Budaya Indonesia Makin Viral di Media Sosial, Pelestarian Jadi Tantangan

Sistem Informasi - Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Adika Rasya Fairuz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Viralnya Pacu Jalur di media sosial membuat budaya daerah semakin dikenal. Namun, popularitas saja belum cukup untuk memastikan budaya tersebut benar-benar dilestarikan.
Media sosial kini menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengenal berbagai budaya Indonesia. Melalui TikTok, Instagram, hingga YouTube, berbagai tradisi daerah dapat menjangkau masyarakat yang sebelumnya mungkin tidak pernah mengenalnya.
Salah satu contohnya adalah Pacu Jalur, tradisi lomba perahu panjang dari Kuantan Singingi, Riau. Tradisi ini menjadi perhatian luas setelah aksi Rayyan Arkan Dikha, penari cilik di atas perahu Pacu Jalur, viral di media sosial pada 2025.
GAMBAR 1 — Aksi Penari Pacu Jalur
Dari Tradisi Lokal Menjadi Tren di Media Sosial
Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan mendayung. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kuantan Singingi dan rutin digelar sebagai festival budaya.
Dalam perlombaan, terdapat penari atau joki kecil yang berada di bagian depan perahu. Gerakan mereka berfungsi sebagai bagian dari atraksi sekaligus penyemangat bagi para pendayung yang sedang berlomba.
Aksi Rayyan kemudian mendapatkan perhatian besar di media sosial. Gerakannya yang khas membuat banyak pengguna internet membuat ulang atau mengadaptasinya menjadi konten. Fenomena tersebut kemudian dikenal luas dengan istilah “aura farming”.
GAMBAR 2 — Pacu Jalur sebagai Tradisi Budaya
Ketika Budaya Hanya Dikenal dari Video Pendek
Viralnya sebuah tradisi tentu dapat membantu memperkenalkan budaya kepada masyarakat yang lebih luas. Generasi muda yang sebelumnya tidak mengetahui Pacu Jalur, misalnya, dapat mengenalnya melalui video yang muncul di media sosial.
Namun, ada hal lain yang perlu diperhatikan. Ketika budaya hanya dikenal melalui video pendek, masyarakat belum tentu memahami sejarah, makna, dan nilai yang terdapat di balik tradisi tersebut.
Hal ini juga berlaku bagi berbagai budaya lainnya. Tarian daerah, pakaian adat, lagu tradisional, maupun makanan khas dapat menjadi tren di media sosial. Perhatian publik memang meningkat, tetapi pemahaman terhadap budaya tersebut juga penting agar tidak berhenti sebagai konten viral.
GAMBAR 3 — Penari Pacu Jalur
Media Sosial Bisa Jadi Sarana Pelestarian
Di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya secara lebih kreatif. Konten mengenai suatu tradisi tidak harus hanya menampilkan bagian yang menarik secara visual.
Kreator dapat menambahkan informasi mengenai asal-usul tradisi, masyarakat yang menjalankannya, serta makna di balik setiap bagian dari budaya tersebut. Dengan begitu, penonton tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga pengetahuan.
Fenomena Pacu Jalur memperlihatkan bagaimana sebuah budaya lokal dapat memperoleh perhatian dari masyarakat yang lebih luas melalui media sosial. Kumparan juga mencatat bahwa viralnya Pacu Jalur menjadi perhatian karena tradisi tersebut mampu dikenal hingga luar Indonesia.
Viral Bukan Berarti Selesai
Perhatian yang muncul di media sosial dapat menjadi langkah awal untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Namun, viralitas bukan satu-satunya ukuran pelestarian.
Setelah masyarakat mengenal sebuah tradisi, pemahaman dan penghargaan terhadap budaya tersebut menjadi hal yang tidak kalah penting. Konten digital dapat menjadi pintu masuk, tetapi keberlangsungan budaya tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat dan generasi penerus.
Pacu Jalur menunjukkan bahwa budaya daerah bisa mendapatkan perhatian besar ketika bertemu dengan kekuatan media sosial. Tantangannya sekarang adalah menjaga agar perhatian tersebut tidak berhenti pada tren, tetapi berkembang menjadi pengetahuan, apresiasi, dan kepedulian terhadap budaya Indonesia.
