Konten dari Pengguna

Hari Libur Mahasiswa: Kenapa Aku Justru Memilih Tidak Membuat Target?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rasiti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ChatGpt Image
zoom-in-whitePerbesar
ChatGpt Image

Sebagai mahasiswa, hari libur sering terasa seperti kesempatan untuk mengejar banyak hal yang belum sempat dilakukan. Ada tugas yang belum selesai, materi yang ingin dipelajari, pekerjaan yang harus dikerjakan, sampai berbagai kegiatan lain yang sudah masuk daftar rencana.

Tapi belakangan aku justru mencoba menjalani hari libur dengan cara yang berbeda. Aku tidak selalu membuat target untuk menyelesaikan sesuatu. Kadang aku hanya ingin bangun lebih siang, menonton film, mendengarkan musik, mencoba resep baru, jalan-jalan, atau sekadar bermain media sosial.

Awalnya aku merasa sedikit aneh. Biasanya, ketika melihat orang lain mengisi waktu dengan belajar, olahraga, bekerja, atau membuat sesuatu, aku juga jadi ingin melakukan hal yang sama. Hari libur akhirnya terasa seperti waktu yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Padahal, menurutku setiap orang punya cara berbeda untuk menikmati waktu kosong.

Ada mahasiswa yang memilih mengerjakan tugas lebih awal supaya minggu berikutnya terasa lebih ringan. Ada yang menggunakan hari libur untuk bekerja atau menjalankan bisnis kecil. Ada juga yang memilih berkumpul bersama keluarga, bermain bersama teman, atau menghabiskan waktu dengan hobinya.

Aku termasuk orang yang kadang ingin melakukan semuanya. Di satu sisi ingin tetap produktif, tetapi di sisi lain ingin punya waktu untuk melakukan hal-hal yang memang aku sukai.

Dari situ aku mulai melihat hobi dengan cara yang berbeda. Misalnya, ketika aku menonton film di hari libur, mungkin memang tidak ada tugas yang selesai. Ketika aku mencoba memasak, mungkin tidak ada pencapaian besar yang bisa ditulis di daftar kegiatan. Namun, aku mendapatkan pengalaman baru dan menikmati prosesnya.

Hal yang sama juga berlaku ketika aku sekadar jalan-jalan atau mendengarkan musik. Kegiatan tersebut mungkin sederhana, tetapi justru menjadi bagian dari waktu yang membuat hari terasa lebih menyenangkan.

Menurutku, mahasiswa juga membutuhkan ruang seperti itu. Kehidupan kuliah tidak hanya berisi tugas, presentasi, organisasi, praktikum, dan berbagai deadline. Ada juga kehidupan di luar kegiatan akademik yang tetap penting untuk dijalani.

Karena itu, sekarang aku tidak ingin menjadikan hari libur sebagai hari untuk mengejar sebanyak mungkin target. Kalau memang ada tugas yang harus diselesaikan, tentu tetap aku kerjakan. Tetapi setelah itu, aku ingin memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk memilih kegiatan yang aku sukai.

Mungkin bagi orang lain, hari libur yang ideal adalah hari yang penuh aktivitas. Bagiku, hari libur bisa sesederhana menikmati makanan favorit, menonton film, mencoba hobi, atau tidur lebih lama.

Aku mulai memahami bahwa waktu luang tidak selalu harus diubah menjadi pencapaian. Kadang, waktu luang memang cukup menjadi waktu untuk menikmati hidup.

Jadi, kalau hari libur ini aku tidak menyelesaikan banyak hal, bukan berarti hariku tidak berarti. Mungkin aku memang sedang memilih menikmati waktu dengan caraku sendiri.