Konten dari Pengguna

Duit Kamu di Bank Itu Nggak "Nganggur", Tapi Lagi "Healing" ke Mana-Mana

Azahra Qotrunnadah

Azahra Qotrunnadah

Mahasiswa Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azahra Qotrunnadah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay (Animated Money Illustration)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay (Animated Money Illustration)

Nama: Azahra Qotrunnadah

Universitas Pamulang

Pernah nggak sih mikir, uang yang kamu tabung di bank itu sebenarnya lagi ngapain? Nggak, dia nggak diam aja di dalam mesin ATM nunggu kamu tarik pas lagi butuh beli kopi. Begitu kamu setor, uang itu udah "kabur" lagi dalam hitungan hari buat dipinjemin ke orang lain entah buat modal usaha, cicilan motor, atau proyek yang bahkan nggak pernah kamu tahu ada.

Nah, sekarang ini situasinya lagi rame banget. Bunga acuan tinggi bikin bank pada berlomba nawarin bunga deposito gede-gedean biar orang mau nabung di mereka. Tapi di sisi lain, makin banyak juga orang terutama generasi kita yang mulai pindah dari tabungan biasa ke reksa dana pasar uang atau SBN ritel yang bisa dibeli langsung dari HP, cuma modal aplikasi dan niat. Bank jadi dilema: gimana caranya tetap dipercaya orang buat nyimpen duit, tapi juga tetap untung, sambil tetap siap kalau tiba-tiba semua orang rame-rame narik uangnya bareng.

Ini yang namanya manajemen dana bank. Kedengarannya membosankan, tapi sebenarnya ini nentuin apakah uang kamu di bank itu aman atau justru jadi taruhan.

Makin tinggi bunga yang ditawarin bank buat narik nasabah, makin kecil untung yang bank dapetin. Ini kayak promo diskon gede-gedean di aplikasi belanja online biar orang nggak pindah ke kompetitor, tapi lama-lama marginnya makin tipis. Yang lebih parah, nasabah gede kayak perusahaan itu nggak setia sama sekali. Begitu ada bank lain kasih bunga 0,5% lebih tinggi, dana miliaran rupiah bisa pindah semalam doang. Nggak ada drama, nggak ada nostalgia.

Di sisi lain, bank juga harus mikir dua kali sebelum ngasih pinjaman. Kalau kelewat gampang ngasih kredit demi ngejar target, risikonya banyak yang gagal bayar alias macet. Tapi kalau kelewat pelit, duitnya cuma numpuk nggak produktif, padahal bank tetap harus bayar bunga ke penabung. Ibaratnya kayak nge-swipe di dating app kalau kelewat selektif, sendirian terus; kalau kelewat gampang match, sering ketemu yang nggak sesuai ekspektasi dan berujung capek sendiri.

Tapi yang paling krusial dari semua itu adalah kesiapan bank buat sedia duit kapan aja, tanpa alasan. Ini yang bikin bank bisa collapse beneran. Sejarah nunjukin, bank jarang bangkrut gara-gara asetnya jelek mereka lebih sering ambruk karena kehabisan uang cash pas semua nasabah panik dan rame-rame narik dana bareng, alias bank run. Dan sekarang ini jauh lebih ngeri, karena semua serba digital. Dulu orang harus antre di kantor cabang buat narik uang, sekarang cukup buka aplikasi, tap beberapa kali, transfer selesai dalam hitungan detik. Uang bisa "kabur" secepat notifikasi masuk.

Ironisnya, teknologi yang bikin hidup kita gampang justru jadi mimpi buruk baru buat bank. Duit sekarang gerak secepat sinyal wifi, sementara banyak bank masih pakai cara mikir lama buat mantau ke mana aja uang itu ngalir.

Dari semua persoalan di atas, ada beberapa PR besar buat bank. Pertama, jangan cuma andelin bunga tinggi buat narik nasabah bikin aplikasi dan layanan yang nyaman biar orang betah nyimpen duit di tabungan biasa, bukan cuma pas ada promo deposito. Kedua, penyaluran kredit harus makin pinter, manfaatin data biar tahu siapa yang beneran layak dipinjemin, bukan sekadar ngejar angka pertumbuhan tiap kuartal. Ketiga, bank wajib punya sistem yang bisa mantau pergerakan uang secara real-time, kayak radar yang langsung nyala kalau ada tanda-tanda dana mulai kabur besar-besaran.

Intinya, kepercayaan itu mata uang paling mahal di dunia perbankan. Duit yang kita titipin ke bank bukan sekadar angka di layar aplikasi itu taruhan bahwa bank bisa ngatur uang kita dengan bijak: cukup berani buat berkembang, tapi juga cukup waras buat nggak goyah pas keadaan lagi nggak stabil. Bank yang bisa jaga keseimbangan itu, bukan cuma bank yang untung gede, tapi bank yang beneran pantas dipercaya generasi sekarang buat nitipin masa depan finansial mereka.

Daftar Pustaka

Dendawijaya, L. (2009). Manajemen Perbankan. Ghalia Indonesia.

Kasmir. (2019). Manajemen Perbankan (Edisi Revisi). Rajawali Pers.

Otoritas Jasa Keuangan. (2023). Statistik Perbankan Indonesia. OJK.

Bank Indonesia. (2023). Laporan Perekonomian Indonesia. Bank Indonesia.

Rivai, V., Basir, S., Sudarto, S., & Veithzal, A. P. (2013). Commercial Bank Management: Manajemen Perbankan dari Teori ke Praktik. Rajawali Pers.

Siamat, D. (2005). Manajemen Lembaga Keuangan: Kebijakan Moneter dan Perbankan (Edisi Kelima). FEUI.