Konten dari Pengguna

Gen Z Malas Bekerja, atau Hanya Tidak Mau Bekerja dengan Cara Lama?

AI Modified - Suasana Kantor.
zoom-in-whitePerbesar
AI Modified - Suasana Kantor.

Gen Z sekarang susah diatur.”

Kalimat seperti ini mungkin sudah tidak asing lagi di lingkungan kerja. Gen Z sering dianggap terlalu sensitif, mudah mengeluh, tidak tahan tekanan, terlalu banyak menuntut, bahkan malas karena tidak mau bekerja sampai larut malam.

Namun, benarkah Gen Z tidak mau bekerja?

Atau sebenarnya mereka hanya memiliki cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan?

Bagi banyak Gen Z, bekerja bukan lagi sekadar datang pagi, menyelesaikan tugas, menerima gaji, lalu mengulanginya setiap hari.

Mereka mulai mempertanyakan hal yang lebih jauh: apakah pekerjaan ini membuat mereka berkembang? Apakah waktu dan energi yang dikeluarkan sepadan? Apakah pekerjaan tersebut masih memberikan ruang untuk kehidupan di luar kantor?

Hal tersebut terlihat dalam Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey. Survei ini melibatkan 14.751 Gen Z dan 8.731 milenial dari 44 negara.

Hasilnya menunjukkan bahwa Gen Z tidak hanya mempertimbangkan uang. Mereka juga mencari keseimbangan antara money, meaning, dan well-being. Bahkan, hanya 6 persen Gen Z yang mengatakan bahwa tujuan karier utama mereka adalah mencapai posisi kepemimpinan senior.

Artinya, tidak semua Gen Z melihat kenaikan jabatan sebagai satu-satunya ukuran kesuksesan.

Bagi sebagian dari mereka, jabatan yang lebih tinggi memang menarik. Namun, jika kenaikan jabatan hanya berarti tanggung jawab bertambah, pekerjaan semakin banyak, sementara waktu untuk kehidupan pribadi semakin sedikit, keputusan tersebut bisa dipikirkan kembali.

Mereka lebih mempertimbangkan apakah sebuah pekerjaan benar-benar memberikan perkembangan.

Dan ternyata, belajar dan berkembang memang menjadi perhatian penting.

Dalam survei Deloitte, pembelajaran dan pengembangan diri termasuk tiga alasan teratas Gen Z dalam memilih perusahaan tempat mereka bekerja. Sebanyak 70 persen Gen Z mengatakan bahwa mereka mengembangkan keterampilan untuk kemajuan karier setidaknya sekali dalam seminggu.

Jadi, jangan heran jika Gen Z menyukai pekerjaan yang memberikan tantangan.

Mereka bukan tidak mau bekerja keras. Mereka hanya ingin kerja keras tersebut menghasilkan sesuatu: pengalaman, kemampuan baru, kesempatan berkembang, atau kompensasi yang sepadan.

Hal yang sama dapat dilihat dari cara sebagian Gen Z menyelesaikan masalah di tempat kerja.

Misalnya, ketika seorang kasir mengalami selisih uang di akhir sif, mereka terkadang memilih menutup kekurangan tersebut menggunakan uang pribadi agar masalah segera selesai daripada harus berurusan panjang dengan laporan, pemeriksaan, atau proses administrasi.

Bukan berarti selisih uang dianggap sepele.

Mereka hanya memilih cara yang menurut mereka paling praktis. Jika masalah dapat diselesaikan saat itu juga, mengapa harus dibuat semakin panjang?

Kecenderungan untuk tidak menyukai hal yang berbelit-belit juga terlihat dalam cara mereka berkomunikasi.

Gen Z cenderung lebih nyaman dengan komunikasi yang terbuka, santai, dan tidak terlalu berjarak. Struktur kerja yang terlalu kaku atau komunikasi satu arah dapat membuat mereka merasa kurang nyaman.

