Menyambangi Tanah Suci dalam Cuaca yang Tidak Biasa

Student at Jakarta State Polytechnic Major Journalism Publishing
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rania Adyanti Justiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika kota terbaik umat islam menyambut jemaahnya dengan suhu udara yang lebih rendah, pengalaman yang dirasakan berbeda dengan milik kebanyakan orang.
Angin malam menusuk pori seolah mengucapkan selamat datang pada kami, jemaah umrah asal Indonesia, saat menapakkan kaki di Bandara Internasional King Abdul Aziz, ibu kota Saudi Arabia, Jeddah. Suhu dan kelembapan yang rendah menemani kami sejak mengurus proses administrasi hingga mengganti baju ke pakaian ihram. Ruang ganti yang tertutup ikut mengirimkan hawa dingin melalui tegel berwarna merah yang memenuhi lantai. Saat melangkah ke luar, keheranan kami atas dinginnya udara terjawab oleh indikator suhu yang menunjukkan angka 25 derajat celsius.
Petugas travel saat mengiringi kami ke bus sempat berkata jika nanti suhu di Makkah dan Madinah akan lebih rendah dari ini. Itu tidak sempat terpikir olehku, karena kami harus beristirahat sebelum menunaikan ibadah umrah beberapa jam lagi.
Menginjakkan kaki di kota Makkah pada tengah malam dalam tiupan angin yang tak mau berhenti. Ya, udara Makkah jauh lebih dingin dari biasanya. Bus yang kami tumpangi berhenti di depan hotel. Seketika udara dingin menempel pada seluruh penumpangnya yang turun, hingga mereka harus memasuki lobby demi menghangatkan diri. Kami dibagi ke dalam beberapa kamar, sedangkan barang bawaan akan diantar ke tiap kamar di pagi hari.
Seluruh jemaah berkumpul di lobby, beberapa di antaranya menyiapkan air minum untuk dibawa, sekaligus menunggu beberapa yang lain yang berada di toilet. Rombongan berangkat dengan berjalan kaki pukul satu dini hari. Angin meniup pakaian ihram kami yang serba putih, membuat kami seolah kapan saja dapat terbang dibawa angin. Meniup ku hingga kaus kaki dan kerudung panjang yang ku kenakan tidak dapat menghalau dinginnya udara Makkah kala itu. Ustad sesekali menyemangati agar kami terus berjalan menghalau angin.
Dari kejauhan tampak bangunan Masjidil Haram yang megah dengan kubah besar berwarna putih yang menyambut ribuan jemaahnya dari seluruh dunia. Di depannya terdapat pelataran lebar sebesar lapangan futsal, melewatinya kami harus melepas alas kaki. Meski hawa dingin seolah menyuntik dari telapak kaki, kami tetap berjalan masuk untuk menunaikan tawaf.
Atmosfer terasa berbeda ketika memasuki bangunan Masjidil Haram. Di kanan kiri dipenuhi jemaah berbusana muslim lengkap sedang menunaikan salat, berdoa, atau membaca quran. Hati pun terasa tentram, berdesir mengingat seberapa besar kuasa-Nya. Bukan karena melihat orang lain, tetapi karena berada di tempat suci ini.
Di bagian tengah masjidil haram berdiri tegak Ka’bah, kiblat seluruh umat muslim di dunia. Bangunan dengan tinggi 10-12 meter itu dibalut kain kiswah berwarna hitam legam. Perasaan haru menyelimuti siapa saja yang melihatnya. Dalam barisan, aku dan rombongan travel berputar mengelilingi Ka’bah demi menunaikan tawaf. Meski begitu tak dapat kami sembunyikan rasa dingin yang menyerang hingga tulang.
Usai melaksanakan tawaf, kami berlari-lari kecil dari bukit safa menuju bukit marwah demi menunaikan sai, prosesi umrah selanjutnya. Bukit safa dan marwah telah diubah menjadi ruangan tanpa menghilangkan bukit aslinya. Jemaah berlari-lari kecil sambil membaca doa kemudian mengulanginya lagi hingga 7 kali.
Setelah menyelesaikan tawaf, kami menunaikan tahalul, atau memotong tiga helai rambut oleh mahram. Prosesi umrah selesai di sana, tetapi karena sebentar lagi azan subuh berkumandang, aku memilih untuk menetap di Masjidil Haram dan mencari shaf salat paling dekat dengan Ka’bah.
Angin terus menghembus bahkan hingga pukul 6 ketika kami berniat keluar Masjidil Harm setelah 30 menit sesudah matahari terbit. Tak hentinya kota suci umat islam ini membuatku menyebut nama baik Allah. Tanah yang sering dikisahkan kebanyakan orang panas dan gersang ini menyambut kami dengan sejuk yang cenderung dingin. Meninggalkan perasaan nyaman dan tenang saat harus menerjang suhu rendah demi menunaikan panggilan-Nya.
Rania Adyanti Sakanti Justiawan
1906321028
Politeknik Negeri Jakarta
