Memaknai Kalimat ‘Nanti Saya Kabarin Ya’: Berbeda Konteks, Berbeda arti

Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rani Alicia Evelina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda menerima pesan singkat berbunyi, “Nanti saya kabari ya”? Kalimat tersebut tampak sederhana, namun maknanya dapat berubah signifikan tergantung pada siapa yang menyampaikannya. Apabila diucapkan oleh atasan, umumnya hal itu menimbulkan rasa menunggu yang tidak pasti. Namun, jika diucapkan oleh teman, biasanya itu menjadi pertanda untuk tidak terlalu berharap.
Berikut pembahasan lengkap beserta contohnya:
Apabila Disampaikan oleh Atasan: Penundaan yang Perlu DicermatiUngkapan “Nanti saya kabari ya” dari atasan umumnya berarti: “Masih dalam pertimbangan dan belum dapat dipastikan.”Contoh Situasi
Mengajukan Kenaikan Gaji Karyawan: “Bu, apakah ada peluang penyesuaian gaji tahun ini? Saya sudah dua tahun berada di posisi yang sama.”Atasan: “Nanti saya kabari ya. Saya cek dulu ke bagian HRD dan keuangan.”Realita: Setelah dua minggu tidak ada kabar dan ditanyakan kembali, jawabannya adalah, “Tahun ini anggaran sedang ketat."
Contoh Situasi 2:
Meminta Izin Cuti
Karyawan: “Pak, saya mau mengambil cuti pada 23 Desember. Saya sudah membeli tiket karena sedang ada promo, Pak.”
Atasan: “Nanti saya kabari ya. Saya lihat jadwal tim dulu.”
Realita: Tiga hari sebelum hari-H, baru diberi tahu, “Wah, tidak bisa. Banyak anggota tim lain yang juga cuti.” Tiket pun hangus.
Saran: Setelah menerima jawaban tersebut, sebaiknya tanyakan kepastian waktu. Misalnya: “Baik Pak/Bu, kira-kira kapan saya dapat menanyakan hal ini kembali?” Jika hanya dijawab “Nanti saja”, segera siapkan rencana alternatif.
Apabila Disampaikan oleh Teman: Indikasi Pembatalan secara Halus Ungkapan “Nanti kabari ya” dari teman umumnya berarti: “Secara tidak langsung menolak untuk ikut serta.”
Contoh Situasi 1:
Diajak Berkumpul (Nongkrong) Dadakan
Anda: “Malam ini ke Blok M yuk, ada live music dan gratis masuk.”
Teman: “Wah, boleh juga. Nanti kabari ya jam pastinya.”
Realita: Pesan sudah terbaca (centang biru) sejak jam 5 sore, namun hingga jam 9 malam tidak ada balasan. Besoknya, ia mengunggah cerita (story) di media sosial dengan keterangan “Me time is the best” dari kamarnya.
Contoh Situasi 2:
Ditawari Tiket Konser
Anda: “Aku ada satu tiket Coldplay, nih, harga normal. Mau tidak?”
Teman: “Serius? Nanti kabari ya, aku cek jadwal dulu.”
Realita: Dua hari kemudian saat ditanya lagi, ia menjawab, “Aduh, ternyata aku ada acara keluarga.” Padahal, ia mengunggah video sedang menonton konser lain.Saran: Berikan batas waktu yang jelas.
Contoh: “Oke, aku tunggu sampai jam 8 malam ya. Kalau belum ada kabar, tiketnya aku tawarkan ke orang lain.” Hal ini akan mendorong mereka memberikan jawaban yang lebih pasti.
Cara Membedakan Kalimat Serius atau Sekadar Basa-basiKalimat “Nanti saya kabari” yang serius biasanya diikuti dengan detail waktu atau alasan yang spesifik.
Contoh: “Nanti saya kabari hari Rabu ya, karena Senin besok ada rapat anggaran.”Kalimat basa-basi biasanya berdiri sendiri tanpa komitmen waktu yang jelas.
Contoh: “Nanti saya kabari ya,” lalu menghilang tanpa kabar lebih lanjut.
KesimpulanPada dasarnya, “Nanti saya kabari ya” bukanlah sebuah bentuk kepastian. Kalimat ini merupakan cara halus yang umum digunakan untuk menyampaikan penolakan tanpa menimbulkan konflik langsung.Perbedaannya terletak pada konsekuensinya. Dari teman, hal itu biasanya berkaitan dengan rencana personal yang akhirnya batal. Oleh karena itu, saat menerima kalimat tersebut, sebaiknya segera susun rencana cadangan. Sebab pada kenyataannya, pihak yang paling konsisten menepati janji untuk “memberi kabar” tepat waktu hanyalah kurir paket.
