Konten dari Pengguna

Mengenal The Illusory Truth Effect agar Lebih Kritis Menanggapi Informasi

Rahmadea An Nariya

Rahmadea An Nariya

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmadea An Nariya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Misinformation on the web. Illustration by Carlos PX at unsplash.com)
zoom-in-whitePerbesar
Misinformation on the web. Illustration by Carlos PX at unsplash.com)

Di masa pandemi ini banyak sekali hoaks yang tersebar, baik di media massa maupun lingkungan masyarakat. Misalnya, hoaks mengenai keefektifan vaksin. Hari ini kita mendengar bahwa vaksin aman dan tidak menimbulkan efek samping yang berkepanjangan. Esok harinya, kita mendengar informasi bahwa ada beberapa orang yang jatuh sakit setelah mendapatkan vaksin. Di hari selanjutnya muncul kabar seperti itu lagi dan lagi. Di saat itu, otak kalian akan merasa bingung dengan bombardir berita simpang siur mengenai vaksin. Sampai pada akhirnya kalian akan mengambil kesimpulan bahwa vaksin tidaklah aman dan kalian akan merasa  ragu untuk mendaftarkan diri dalam vaksinasi. Padahal, fakta sesungguhnya mengenai hal tersebut belum kalian ketahui. Dalam Psikologi, fenomena tersebut dinamakan The Illusory Truth Effect.

Apa itu Illusory Truth?

Illusory Truth adalah sebuah fenomena yang terjadi ketika kita mendengar atau melihat suatu informasi secara berulang-ulang kemudian kita merasa yakin bahwa informasi tersebut benar adanya padahal kita belum tahu fakta sesungguhnya. Pengulangan itu membuat otak kita merasa familier terhadap hal tersebut yang kemudian akan membentuk suatu validasi secara otomatis mengenai infromasi itu (Rachmawati, A. 2020).

Pada tahun 1977, tiga peneliti dari Temple University yaitu Lynn Hasher, David Goldstein, dan Thomas Toppino melakukan sebuah penelitian mengenai Illusory Truth. Mereka mengundang beberapa mahasiswa dalam dua sampai tiga sesi pertemuan untuk membaca sebuah daftar pernyataan yang sama setiap sesinya. Pernyataan yang digunakan merupakan pernyataan logis tetapi mereka tidak mengetahui detail dari kebenarannya. Kemudian, hasil menunjukkan bahwa, pada sesi ketiga, mereka yakin jika kebenaran dari pernyataan tersebut lebih akurat (Hassan, A. & Barber, S. J. 2021).

Lantas, apa saja faktor yang mempengaruhi terjadinya Illusory Truth ?

Di era 4.0 ini, informasi adalah suatu hal yang dapat diakses dengan mudah, kapanpun dan dimanapun. Kemudahan inilah yang menyebabkan banyaknya repetisi atau pengulangan sebuah informasi. Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa pengulangan suatu informasi dapat memicu terjadinya Illusory Truth (Fazio, L. K. 2015).

Sehubungan dengan pernyataan di atas, informasi yang terlalu banyak terkadang membuat kita malas untuk mencari tahu kebenaran mengenai informasi tersebut secara mendalam. Sehingga, kita memutuskan untuk mencari sebuah informasi yang mudah dipahami.  Hal tersebut membuat kita mudah menyimpulkan suatu informasi tanpa membandingkannya dahulu dengan informasi lain.

Selanjutnya, terdapat dua sistem yang mempengaruhi kita dalam pengambilan keputusan dan sistem penalaran. Seorang psikolog Amerika, Daniel Kahneman, mengemukakan bahwa Sistem 1 menangani pemrosesan secara otomatis dan cepat. Sementara itu, sistem 2 menangani pemrosesan berada di bawah kendali kesadaran kita. Sistem ini menguras lebih banyak sumber daya kognitif  yang  kita punya karena diperlukan usaha begitu keras dan analitis di dalam pemrosesannya. Kita menggunakan sistem 2 ini untuk pemrosesan tertentu misalnya, penyelesaian soal matematika.

Kemudian, melanjutkan dari faktor sebelumnya, manusia tidak bisa sepenuhnya rasional. Setiap hari, kita membuat rata-rata 35.000 keputusan. Setiap informasi yang kita dapat dalam setiap detik tidak bisa kita proses semuanya secara mendetail karena hanya beberapa informasi, yang bagi kita menarik atau ingin kita ketahui, yang nantinya akan kita pilih untuk kemudian di proses secara lebih lanjut ke dalam sistem 2.

Setelah dijelaskan beberapa faktor yang memicu terjadinya Illusory Truth di atas, selanjutnya kita akan membahas upaya yang dapat kita lakukan untuk menghindarinya.

Lalu, bagaimana cara agar kita terhindar dari fenomena tersebut?

Cara terbaik untuk menghindari Illusory Truth ini adalah menggunakan critical thinking atau berpikir kritis. Dengan membiasakan berpikir kritis maka kita akan lebih berhati-hati dalam membuat sebuah kesimpulan dan tidak serta merta menanggapi sebuah informasi tanpa bukti yang konkret. Dasar untuk mengembangkan sikap ini yaitu dengan mindfulness atau kesadaran penuh dan open-mindedness atau keterbukaan-pikiran. Selain itu, ketika kalian ragu tentang kebenaran dari sebuah informasi lebih baik jangan mengatakan informasi tersebut kepada orang lain. Karena hal tersebut bisa memicu terjadinya Illusory Truth.

Daftar Pustaka

Fazio, L. K., Brashier, N. M., Payne, B. K., & Marsh, E. J. (2015). Knowledge does not protect against illusory truth. Journal of Experimental Psychology: General. 144(5), 993–1002. https://doi.org/10.1037/xge0000098

Hassan, A. & Barber, S. J. (2021). The effects of repetition frequency on the illusory truth effect. Cognitive research: Principles and implications. 6(38), 1 – 12. https://doi.org/10.1186/s41235-021-0031-5

Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Macmillan.

Krockow, E. (2018, September 27). How many decisions do we make each day?. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/ca/blog/stretching-theory/201809/how-many-decisions-do-we-make-each-day

Rachmawati, A. (2020, 3 Juni). The Illusionary Of Truth: Cara Membuat Kebohongan Menjadi Sebuah Fakta. https://gc.ukm.ugm.ac.id/2020/06/the-illusionary-of-truth-cara-membuat-kebohongan-menjadi-sebuah-fakta/

Why do we believe misinformation more easily when it’s repeated many times. The Decision Lab. https://thedecisionlab.com/biases/illusory-truth-effect/#0