Jejak Pengabdian di Talang Nangka: Catatan Manis kelompok 63 KKN ke-84

saya mahasiswi UIN Raden Fatah palembang. memiliki hobi membaca dan bermain hockey. saya anak yang ceria dan suka berbicara
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rani widiyasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kamis 8 Januari- 12 Februari 2026. Perjalanan kami dimulai dengan langkah penuh antusias di tanah Desa Talang Nangka. Sebagai Kelompok 63 KKN ke-84, misi kami jelas: hadir bukan sekadar untuk menggugur kewajiban, tetapi untuk memberi arti. Awal datang ke desa kami sangat merasakan rasa takut, ragu dan banyak hal yang membuat kami ingin cepat pulang. Pekan pertama kami lalui dengan proses pengenalan dan pemaparan program kerja (proker) di hadapan perangkat desa dan tokoh masyarakat. Dengan penuh semangat, kami membedah rencana aksi yang menyentuh aspek ekonomi, pendidikan, hingga keagamaan.

Spirit religiusitas menjadi pembuka pengabdian kami. Kami bahu-membahu menyiapkan acara peringatan Isra Mi’raj, mulai dari masak bersama pembersihan masjid hingga mengoordinasi acara agar berjalan khidmat. Kedekatan dengan spiritualitas ini kami imbangi dengan aksi nyata setiap pekan melalui proker pembersihan masjid setiap Jumat pagi. Kami percaya, masjid yang bersih akan membawa kenyamanan bagi setiap sujud warga.
Langkah kami berlanjut ke dunia pendidikan. Di SDN 9 Lembak, suasana riuh rendah berubah menjadi haru saat kami memberikan sosialisasi edukasi stop bullying. Kami menanamkan benih kasih sayang agar sekolah menjadi tempat yang aman bagi setiap anak. Tak berhenti di sana, kami melangkah ke tingkat SMP yakni SMPN 2 Lembak untuk memberikan pemahaman terkait pernikahan dini. Melalui diskusi yang menyentuh sisi kesehatan dan masa depan, kami mengajak remaja desa untuk berani bermimpi lebih tinggi sebelum memutuskan berumah tangga.
Setiap sore di akhir pekan, suasana desa pecah oleh tawa dan musik yang ceria. Kami rutin melaksanakan senam sore, sebuah momen sederhana namun efektif untuk meleburkan sekat antara mahasiswa dan warga. Di sela-sela keringat sehat itu, komunikasi hangat terjalin, memperkuat ikatan emosional kami dengan masyarakat Talang Nangka.
Tiba saatnya kami mengeksekusi proker prioritas utama. Melihat potensi nanas yang melimpah namun belum tergarap maksimal, Kelompok 63 berinovasi membuat produk baru: Dodol Nanas. Kami berkumpul bersama ibu-ibu desa, mengaduk adonan di atas tungku besar, sembari bertukar cerita. Dodol ini bukan sekadar penganan, tapi simbol harapan baru bagi ekonomi desa.
Sejalan dengan itu, kami mengadakan seminar Pemberdayaan Perempuan Talang Nangka. Di sini, kami memaparkan pentingnya manajemen usaha yang rapi dan memperkenalkan digitalisasi melalui QRIS. Kami mendampingi ibu-ibu menembus batas teknologi, memastikan UMKM mereka siap bersaing di era digital demi kemandirian ekonomi keluarga.
Menjelang masa akhir KKN, desa menjadi lebih hidup dengan deretan perlombaan. Kami mengadakan lomba Islami bagi anak-anak untuk mengasah keberanian dan ilmu agama mereka. Sementara itu, di lapangan terbuka, gemuruh sorak-sorai mengiringi lomba bola voli untuk orang dewasa. Kompetisi ini bukan soal siapa yang menang, melainkan tentang sportivitas dan keguyuban yang meledak dalam tawa kemenangan bersama.
Akhirnya, waktu jua yang harus memisahkan. Acara perpisahan dan pelepasan digelar secara formal namun emosional di Kantor Kepala Desa. Di depan perangkat desa dan warga yang telah menjadi keluarga baru, kami memutar video after movie yang merangkum setiap peluh, tawa, dan kerja keras kami selama di Talang Nangka.
Melihat potongan-potongan klip saat kami mengaduk dodol, mengajar di kelas, hingga membersihkan masjid, tak sedikit mata yang berkaca-kaca. Kami datang sebagai orang asing, namun pulang sebagai bagian dari sejarah Desa Talang Nangka. Kelompok 63 KKN ke-84 resmi pamit, meninggalkan jejak digital QRIS di warung-warung dan manisnya rasa dodol nanas yang akan terus diingat. dan diakhir cerita kami makan untuk yang terakhir bersama keluarga kedua
Seikat rindu kenangan indah
Selamat tinggal, dan sampai jumpa keluarga keduaku. Kami pulang membawa gelar sarjana nantinya, tapi sebagian jiwa kami... tetap tertinggal di Talang Nangka
