Konten dari Pengguna

Lagu TikTok Terngiang di Kepala Anak: Sekadar Hiburan atau Gangguan Fokus?

TikTok menjadi salah satu sumber munculnya tren musik dan sound yang kemudian terdengar di berbagai tempat. Meski anak usia dini belum seharusnya menggunakan TikTok secara mandiri, mereka tetap dapat mengenal lagu TikTok yang sedang viral dari orang tua, kakak, teman, atau video yang ditonton bersama.

Potongan lagu yang hanya terdengar beberapa detik dapat menjadi sangat familiar. Anak kemudian ikut menyanyikannya berulang kali, bahkan tanpa memahami makna liriknya.

Foto ilustrasi anak mendengarkan musik: AI Modified
zoom-in-whitePerbesar
Foto ilustrasi anak mendengarkan musik: AI Modified

Fenomena ketika potongan musik terus muncul dalam pikiran tanpa disengaja dikenal sebagai earworm atau involuntary musical imagery (INMI). Penelitian Victoria J. Williamson, Lassi A. Liikkanen, Kelly Jakubowski, dan Lauren Stewart menganalisis 1.046 laporan pengalaman INMI. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar earworm dianggap netral atau menyenangkan, tetapi sebagian lainnya dapat menimbulkan gangguan, mulai dari distraksi hingga rasa tidak nyaman.

Mengapa Lagu TikTok Mudah Menempel di Ingatan?

Lagu yang digunakan sebagai sound di TikTok sering kali menonjolkan potongan tertentu yang singkat dan mudah dikenali. Ketika bagian tersebut muncul berulang kali, pendengar menjadi semakin familiar dengan melodi maupun liriknya.

Hal ini sejalan dengan penelitian Kelly Jakubowski, Sebastian Finkel, Lauren Stewart, dan Daniel Müllensiefen yang menggunakan data lagu yang disebut sebagai earworm oleh 3.000 peserta. Penelitian tersebut menemukan bahwa popularitas lagu dan karakteristik melodinya berkaitan dengan kemungkinan sebuah lagu menjadi earworm.

Paparan lagu digital juga dapat memengaruhi ketertarikan musik anak. Serasi Zendrato dan Silvia Mariah Handayani (2025) meneliti 25 anak usia 4–6 tahun dan menemukan bahwa paparan lagu pendek digital dari TikTok berpengaruh signifikan terhadap minat anak terhadap lagu tradisional. Peneliti juga menekankan pentingnya kualitas konten dan pendampingan orang dewasa.

Ketika Lagu Viral Masuk ke Ruang Belajar

Saya sendiri cukup sering menemukan fenomena ini ketika menjadi tutor les anak TK. Beberapa anak menyanyikan potongan lagu TikTok yang sedang populer. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali.

Bahkan ketika kegiatan belajar sudah dimulai, potongan lagu tersebut terkadang masih dinyanyikan. Setelah berhenti beberapa saat, anak kembali mengulang bagian yang sama.

Pengalaman ini memang belum dapat menjadi bukti bahwa lagu TikTok secara langsung menyebabkan anak tidak fokus. Namun, pengulangan musik dapat menjadi salah satu stimulus yang mengalihkan perhatian anak dari instruksi atau tugas yang sedang dikerjakan.

Bukan Hanya Soal Konsentrasi

Persoalannya bukan hanya seberapa sering lagu terdengar, tetapi juga apa isi lagunya. Anak sering kali mampu menghafal lirik tanpa memahami maknanya. Lagu yang terdengar menarik belum tentu memiliki tema atau bahasa yang sesuai dengan usia mereka.

Fenomena ini juga dapat dikaitkan dengan FOMO (Fear of Missing Out). Ketika sebuah lagu sedang ramai digunakan, anak dapat terdorong ikut menyanyikannya karena melihat orang di sekitarnya melakukan hal yang sama.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Solusinya bukan sekadar melarang anak menyukai musik. Orang tua, guru, dan tutor dapat memeriksa isi lagu, membatasi paparan konten yang tidak sesuai usia, serta mengalihkan perhatian anak ketika lagu mulai mengganggu kegiatan belajar.

Dalam kegiatan belajar, musik juga dapat digunakan secara positif. Tutor dapat memilih lagu edukatif sebagai pembuka kegiatan, kemudian mengarahkan anak kembali kepada materi.

Anak juga tetap membutuhkan waktu untuk bermain, membaca, bergerak, berbicara, dan beraktivitas tanpa layar.

Pada akhirnya, lagu TikTok yang terngiang mungkin terlihat sebagai hal kecil. Namun, bagi anak yang sedang belajar berkonsentrasi, pengulangan lagu dapat menjadi salah satu stimulus yang perlu diperhatikan. Bukan berarti musik atau TikTok harus selalu dianggap buruk. Yang lebih penting adalah pendampingan orang dewasa agar anak mengenal musik, mengikuti tren, dan terpapar teknologi melalui konten yang sesuai dengan usianya.