Cinta dan Cita

Student at Jakarta State Polytechnic Major Journalism Publishing
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rania Adyanti Justiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prioritas orang dalam hidup berbeda-beda, tetapi aku dan sebagian besar orang meletakkan cita-cita di posisi teratas. Sejak awal SMA aku telah menyusun tujuan yang harus aku raih ketika lulus nanti.
Sebagai siswa angkatan pertama tentunya aku harus merencanakan semua dari awal. Pada tahun pertama aku rajin mengikuti pembinaan lomba pada hari sabtu dan minggu. Meskipun di lima hari kerja lainnya aku tidak pulang sebelum pukul tiga sore. Diluar perlombaan itu, aku rajin mengikuti empat ekstrakurikuler dari hari senin sampai jumat.
Tetapi itu semua berubah ketika aku jatuh cinta. Aku mengenal orang spesial dari aplikasi virtual chat. Dia berusia dua tahun lebih tua. Tapi aku merasa memiliki kesamaan pemikiran dengannya dalam meraih mimpi. Dalam dua minggu aku jatuh cinta pada sikapnya yang tidak mudah menyerah dalam melawan keterbatasan ekonomi.
Tetapi itu tidak berlangsung lama karena segera muncul sifatnya yang posesif dan egois. Dia mengaturku dalam berorganisasi dan membatasiku dekat dengan lawan jenis. Padahal dia tau jika aku tergabung dalam ekstrakurikuler pecinta alam. Usianya dua tahun lebih tua dariku sehingga seharusnya dia lebih dewasa dalam bersikap.
Aku telah mengomunikasikan itu dengannya tetapi dia tak mau tau. Sampai satu bulan kita dekat tiba pada ulang tahunku. Aku berharap dia memberiku ucapan selamat ulang tahun. Dari pagi hingga petang semua temanku bergantian memberiku ucapan selamat. Kesokan harinya seorang teman memutar lagu selamat ulang tahun untukku di speaker sekolah, dan kemudian semua orang yang berpapasan denganku melakukan hal yang sama.
Hingga di keesokan harinya dia tetap tidak menghubungiku, apalagi mengucapkan selamat ulang tahun. Hari ulang tahunku ke tujuh belas menjadi suram karena dia. Di malam hari aku menghubunginya, bertanya mengapa dia tidak mengontakku dua hari kebelakang. Dengan mudah dia menjawab “Sorry, happy birth day. Semoga sehat selalu.”
Aku lebih dari kecewa karena ia bahkan tidak mengingat ulang tahunku. Bahkan setelah beberapa hal yang sempat aku berikan padanya dan itu tidak bisa dibilang murah, harusnya dia tidak melupakan ulang tahunku begitu saja. Dia berdalih jika dia tidak lupa. Tetapi karena kita bertengkar, dia enggan menghubungiku terlebih dahulu meskipun aku sedang berulang tahun.
Aku tidak mengharapkan jawaban seperti itu dari laki-laki berusia 19 tahun. Sangat tidak dewasa dan mengedepankan ego. Aku tidak bisa mentolerir sikapnya yang seperti ini. Sehingga kuputuskan untuk tidak menggubris perkataannya dan kembali mengikuti banyak acara.
Tentu dia semakin marah padaku karena aku mengabaikannya. Tapi aku yang ingin cara cepat mengirim makanan ringan padanya agar dia tidak marah padaku. Itu berlangsung beberapa kali hanya karena aku mencintainya meskipun aku kehilangan respect padanya.
Aku yang mulai mengikuti banyak kegiatan di sekolah mengajak temanku mengikuti olimpiade statistika. Itu aku lakukan sebagai peralihan dan juga untuk menambah pengalaman. Sekolah mengadakan beberapa kali bimbingan sebelum olimpiade itu berlangsung. Dia tidak suka karena itu membuat waktuku dengannya semakin sedikit. Dengan sikapnya yang tidak berubah dan bertepatan aku yang telah menemukan tujuanku kembali merasa inilah akhirnya.
Dia yang tidak terima kemudian menghapus semua akun sosial medianya yang aku ketahui. Aku kembali menemukan ritmeku di antara lomba-lomba dan olimpiade dan kembali fokus dalam sekolahku. Di sana aku belajar tidak semua cinta dapat berakhir berdampingan, beberapa di antaranya hanya memberi kisah lalu menjadi pelajaran.
Rania Adyanti Sakanti Justiawan
1906321028
Politeknik Negeri Jakarta
