Konten dari Pengguna

Balas Dendam Terbaik

Ranna Nuriakhila

Ranna Nuriakhila

Saya merupakan mahasiswa Akuntansi Universitas Pembangunan Jaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ranna Nuriakhila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi depresi akibat bullying (sumber: https://unsplash.com/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi depresi akibat bullying (sumber: https://unsplash.com/)

Pernah tidak kamu berpikir apa yang sudah kamu lakukan sehingga kamu dirundung oleh temanmu sendiri? Jika kamu di bully pasti kamu ingin membalas dendam kepada orang yang telah membully kamu karena merasa tidak adil untuk kalian kan? Pada saat itu, saudara saya juga berpikir ingin balas dendam kepada mereka yang sudah membullynya dengan cara menyakiti mereka juga. Namun, taukah kalian ada pembalasan yang lebih baik dan terhormat daripada itu. Tau tidak pembalasan dendam terbaik itu seperti apa?

Bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara berulang-ulang oleh suatu kelompok terhadap individu tertentu. Bullying biasanya ditujukan kepada orang-orang yang dianggap lebih lemah atau berbeda dari kebanyakan orang lainnya.Biasanya seseorang menjadi korban bullying karena penampilan fisiknya yang tidak putih, gendut, dan pendek. Bahkan, dalam kisah percintaanpun dapat memicu terjadinya bullying seperti memperebutkan sang pacar atau pacarnya ketahuan selingkuh. Dan biasanya latar belakang keluarga juga dapat memicu terjadinya bullying.

Bullying tidak hanya dari tindakan seseorang seperti memukul, tetapi juga bisa berasal dari Verbal Bullying, yaitu perundungan dari perkataan seperti mengejek, menghina, memanggil dengan sebutan yang tidak pantas, dan bahkan mengancam. Berbohong, menyebarkan rumor negatif, mempermalukan seseorang, dan mengucilkan seseorang merupakan perundungan di sosial. Selain itu, ada juga Cyberbullying, yaitu perundungan yang berasal dari media massa. Perundungan ini meliputi menggugah gambar atau video yang tidak pantas, menyebar gossip secara online, dan menggunakan informasi orang lain di media sosial.

Bullying pada anak-anak atau remaja dapat menyebabkan rendahnya harga diri, depresi, kecemasan dan kesulitan tidur nyenyak. Kondisi ini pula yang menyebabkan korban ingin melukai tubuhnya sendiri. Saudara saya sewaktu SMP pernah dibully oleh teman-temannya sendiri yang menyebabkan dirinya menjadi depresi. Dia dibully karena fisiknya yang sedikit berisi dan tidak putih. Dia juga dituduh berselingkuh dengan pacar temannya. Dia dihina, tidak ditemani oleh teman sekelasnya dan diancam oleh temannya itu. Setiap sepulang sekolah dia selalu menangis dan mengurung dirinya di dalam kamar. Karena orang tuanya tidak tahan melihat anaknya seperti itu, akhirnya orang tuanya kesekolah dan berdiskusi dengan kepala sekolah dan para guru bagaimana ini bisa terjadi. Temannya itu akhirnya di keluarkan dari sekolah. Tetapi saudara saya masih tetap merasa trauma disekolah itu. Akhirnya saudara saya memilih untuk pindah dari sekolah itu. Walaupun dia sudah pindah sekolah, dia tetap merasa cemas akan perundungan. Dia selalu memebiarkan dirinya kelaparan agar cepat kurus. Dan menjadi lebih pendiam dan selalu berhati-hati dalam setiap tindakannya. Mendengar itu, saya menjadi tahu bahwa perkataan dan tindakan seseorang akan selalu membekas di ingatannya. Banyak korban perundungan yang merasa depresi, stres, gangguan kecemasan, dan bahkan menjadi pendiam atau menjadi orang yang sangat berbeda.

