Konten dari Pengguna

Kemiskinan Indonesia: Mengapa Persoalannya Lebih Besar dari Sekadar Pendapatan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rani Nila Octavia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto kemiskinan Indonesia. Sumber foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
foto kemiskinan Indonesia. Sumber foto: pixabay

Kemiskinan Indonesia Tidak Hanya tentang Pendapatan Ketika mendengar kata kemiskinan Indonesia, mungkin yang langsung terbayang adalah masyarakat yang memiliki penghasilan rendah dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, menurut saya, kemiskinan sebenarnya lebih kompleks dari sekadar jumlah pendapatan. Bayangkan sebuah keluarga yang memiliki penghasilan setiap bulan, tetapi sebagian besar uangnya harus digunakan untuk kebutuhan pokok, biaya sekolah, tempat tinggal, dan kesehatan. Ketika salah satu anggota keluarga sakit atau kehilangan pekerjaan, kondisi ekonomi mereka bisa langsung berubah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 mencapai 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang. Menurut saya, angka tersebut bukan hanya sekadar statistik. Di baliknya terdapat banyak keluarga yang masih berusaha memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kehidupannya. Pendidikan Bisa Menjadi Jalan untuk Memutus Kemiskinan Cara penting untuk memutus lingkaran kemiskinan Indonesia dengan pendidikan. Pendidikan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan yangn membantu seseorang mendapatkan pekerjaan atau membuka usaha. Namun, pendidikan saja belum cukup. Setelah mendapatkan pendidikan dan keterampilan, seseorang juga membutuhkan kesempatan kerja yang layak. Karena itu, pelatihan kerja, pendidikan vokasi, sertifikasi, dan kemampuan digital juga penting untuk membantu masyarakat meningkatkan kualitas dirinya. Saya melihat bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk menjadi lebih mandiri. Bantuan sosial tetap penting, terutama bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan. Namun, menurut saya, bantuan sebaiknya tidak hanya membuat masyarakat mampu bertahan untuk sementara. Masyarakat juga dapat diberikan pelatihan kerja, pendampingan usaha, akses modal, atau kesempatan bekerja. Dengan begitu, bantuan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga dapat membantu masyarakat meningkatkan kemampuan ekonominya. Pembangunan Jangan Hanya Berpusat di Kota Persoalan kemiskinan Indonesia juga berkaitan dengan ketimpangan pembangunan antarwilayah. Data BPS menunjukkan bahwa pada Maret 2026, tingkat kemiskinan di perdesaan sebesar 10,67 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 6,34 persen. Menurut saya, desa sebenarnya memiliki banyak potensi ekonomi, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, dan usaha mikro. Sayangnya, potensi tersebut belum selalu didukung dengan akses pasar, teknologi, modal, dan infrastruktur yang memadai. Karena itu, pembangunan seharusnya tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Masyarakat juga perlu diberikan kemampuan dan kesempatan untuk memanfaatkan potensi daerahnya. Mengubah Cara Kita Melihat Kemiskinan Indonesia Saya semakin memahami bahwa kemiskinan Indonesia bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang. Kemiskinan juga berkaitan dengan terbatasnya pilihan dan kesempatan seseorang untuk memperbaiki kehidupannya. Menurut saya, keberhasilan mengatasi kemiskinan tidak cukup hanya dilihat dari turunnya angka kemiskinan. Kita juga perlu melihat apakah masyarakat memiliki pekerjaan yang stabil, apakah anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan, dan apakah mereka mampu menghadapi keadaan darurat. Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan, tetapi juga kesempatan. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik, memperoleh pekerjaan yang layak, mengembangkan usaha, dan memiliki kehidupan yang lebih sejahtera. Jika kesempatan tersebut semakin terbuka, maka upaya mengurangi kemiskinan Indonesia tidak hanya menghasilkan angka statistik yang lebih baik, tetapi juga perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

Hasil Penelitian: Pendidikan Berpengaruh terhadap Peluang Ekonomi Pentingnya pendidikan dalam mengatasi kemiskinan juga didukung oleh hasil penelitian Bank Dunia yang dipublikasikan dalam laporan Indonesia Poverty Assessment: Pathways Towards Economic Security. Berdasarkan analisis data ketenagakerjaan Indonesia, setiap tambahan satu tahun pendidikan berkaitan dengan peningkatan pendapatan sekitar 6,9%.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa pekerja dengan pendidikan menengah atas memperoleh pendapatan rata-rata 48% lebih tinggi dibandingkan pekerja yang hanya menempuh pendidikan dasar atau lebih rendah. Sementara itu, pekerja dengan pendidikan tinggi memperoleh pendapatan rata-rata 108% lebih tinggi dibandingkan kelompok tersebut.

Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan memiliki hubungan penting dengan peluang memperoleh pendapatan yang lebih baik. Namun, hasil tersebut tidak berarti bahwa pendidikan secara otomatis menjamin seseorang keluar dari kemiskinan, karena kesempatan kerja, kondisi ekonomi, dan kualitas keterampilan juga turut berpengaruh. Selain itu, Bank Dunia dalam laporan The Promise of Education in Indonesia (2020) menjelaskan bahwa proses belajar yang berkualitas berpengaruh terhadap produktivitas seseorang ketika memasuki usia kerja. Pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari lamanya seseorang bersekolah, tetapi juga dari pengetahuan dan keterampilan yang benar-benar dikuasai.

Jika pendidikan mampu membekali masyarakat dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, mereka memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya, keterbatasan kemampuan membaca, memahami informasi, dan menerapkan keterampilan dapat menghambat seseorang dalam memperoleh kesempatan ekonomi yang lebih baik. Menurut saya, kedua temuan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan perlu ditempatkan sebagai salah satu investasi jangka panjang dalam upaya mengurangi kemiskinan Indonesia. Pemerintah tidak cukup hanya memastikan anak-anak dapat bersekolah, tetapi juga perlu memperhatikan kualitas pembelajaran, akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu, serta kesesuaian keterampilan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.

Pendidikan yang berkualitas, jika didukung dengan kesempatan kerja yang layak dan akses ekonomi yang lebih merata, dapat membantu masyarakat meningkatkan pendapatan dan membangun kehidupan yang lebih sejahtera.