Konten dari Pengguna

Integrasi Karakter Qurani & Literasi Kreatif bagi Masa Depan Anak Talang Nangka

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rani widiyasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah sudut Desa Talang Nangka, sebuah perubahan besar sedang dirajut melalui tangan-tangan mungil. Sebagai mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Raden Fatah Palembang, saya meyakini bahwa kemajuan sejati sebuah bangsa bermula dari bagaimana kita membentuk jiwa, rasa, dan keterampilan anak-anak sejak usia dini. Melalui sinergi Karakter Qur’ani, Literasi Sosial, dan Ekonomi Kreatif, sebuah harapan baru sedang kami tumbuhkan di tanah ini.

Langkah pertama dimulai dari ketenangan di TPA Babusholah. Di sana, pengajaran baca tulis Al-Qur'an bukan sekadar aktivitas rutin mengeja huruf hijaiyah. Ada rasa haru yang menyeruak saat saya melihat anak-anak bersimpuh, melantunkan ayat suci yang menjadi penyejuk jiwa. Di tempat ini, kami tidak hanya mengajar mengaji, tapi sedang membangun benteng karakter; menanamkan kejujuran dan adab sebagai bekal agar mereka tak goyah diterjang kerasnya zaman. Kami ingin mereka tumbuh dengan cahaya Al-Qur'an di hati, menjadi generasi yang tak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga penuh kasih dan kesantunan.

foto saat mengajar di TPA Babushollah
zoom-in-whitePerbesar
foto saat mengajar di TPA Babushollah

Beranjak ke KB Talang Nangka, fokus pengabdian saya beralih pada peletakan dasar Literasi Sosial. Melalui pendampingan belajar dan pengamatan perilaku di usia dini, kami berupaya memastikan bahwa sekolah adalah rumah yang aman bagi mereka. Hati saya seringkali tersayat membayangkan rasa takut yang mungkin dialami seorang anak jika harus menghadapi perundungan. Maka, di sinilah kami mengajarkan mereka cara berinteraksi, menghargai perbedaan, dan mencintai teman sebaya. Kita ingin setiap anak di Talang Nangka tumbuh dengan empati yang tinggi, karena kecerdasan sosial adalah kunci untuk hidup berdampingan secara damai di masa depan.

salah satu foto saat ke Kelompok bermain (KB) talang nangka

Melengkapi itu semua, semangat Ekonomi Kreatif mulai kami perkenalkan melalui Workshop Meronce. Pelajaran berharga ini mengajarkan bahwa ilmu tidak hanya berada di dalam buku teks. Saat jemari kecil mereka fokus memasukkan benang ke lubang manik-manik, mereka sedang belajar tentang kesabaran, ketelitian, dan daya cipta. Di setiap gelang yang mereka hasilkan, tumbuh rasa bangga dan percaya diri. Kami ingin mereka memahami sejak dini bahwa kreativitas mereka berharga, bahwa imajinasi mereka bisa menjadi karya nyata yang memiliki nilai. Inilah bibit kemandirian yang akan membuat mereka berani bermimpi lebih tinggi.

foto saat kegiatan meronce

Harmoni di Talang Nangka ini mengajarkan saya satu hal: pendidikan yang utuh adalah yang menyentuh jiwa di TPA, mengasah rasa di KB, dan melatih karsa melalui kreativitas. Ketiga kegiatan ini bukan sekadar tugas akademik bagi saya, melainkan sebuah doa yang diwujudkan dalam kerja nyata. Kami sedang menenun masa depan, butir demi butir manik, ayat demi ayat, untuk melahirkan generasi emas yang kokoh dalam iman, peka dalam sosial, dan terampil dalam berkarya. Karena pada akhirnya, kebahagiaan terbesar bagi seorang pendidik adalah melihat anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.