Berbagai penelitian mengenai bullying menguatkan temuan bahwa korban bullying memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami gangguan depresi dibandingkan dengan generasi muda yang tidak mengalami bullying. Sebuah studi yang dilakukan oleh Fekkes, Pijpers, dan Verloove-Vanhorick (2004) menunjukkan bahwa korban bullying mengalami depresi sedang tiga kali lebih banyak dan depresi berat tujuh kali lebih banyak dibandingkan subjek yang tidak mengalami bullying. Berdasarkan pemaparan-pemaparan di atas, maka semakin sering mengalami bullying pada individu maka akan semakin berat depresi yang dialami dan sebaliknya semakin jarang mengalami bullying pada individu maka semakin ringan depresi yang dialami.

"Bullying is a weakling's approach to attempting to cause themselves to feel greater and all the more remarkable."

– Demi Lovato

Buat kamu yang pernah di-bully dan dibuat merasa jelek, gendut, pendek, sehingga membuat kamu depresi atau bahkan ingin bunuh diri karena depresi. Biarpun kamu ingin membalas dendam dengan cara yang sama, hentikan! Hidupmu sangat berharga. Kamu berhak untuk bahagia dan sukses karena itu milik semua orang. Pengalaman pahit akibat bullying tidak mudah dilupakan. Namun, sampai kapan kamu merasa tertekan dan menahan marah seperti itu? Masih banyak yang harus kamu lakukan, bagaimana membahagiakan orang yang kamu cintai dengan berjuang dengan penuh semangat dan tekad. Jangan menyerah. Buktikan bahwa kamu pasti bisa berbuat lebih baik dari mereka yang menindasmu. Sekaranglah waktunya mengubah penindasan menjadi prestasi.

Ilustrasi perubahan pengalaman bullying menjadi prestasi (sumber: https://unsplash.com/)

Mengubah pengalaman penindasan menjadi prestasi merupakan perjalanan pribadi yang sulit karena memerlukan kesabaran, ketekunan, dan transformasi batin. Meski sulit dan menantang, namun dapat memberikan perbedaan besar dalam perkembangan seseorang. Pertama, pahami diri dan temukan potensi yang ada di dalam diri kamu. Menurut Carl Rogers, pendiri psikologi humanistik, konsep diri adalah pengetahuan seseorang tentang siapa dirinya, ditinjau dari kepribadian, kemampuan, dan perilakunya. Mengubah pengalaman penindasan menjadi prestasi dimulai dengan pemahaman diri yang mendalam. Individu harus merefleksikan nilai-nilai, kekuatan dan potensi mereka. Mengenali bakat, minat, dan keunikan seseorang dapat menjadi dasar perubahan positif. Pemahaman diri yang mendalam memungkinkan orang mengubah pandangan dirinya dari seorang korban menjadi kemampuan individu yang unik untuk mencapai tujuan pencapaian.

Berikutnya, adalah mencari potensi yang mungkin belum tergali secara maksimal. Hal ini mencakup eksplorasi lebih lanjut terhadap minat dan bakat yang mungkin terabaikan akibat perundungan. Menemukan dan mengembangkan potensi terpendam bisa menjadi kunci pencapaian yang luar biasa. Penting untuk mengubah perspektif Anda dari negatif menjadi positif. Jika seseorang mengalami perundungan karena keunikan tertentu, maka kita perlu mengubah persepsinya sebagai “berbeda” menjadi "unik” sehingga dapat menjadi kunci kesuksesan dan meraih prestasi. Ini melibatkan merayakan keunikan dan menilainya sebagai kekuatan, bukan kelemahan.

Kedua, membangun dukungan sosial yang kokoh dan kuat. Menurut Hawkins dan Pepler (2001), hubungan positif dengan teman dan orang dewasa dapat memberikan dukungan sosial yang dapat menetralisasi dampak negatif dari bullying. Dukungan sosial berperan penting dalam mengatasi dampak buruk penyiksaan dan mengarahkan energi menuju pencapaian positif. Mengembangkan kekuatan organisasi melibatkan pembicaraan dengan rekan kerja, anggota keluarga, atau konselor yang dapat memberikan dukungan mendalam dan bermakna. Selain itu, bekerja dengan orang-orang berpengaruh dapat membuka pintu bagi upaya bersama yang memajukan perjalanan menuju pencapaian. Menciptakan lingkungan yang memberdayakan dan mendukung pencapaian adalah kunci untuk membangun landasan yang kuat.