Bukan berarti mereka tidak menghormati atasan.

Mereka hanya lebih mudah menerima arahan ketika mengetahui alasan di balik sebuah keputusan.

Kalimat “karena saya atasan” mungkin tidak selalu cukup.

Mereka ingin tahu mengapa sesuatu harus dilakukan dan apa tujuannya.

Pentingnya Work-life Balance bagi Gen Z.

Hal lain yang semakin mendapat perhatian adalah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta kesehatan mental.

Bagi sebagian Gen Z, bekerja bukan berarti harus mengorbankan seluruh kehidupan pribadi.

Mereka tetap ingin memiliki waktu untuk keluarga, teman, beristirahat, atau sekadar pergi berlibur.

Pulang tepat waktu tidak selalu berarti malas.

Bisa jadi, itu adalah cara mereka menjaga kehidupan di luar pekerjaan.

Deloitte juga menemukan bahwa 89 persen Gen Z menganggap rasa memiliki tujuan atau sense of purpose penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.

Karena itu, pekerjaan bagi Gen Z tidak selalu hanya tentang gaji.

Mereka ingin tahu apakah pekerjaan tersebut memiliki arti dan apakah mereka bisa menjadi lebih baik setelah menjalaninya.

Lalu, mengapa Gen Z sering disebut “tidak bisa disetir?"

Mungkin karena mereka lebih berani mempertanyakan sesuatu.

Ketika menemukan aturan yang dianggap tidak masuk akal, mereka cenderung bertanya. Ketika mendapatkan tugas tambahan, mereka bisa mempertanyakan prioritasnya. Ketika pekerjaan mulai mengganggu kehidupan pribadi, mereka tidak selalu memilih untuk diam.

Bagi lingkungan kerja yang terbiasa dengan kepatuhan tanpa banyak pertanyaan, sikap seperti ini tentu dapat terlihat sebagai pembangkangan.

Padahal, tidak bisa “disetir” bukan berarti tidak bisa bekerja sama.

Gen Z tetap membutuhkan aturan, arahan, disiplin, dan tanggung jawab. Hanya saja, mereka cenderung menginginkan hubungan kerja yang lebih terbuka dan masuk akal.

Bahkan, ada candaan yang sering terdengar, “Boro-boro korupsi, mengurus reimbursement saja malas.”

Tentu saja, ini bukan gambaran seluruh Gen Z.

Namun, candaan tersebut cukup menggambarkan satu hal: banyak anak muda lebih memilih sesuatu yang sederhana, jelas, dan tidak berbelit-belit.

Pada akhirnya, Gen Z memang bukan generasi yang sempurna.

Mereka tetap perlu belajar disiplin, menerima kritik, bertanggung jawab, dan memahami bahwa dunia kerja tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Namun, perusahaan juga perlu menyadari bahwa pekerja muda tidak tumbuh dengan cara pandang yang sama seperti generasi sebelumnya.

Mungkin persoalannya bukan Gen Z malas bekerja, melainkan adanya perubahan cara memaknai pekerjaan.

Bagi Gen Z, bekerja keras tetap penting, tetapi bekerja keras bukan berarti harus mengorbankan seluruh waktu, kesehatan, dan kehidupan pribadi. Mereka ingin mendapatkan penghasilan, tetapi juga ingin berkembang. Mereka ingin menghadapi tantangan, tetapi tetap memiliki batas. Mereka ingin dihargai, tetapi juga ingin didengar.

Karena itu, daripada terus memberi label “sensitif," “sulit diatur," atau “tidak loyal," mungkin sudah waktunya dunia kerja memahami apa yang sebenarnya sedang mereka cari.

Sebab, generasi yang berani bertanya bukan selalu generasi yang malas.

Bisa jadi, mereka adalah generasi yang sedang menunjukkan bahwa cara bekerja juga perlu berkembang seiring perubahan zaman.