Konten dari Pengguna

Bukan Cuma Influencer, Jadi Content Creator Niche Mulai Jadi Side Hustle Gen Z

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rasiti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gpt image
zoom-in-whitePerbesar
gpt image

Dulu, menjadi konten kreator mungkin identik dengan memiliki banyak pengikut dan membuat konten yang viral. Sekarang, anggapan tersebut mulai berubah. Seseorang tidak harus menjadi influencer besar untuk memulai membuat konten dan mendapatkan peluang dari media sosial Bagi sebagian Gen Z, membuat konten justru dimulai sebagai pekerjaan sampingan atau side hustle. Menariknya, konten yang dibuat tidak selalu membahas topik yang sedang viral. Ada yang memilih membuat konten berdasarkan hobi dan minat yang memang mereka jalani sehari-hari.

Fenomena ini menunjukkan perubahan cara anak muda melihat media sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram bukan hanya tempat untuk menghabiskan waktu, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun personal branding, komunitas, bahkan membuka peluang pekerjaan.

Tidak Harus Terkenal untuk Mulai Ngonten

Salah satu contoh menarik datang dari pengalaman Gen Z yang dibagikan dalam artikel Kumparan berjudul “Side Hustle Kecil-Kecilan teman kumparan Gen Z untuk Nambah Duit Jajan” yang diterbitkan pada 10 Februari 2026.

Dalam artikel tersebut, seorang Gen Z bernama Rizky mengaku sedang mencoba menjadi content creator dengan niche lari. Awalnya, ia hanya mendokumentasikan aktivitas larinya sendiri. Namun, konten tersebut ternyata mendapatkan engagement dan membuatnya melihat adanya peluang untuk mengembangkan aktivitas tersebut sebagai side hustle.

Cerita tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa pekerjaan sebagai content creator tidak selalu dimulai dari target menjadi terkenal. Konten bisa berawal dari sesuatu yang sederhana: seseorang mendokumentasikan hal yang memang ia sukai.

Dari sini muncul pola baru. Hobi yang sebelumnya hanya dilakukan untuk kesenangan pribadi dapat berubah menjadi konten ketika dibagikan ke media sosial. Jika kemudian terbentuk audiens yang memiliki ketertarikan sama, aktivitas tersebut berpotensi berkembang menjadi peluang ekonomi.

Ketika Hobi Berubah Menjadi Konten

Konten niche sebenarnya memiliki karakter yang berbeda dari konten yang mengejar viralitas secara umum. Kreator tidak harus membicarakan semua hal. Mereka justru dapat fokus pada satu bidang tertentu, seperti olahraga, makanan, makeup, fashion, gaming, buku, hingga kehidupan mahasiswa.

Misalnya, seseorang yang gemar berlari dapat membuat konten mengenai pengalaman mengikuti fun run, rekomendasi perlengkapan lari, rute lari, atau perkembangan latihan. Orang yang gemar memasak dapat membuat konten resep sederhana. Mahasiswa yang suka fashion dapat membuat konten mix and match pakaian untuk kuliah.

Keuntungannya, ide konten dapat berasal dari aktivitas yang memang sudah dilakukan. Kreator tidak selalu harus mencari topik baru dari nol karena kehidupan sehari-hari bisa menjadi sumber materi.

Namun, memiliki niche juga berarti harus menjaga konsistensi. Dalam artikel Kumparan tersebut, Rizky menyebut konsistensi sebagai salah satu tantangan dalam menjalankan side hustle sebagai content creator. Ia juga menyarankan agar seseorang memilih bidang yang memang disukai sehingga tetap memiliki alasan untuk melanjutkannya ketika mulai merasa lelah.

Side Hustle Bukan Berarti Tanpa Tantangan

Istilah side hustle sering terdengar menarik karena memberikan kesan bahwa seseorang bisa mendapatkan penghasilan tambahan di luar pekerjaan atau aktivitas utama. Tetapi, pekerjaan sampingan tetap membutuhkan waktu dan tenaga.

Kreator harus memikirkan ide, membuat dan mengedit konten, mengunggahnya secara konsisten, serta memperhatikan respons audiens. Jika konten mulai berkembang, pekerjaan tersebut juga bisa bertambah karena adanya permintaan kerja sama atau proyek dari pihak lain.

Masalahnya, waktu untuk melakukan semua itu harus dibagi dengan aktivitas utama. Dalam artikel Kumparan yang sama, Gen Z lain yang menjalankan side hustle sebagai desainer grafis mengaku menghadapi kelelahan ketika beberapa proyek memiliki deadline yang berdekatan dengan pekerjaan utamanya.

Artinya, fleksibilitas menjadi salah satu daya tarik pekerjaan digital, tetapi bukan berarti waktunya benar-benar bebas. Justru kemampuan mengatur waktu menjadi bagian penting ketika seseorang menjalankan pekerjaan utama sekaligus side hustle.

Dari FYP ke Peluang Kerja

Perubahan ini memperlihatkan bahwa pekerjaan digital tidak selalu dimulai dengan kantor, kontrak kerja, atau posisi formal. Dalam beberapa kasus, pekerjaan tersebut bisa berawal dari sebuah akun media sosial dan aktivitas yang dilakukan secara rutin.

Yang menarik bukan hanya soal berapa banyak uang yang bisa diperoleh dari membuat konten. Fenomena ini menunjukkan bahwa keterampilan digital semakin memiliki nilai ekonomi. Kemampuan membuat video, mengedit, membangun audiens, mengelola media sosial, dan memahami karakter pengguna dapat berkembang dari sekadar kemampuan tambahan menjadi pekerjaan.

Karena itu, menjadi content creator niche dapat dilihat sebagai salah satu bentuk baru side hustle di kalangan Gen Z. Tidak harus langsung mengejar jutaan pengikut atau membuat konten yang viral. Bisa saja semuanya dimulai dari satu hobi, satu akun, dan satu video yang dibagikan kepada orang-orang dengan minat yang sama.

Pada akhirnya, FYP bukan hanya tentang apa yang sedang ditonton. Bagi sebagian anak muda, FYP juga bisa menjadi tempat untuk memperkenalkan kemampuan, membangun komunitas, dan membuka jalan menuju peluang kerja yang sebelumnya tidak terpikirkan.