Dukungan sosial juga dapat berarti menerima dukungan dari jaringan atau kelompok yang memiliki kepentingan serupa. Bergabung dengan kelompok atau perkumpulan yang memahami dan menghargai perjuangan yang dialami dapat memperkuat apresiasi moral dan kenyamanan. Dalam konteks kesuksesan, dukungan sosial juga berarti orang-orang yang dapat memberikan pandangan objektif, memotivasi dan memberikan dukungan moral bila diperlukan. Peluang baru juga muncul ketika kamu bekerja dengan orang-orang yang suportif. Teman atau mentor dapat memberikan bimbingan dan kenyamanan yang mengenali potensi dan bakat seseorang yang belum tergali secara maksimal. Ini merupakan langkah penting dalam sistem perencanaan untuk membangun prestasi, keberanian dan kepercayaan diri.

Ketiga, ubah trauma menjadi kekuatan. Cara paling umum untuk mengubah trauma penindasan menjadi sumber kekuatan pribadi adalah melalui perjalanan atau penguasaan batin yang mendalam dan mengubah emosi gelap atau negatif menjadi sumber inspirasi yang baik. Salah satu artis yang berhasil lepas dari trauma bullying adalah Prilly Latuconsina yang menjadikan pengalamannya sebagai motivasi untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Ini adalah bentuk balas dendam terbaik di mana mereka menggunakan rasa sakit mereka sebagai kekuatan untuk mengatasi rintangan dan mencapai kesuksesan. Kamu harus mengakui dan menghadapi trauma dengan bijak, menyadari bahwa pengalaman negatif dan trauma dapat menginspirasi pencapaian yang luar biasa yang bisa digunakan untuk meraih prestasi.

Mengubah trauma menjadi kekuatan memerlukan kesadaran dan tekad untuk menggunakan pengalaman negatif sebagai katalisator perubahan positif. Misalnya, orang yang pernah mengalami penindasan mungkin menggunakan pengalamannya untuk berbicara tentang penindasan atau menceritakan kisahnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Individu dapat memberi makna pada pengalaman sulit dengan mengubahnya menjadi tindakan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Dalam siklus ini, orang-orang yang berhasil mengatasi rintangan luar biasa dan mencapai kesuksesan luar biasa dapat menganggap dirinya sebagai pemenang. Bertahan hidup bahagia dan sukses dari kekerasan bukan hanya sebuah perjalanan pribadi, namun juga berdampak besar pada lingkungan di sekitar kamu.

Mereka yang pernah mengalami perundungan tidak perlu bersedih atau membatasi diri dengan pengalaman pahit tersebut atau bahkan berniat balas dendam dengan cara yang sama. Jangan pernah kamu berpikir untuk balas dendam dengan cara seperti itu. Itu perbuatan yang KOTOR! Dan sama saja kamu kotor seperti mereka. Walaupun ingin membalas dendam, balaslah dengan cara yang lebih terhormat yaitu dengan cara meraih prestasi atau kesuksesan. Kamu perlu mengerti diri kamu sendiri untuk menghargai potensi kamu, mengubah konsep diri yang negatif dan mengembangkan dukungan sosial yang kuat. Ketika menghadapi trauma, kamu harus melihatnya sebagai sumber kekuatan yang dapat digunakan untuk mencapai prestasi bahkan membuat komitmen positif kepada masyarakat. Selain itu, pesan bagi pelaku intimidasi adalah memikirkan kembali tindakan kamu dan berhenti merasa superior, berkuasa, dan sempurna. Oleh karena itu, korban bullying harus didorong untuk bangkit, mengubah pengalaman sulit menjadi prestasi dan mampu menunjukkan bahwa tantangan sulit sekalipun dapat diatasi.

Ranna Nuriakhila, Mahasiswa Akuntansi Universitas Pembangunan Jaya.