan tenaga uap. Revolusi Industri 2.0 berkembang dengan penggunaan listrik dan produksi massal. Revolusi Industri 3.0 kemudian membawa komputer, otomatisasi, dan teknologi digital ke dalam proses industri. Selanjutnya, Revolusi Industri 4.0 menggabungkan berbagai teknologi tersebut melalui sistem yang semakin terhubung dan berbasis data.
Di satu sisi, perkembangan ini memberikan banyak manfaat bagi manusia. Pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih cepat, informasi lebih mudah diperoleh, dan berbagai layanan dapat diberikan secara lebih efisien. Dalam dunia industri, teknologi dapat membantu meningkatkan produktivitas dan mengurangi pekerjaan yang berisiko dilakukan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, teknologi juga membantu manusia berkomunikasi, belajar, bekerja, berbelanja, bahkan mendapatkan layanan kesehatan.
Namun, kemajuan teknologi juga membawa tantangan. Ketika semakin banyak pekerjaan dapat dilakukan oleh mesin, muncul kekhawatiran mengenai perubahan jenis pekerjaan dan kebutuhan keterampilan manusia. Selain itu, semakin banyak aktivitas yang bergantung pada data juga membuat persoalan privasi, keamanan informasi, dan penyalahgunaan teknologi menjadi semakin penting.
Di sinilah konsep Society 5.0 menjadi menarik. Society 5.0 tidak sekadar berbicara mengenai masyarakat yang semakin digital, tetapi mengenai bagaimana teknologi digunakan untuk menciptakan masyarakat yang berpusat pada manusia. Konsep ini pertama kali diperkenalkan Jepang sebagai gambaran masyarakat yang mengintegrasikan ruang siber dan ruang fisik untuk mencapai pembangunan ekonomi sekaligus menyelesaikan persoalan sosial.
Jika Industri 4.0 lebih banyak membahas perubahan dalam dunia industri melalui digitalisasi dan konektivitas, Society 5.0 membawa pembahasan tersebut lebih luas ke kehidupan masyarakat. Teknologi seharusnya tidak hanya digunakan untuk membuat proses menjadi lebih cepat, tetapi juga membantu manusia menyelesaikan masalah yang nyata.
Contohnya dapat dilihat dalam bidang kesehatan, pendidikan, transportasi, dan pelayanan publik. Data dan AI dapat membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi yang lebih cepat. Teknologi digital dapat memperluas akses pembelajaran. Sistem transportasi pintar dapat membantu mengatur perjalanan masyarakat secara lebih efisien. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, perangkat yang saling terhubung dapat membantu manusia menghemat waktu dan energi.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa teknologi sebenarnya bukan lawan manusia. Teknologi merupakan alat yang dapat membantu manusia mencapai kehidupan yang lebih baik. Namun, hasil akhirnya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
Menurut saya, menjadi manusiawi di tengah perkembangan teknologi berarti tidak kehilangan kemampuan untuk berempati, berpikir kritis, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain. Kemampuan tersebut tidak seharusnya digantikan begitu saja oleh mesin.
AI mungkin mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi keputusan mengenai apa yang benar dan bermanfaat bagi manusia tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Robot mungkin mampu melakukan pekerjaan dengan tingkat ketelitian tinggi, tetapi robot tidak seharusnya menentukan nilai kemanusiaan dalam sebuah keputusan. Data mungkin mampu menunjukkan suatu pola, tetapi manusia tetap perlu mempertimbangkan konteks, perasaan, dan dampak sosial dari keputusan yang diambil.
Karena itu, kemajuan teknologi seharusnya berjalan beriringan dengan perkembangan karakter manusia. Semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin besar pula tanggung jawab manusia untuk menggunakannya secara bijaksana. Keamanan data, privasi, keadilan, dan dampak sosial tidak boleh dianggap sebagai persoalan tambahan, tetapi harus menjadi bagian dari proses perkembangan teknologi.
Society 5.0 sendiri menekankan bahwa teknologi perlu digunakan untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan, tangguh, aman, dan mampu meningkatkan kesejahteraan setiap individu. Pemerintah Jepang juga menempatkan nilai human-centered society sebagai salah satu kunci dalam konsep tersebut.
Dengan demikian, pertanyaan apakah teknologi membuat manusia semakin manusiawi sebenarnya tidak memiliki jawaban yang sederhana. Teknologi tidak secara otomatis membuat manusia menjadi lebih baik ataupun lebih buruk. Teknologi hanyalah sarana. Manusialah yang menentukan arah penggunaannya.
Jika teknologi digunakan hanya untuk mengejar kecepatan, keuntungan, dan efisiensi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia, maka kemajuan teknologi justru dapat membuat manusia semakin jauh dari nilai kemanusiaan. Sebaliknya, jika teknologi digunakan untuk membantu manusia menyelesaikan masalah sosial, meningkatkan kualitas hidup, memperluas kesempatan, dan menciptakan kehidupan yang lebih berkelanjutan, maka teknologi dapat menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih manusiawi.
Pada akhirnya, tantangan terbesar di era Industri 4.0 dan Society 5.0 bukanlah apakah manusia mampu menciptakan teknologi yang semakin pintar. Tantangannya adalah apakah manusia mampu tetap menjadi manusia ketika teknologi semakin pintar.
Teknologi boleh semakin canggih, tetapi empati jangan sampai hilang. Mesin boleh semakin pintar, tetapi manusia tetap harus memiliki kebijaksanaan. Karena masa depan bukan hanya tentang seberapa maju teknologi yang berhasil kita ciptakan, melainkan tentang seberapa baik kita menggunakan kemajuan tersebut untuk kehidupan manusia.
