5 Tips Sederhana Mengatur Keuangan Keluarga

Content editorial specialist in one of news agregator companies. Freelance Writer&Reviewer. IG @raramispawanti
Tulisan dari Rara Mispawanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Halo semuanya, apa kabar? Artikel kali ini aku dedikasikan untuk seluruh perempuan diluar sana yang masih mencari cara paling efisien dan efektif dalam mengatur keuangan keluarga.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016 oleh OJK, sebesar 36,02% saja masyarakat di Indonesia yang memiliki kemampuan menghitung investasi. Bahkan secara umum, perempuan di Indonesia cenderung memiliki literasi keuangan yang lebih rendah dibandingkan pria. Tidak heran jika sebagian perempuan di Indonesia masih merasa minder dalam mengatur keuangan keluarga. Padahal stigma "menteri keuangan di rumah adalah perempuan" sangat umum di Indonesia. Stigma ini seolah-olah memaksa perempuan untuk cerdas dalam mengatur keuangan keluarga.
Beruntungnya aku bisa hadir di kegiatan MOMS Mingle: Mom as the Guardian of the Family yang diselenggarakan oleh Kumparan dan PT Sun Life Financial Indonesia hari Sabtu, 20 Juli 2019 lalu di Cerita Rasa resto. Di MOMS Mingle tersebut, aku mendapatkan ilmu langkah-langkah sederhana dalam mengatur keuangan keluarga dan mengawali gaya hidup sehat secara langsung. Pembicara pagi hari kala itu adalah:
Shierly Ge, CMO Sun Life Financial Indonesia
Annisa Sagita (Nisye), financial planner
Kelly Tandiono, public figure
Kania Annisa, mompreneur.
Tidak hanya itu, permainan sederhana oleh Nisye setelah sesi materi juga menjadi ajang yang tepat untuk mempraktekkan ilmu mengatur keuangan keluarga di hari itu. Nah akhirnya setelah acara selesai, aku merasa ada 5 tips sederhana mengatur keuangan keluarga yang bisa diterapkan oleh siapa saja, terutama kalian yang sudah berkeluarga. Yuk simak kelima langkah tersebut dibawah ini.
Tips Gaya Hidup Sehat dan Mengatur Keuangan Keluarga
Berdasarkan diskusi dan pemberian materi dari keempat pembicara tersebut, aku menyadari bahwa definisi sehat yang sesungguhnya adalah sehat secara fisik dan mental yang keduanya sangat dipengaruhi oleh gaya hidup dan pengaturan keuangan. Perempuan mana yang tidak ingin membangun keluarga yang sehat kan ya. Oleh sebab itu, kita perlu memulai gaya hidup sehat dengan cara tidak malas jalan kaki, mengurangi MSG, mengurangi garam, dan rutin berolahraga.
Sementara itu, langkah awal mengatur keuangan keluarga aku simpulkan menjadi lima tips sederhana mengatur keuangan keluarga dibawah ini:
Bagi kebutuhan menjadi 3 hal utama, yaitu kebutuhan masa kini, kebutuhan masa depan, dan kebutuhan darurat.
Buatlah kesepakatan dengan suami terkait pendapatan mana yang disebut sebagai "pendapatan keluarga".
Alokasikan pendapatan keluarga tersebut dengan proporsi paling besar untuk kebutuhan saat ini dan tanggungan bayar/hutang/cicilan. Lalu sisakan sebagian untuk investasi dan dana darurat. Alokasi ini bisa bervariasi tergantung kebutuhan masing-masing keluarga, apakah keluarga tersebut sudah memiliki anak, tempat tinggal, dan lain sebagainya.
Jangan ragu untuk melakukan langkah pencegahan atau mitigasi risiko dengan membeli asuransi sesuai kebutuhan. Pastikan perusahaan asuransi tersebut sudah memiliki kredibilitas yang baik, misalnya Sun Life Financial yang sudah hadir di dunia sejak 1865. Kredibilitas ini sangat penting karena kemampuan gagal bayar tanggung jawab/hak konsumen dari asuransi dengan kredibilitas yang tinggi akan relatif rendah.
Pilih instrumen investasi yang tepat sesuai tujuan keluarga. Apakah investasi untuk pendidikan? liburan? dan lain sebagainya. Jangan ragu untuk konsultasi dengan ahli apabila kalian kurang paham terkait instrumen investasi di Indonesia dan pastikan konsultasi dengan lembaga/individu yang terpercaya ya. Teman-teman jangan mudah tergiur imbal balik (return) terlampau tinggi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Pengalaman Mengatur Keuangan Keluarga
Sebagai gambaran, aku dan suami bersepakat untuk selalu mengurangi pendapatan dengan kewajiban bayar bulanan bukan hutang (maintanance, parkir, bensin harian, listrik, air, dan wifi) terlebih dahulu baru kemudian mengalokasikan "sisa pendapatan" sebesar 50% sebagai biaya hidup, 20% refreshment, 20% dana darurat, dan 10% investasi karena saat ini kami belum memiliki hutang apapun. Bagi aku dan suami, dana darurat sengaja diberikan porsi lebih besar daripada investasi karena kami tipe yang preventif untuk hal-hal tidak terduga atau mudik misalnya. Dana darurat kami simpan dalam wujud reksadana yang mudah dicairkan dibandingkan dengan deposito. Dana investasi sepenuhnya aku serahkan untuk dikelola suamiku setiap bulan dalam bentuk reksadana dan saham. Kami membagi peran seperti ini berdasarkan keahlian masing-masing dan kesepakatan.
Sementara itu di acara tersebut, Nisye menyarankan sebaiknya bisa langsung alokasikan pendapatan sebesar 40% untuk biaya hidup, 20% untuk investasi, 10% dana darurat, dan maksimal cicilan 30%. Apabila cicilan tidak sampai 30% maka bisa dialokasikan untuk biaya lain-lain. Perlu diingat ya teman-teman bahwa keputusan alokasi dana sepenuhnya berada ditangan kesepakatan kamu dengan pasangan.
Jadi, sudah siapkah kamu mencoba langkah-langkah diatas? Semoga artikel ini bermanfaat ya.
#LiveHealthierLives #MomsMingle
