Saat Gizi Menjadi Harapan: Perlawanan Sunyi Melawan stunting di Tengah Kota

mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ranti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta selalu bergerak cepat. Tapi di sudut kecil Pademangan Timur, ada sesuatu yang tumbuh pelan-pelan. Bukan gedung pencakar langit, bukan jalan tol baru, tapi kesadaran: bahwa tubuh mungil anak-anak bisa membawa pesan besar kita sedang terlambat memberi mereka hak untuk tumbuh. Hal ini sudah seharusnya menjadi perhatian kita semua. Stunting bukanlah sesuatu yang dapat kita biarkan, karena kedepannya pasti akan mempengaruhi banyak hal.
Di RW 010, Pademangan Timur, Jakarta Utara, warga memutuskan untuk tidak tinggal diam. Stunting bukan sekadar istilah medis di brosur puskesmas. Bagi mereka, itu berarti masa depan anak yang bisa terganggu hanya karena kurangnya akses dan perhatian terhadap gizi sejak dini. Maka dari itu berbagai upaya mereka lakukan agar pertumbuhan gizi setiap anak dapat tercukupi.
Sunyi yang Tidak Diam
Perlawanan itu tidak datang dalam bentuk unjuk rasa atau seminar besar. Ia muncul dari meja-meja kecil di Posyandu, dari dapur-dapur rumah tangga, dari percakapan antar tetangga yang mulai bertanya: "Kenapa anakku beratnya tak naik?"
Ibu Sari, salah satu warga, masih ingat saat cucunya dikatakan berisiko stunting.
“Dia makan kok, aktif juga. Tapi katanya berat badannya kurang dari standar yang ada. Awalnya saya merasa seperti disalahkan,” katanya lirih.
Pengalaman seperti Ibu Sari bukan hal yang asing. Banyak orang tua merasa dikritik secara halus oleh istilah “stunting”, padahal mereka sudah berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan buah hati mereka. Di sinilah pendekatan personal dari kader posyandu menjadi krusial.
Ibu Sumartini, kader Posyandu RW 010, menyadari pentingnya komunikasi yang membangun bukan menyalahkan.
“Kami tidak datang untuk menghakimi. Kami datang untuk mendengarkan dan mendampingi. Kadang cukup ngobrol santai, baru mereka terbuka.”
Gizi yang Tidak Hanya Tentang Makanan
Di RPTRA Patimura, perubahan juga dilakukan. Setiap pagi, anak-anak yang masuk daftar pemantauan stunting mendapatkan makanan tambahan bergizi melalui program Mamang Turing. Ada telur, buah, kudapan protein, dan susu.
Tapi program ini bukan cuma soal makanan. Para ibu diajak mengikuti sosialisasi bersama, belajar menyusun menu sehat dari bahan lokal, dan saling bertukar pengalaman. Jika anak absen, makanan dikirim ke rumah. Karena bagaimanapun baik dari pihak RPTRA maupun pihak Posyandu memiliki tujuan dan harapan yang sama, yaitu ingin memastikan bahwa pertumbuhan gizi anak-anak di pademangan timur dapat tercukupi dan sesuai dengan standar pertumbuhan gizi yang telah ada sejak lama.
Jika ada anak yang terindikasi stunting, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk memantau dan memberikan penanganan yang terbaik agar anak tersebut menjadi lebih stabil pertumbuhannya.
Ketua PKK RPTRA Patimura menjelaskan,
“Kami ingin program ini terasa seperti dukungan, bukan kewajiban. Kita saling bantu, bukan saling menilai.”
Laki-Laki Mulai Terlibat
Di banyak tempat, urusan gizi anak masih dianggap ranah perempuan. Tapi tidak di RW 010. Bapak Udin, salah satu warga, aktif mengikuti kegiatan dan mengemukakan pendapatnya.
“Kalau harus beli makanan sehat tiap hari itu berat, apalagi buat keluarga pas-pasan. Tapi ada bantuan, itu sangat membantu. Saya dan istri jadi lebih semangat bareng-bareng,” tuturnya.
Dengan perubahan kecil ini, peran ayah yang mulai hadir membuat pencegahan stunting jadi kerja kolektif, bukan hanya beban satu orang. Hal ini dapat perlahan merubah persepsi masyarakat bahwa orang tua harus bekerja sama untuk memastikan sang anak mendapatkan kebutuhan gizi mereka dengan baik, tidak hanya ibu saja yang berperan penting namun ayah juga memiliki peran yang sangat amat penting dalam hal ini.
Harapan Itu Nyata
Apa yang terjadi di RW 010 dan RPTRA Patimura menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu datang dengan gegap gempita. Terkadang, ia hadir dalam bentuk paling sunyi: satu mangkuk bubur kacang hijau, satu kunjungan ke rumah warga, satu sesi makan bersama di RPTRA.
Dan dari sunyi itu, harapan tumbuh. Anak-anak yang dulu terpantau stunting kini berat badannya naik. Orang tua mulai lebih peka terhadap pola makan. Dan yang paling penting, komunikasi antara warga dan pemerintah menjadi lebih terbuka dan setara. Sehingga permasalahan stunting yang tadinya sulit untuk diperbaiki perlahan mulai dapat dicegah untuk terjadi.
Karena di tengah kota yang sibuk ini, gizi bukan sekadar angka ia adalah harapan.
Harapan bahwa setiap anak, betapapun kecil tubuhnya hari ini, berhak tumbuh besar dengan mimpi yang tak dibatasi oleh kurangnya perhatian kita kemarin.
