People Come and Go : Menerima Berakhirnya Sebuah Hubungan dengan Mindfulness

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Tulisan dari Rahmadea An Nariya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Putus cinta merupakan hal yang wajar terjadi ketika menjalin sebuah hubungan. Proses ini mungkin akan sangat lama dan menyakitkan jika hubungan yang dilalui telah berjalan selama bertahun-tahun. Adanya kebiasaan sehari-hari untuk berkomunikasi atau bertemu dengan pasangan anda lalu tiba-tiba ia mengakhiri hubungan kalian secara sepihak mungkin akan memberikan perasaan yang menyedihkan bagi anda. Bahkan, gagal move on dari hubungan tersebut.
Untuk bertahan dan bangkit dari situasi tersebut tentunya tidak dapat dilakukan secara instan. Seringkali, kita akan berdebat dengan diri sendiri dan menanyakan kenapa pada akhirnya hubungan ini harus berakhir. Karena suatu saat nanti, kita harus menerima kepergian pasangan kita, entah itu karena kematian atau karena takdir. Fakta bahwa people come and go tidak dapat kita pungkiri. Penerimaan mengenai fakta itu disebut dengan mindfulness.
Apa Itu Mindfulness?
Mindfulness memiliki arti sadar penuh hadir utuh (Silarus, 2015). Keadaan tersebut terjadi ketika kita menaruh atensi terhadap pengalaman yang terjadi saat ini dan menerimanya dengan apa adanya. Yusainy (2018), dengan mindfulness, pengalaman atau perasaan yang hadir saat ini diberi atensi penuh tanpa berupaya untuk menyangkalnya. Mindfulness juga suatu keadaan ketika kita tidak memikirkan masa lalu dan mencemaskan masa depan
Dalam kasus ini, kita menggunakan mindful grieving yaitu praktik mindfulness yang dilakukan ketika dalam keadaan berduka atau bersedih. Ada masanya seseorang akan pergi dari hidup kita. Namun, kebanyakan orang menganggap grieving sebagai suatu masalah atau keadaan yang harus segera diselesaikan. Hal tersebut bertentangan dengan konsep mindfulness yang mana kita akan menerima apapun yang terjadi, baik atau buruk.
Lantas, bagaimana Cara Menerapkan Mindful Grieving?
Menurut Devine dalam Hubbard (2021), ada tujuh langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesedihan dengan mindfulness :
1. Terima dan akui perasaanmu
Langkah pertama dalam mindful grieving adalah menerima segala perasaan yang anda rasakan. Kenali perasaanmu dan jangan menghakiminya atau mencoba menyangkalnya. Misalnya, menyadari bahwa anda merasa sedih karena berakhirnya hubungan itu, akui jika anda kecewa. Sadari, bahwa perasaan saat ini adalah giliran untuk bersedih.
2. Ekspresikan dirimu
Setelah anda dapat menerima perasaanmu, selanjutnya adalah ungkapkan apa yang anda rasakan. Misalnya, menulis atau journaling, mendengarkan musik, mencoba hobi baru, berolahraga, dan lain-lain. Sebagian orang merasa bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dapat membuatnya lega karena telah mengutarakan perasaannya. Sebuah studi yang dilakukan Furnes (2010) menemukan bahwa journaling merupakan sebuah media untuk meningkatkan pemahaman dan makna mengenai perasaan individu yang sedang bersedih.
3. Ketahuilah bahwa anda tidak sendirian
Duka merupakan pengalaman yang bersifat universal dimana semua orang pasti pernah dan akan mengalaminya. Entah itu berduka karena putus cinta, kematian orang tersayang, dipecat dari perusahaan, dan lain-lain. Perlu digarisbawahi bahwa anda tidak sendirian dalam melalui proses ini.
4. Cobalah meditasi yang berfokus pada kesedihan
Ketika berduka, meditasi tampak seperti hal yang mustahil untuk dilakukan. Dengan duduk dan berfokus pada emosi dan pikiran membuat diri anda dapat menerima dan merasakannya. Sebuah studi oleh Bostock (2019) mendapati bahwa aplikasi mindfulness meditation berdampak secara signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan secara psikologis.
5. Ciptakan lingkungan yang sehat
Ketika bersedih mungkin beberapa teman anda akan memberi kata semangat dan beberapa saran untuk membantu anda bangkit dari keadaan tersebut. Akan tetapi, tidak semua afirmasi itu harus anda terima. Mungkin disaat itu anda hanya butuh untuk didengarkan dan divalidasi. Katakan kepada orang sekitar, apa yang anda butuhkan.
6. Lepaskan!
Lepas disini berarti jangan berusaha untuk menyangkal perasaan anda. Tidak ada garis finish untuk kesedihan, rasa kehilangan akan selalu ada. Namun, jika anda merasakan dampak negatif dari kesedihan ini dan berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari, segera cari bantuan profesional!
7. Ceritakan kisah anda.
Ceritakan bagaimana anda menghadapi kesedihan itu. Dengan menceritakannya, anda akan menghargai proses anda dalam menghadapi keadaan tersebut.
Mindfulness tidak dapat menghapus kesedihan anda. Namun, mindfulness mendukung otak anda yang sedang bersedih dengan memberinya ruang untuk bernapas. Melalui pemahaman dan penerimaan mengenai perasaan, disitulah mindfulness berperan. Pada kenyataannya, ketika kita kehilangan seseorang yang memiliki ikatan emosional dengan kita, perasaan kehilangan itu tidak pernah benar-benar hilang akan tetapi menjadi bagian dari hidup kita. Semua orang yang hadir dalam hidup memiliki masa nya masing-masing. Kapan dia datang dan kapan dia akan pergi.
Daftar Pustaka
Bostock, S., Crosswell, A. D., Prather, A. A., & Steptoe, A. (2019). Mindfulness on-the-go: Effects of a mindfulness meditation app on work stress and well-being. Journal of Occupational Health Psychology, 24(1), 127–138. https://doi.org/10.1037/ocp0000118
Furnes, B., & Dysvik, E. (2010). A systematic writing program as a tool in the grief process: part 1. Patient Prefer Adherence, 425–431. https://doi.org/10.2147%2FPPA.S14864
Hubbard, A. (2021, 9 Juli). Present Tense: 7 Mindfulness Strategies to Cope with Loss. Helathline. Diakses dari https://www.healthline.com/health/mind-body/mindfulness-strategies-to-cope-with-loss
Silarus, A. (2015). Sadar penuh, hadir utuh. Jakarta: TransMedia Pustaka.
Yusainy, C., Nurwanti, R., Dharmawan, I. R. J., Andari, R., Mahmudah, M. U., Tiyas, R. R., Husnaini, B. H. M., & Anggono, C. O. (2018). Mindfulness Sebagai Strategi Regulasi Emosi. Jurnal Psikologi. 17(2), 174–188.
