Perubahan Iklim Ekstrem 2025: Apa Yang Sebenarnya Sedang Terjadi?

MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIFHIDAYATULLAH
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rasyid Ridha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suhu Bumi Mencapai Rekor Baru
Tahun 2025 menjadi saksi nyata bahwa perubahan iklim ekstrem bukan lagi isu masa depan, melainkan kenyataan yang sudah terjadi dan semakin memburuk. Pada Mei 2025, suhu rata-rata global tercatat 1,4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan masa pra-revolusi industri, menjadikannya bulan terpanas kedua dalam sejarah pencatatan suhu Bumi. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemanasan global terus berlanjut tanpa henti, memecahkan rekor suhu yang sebelumnya tercatat pada Mei 2024.
Penyebab Utama: Gas Rumah Kaca dan Aktivitas Manusia
Pemanasan global yang memicu perubahan iklim ekstrem terutama disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan gas lainnya yang memerangkap panas di atmosfer. Aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan menjadi penyumbang utama peningkatan suhu ini. Selain itu, faktor alam seperti letusan gunung berapi juga berkontribusi, meskipun dalam skala yang lebih kecil.
Dampak Perubahan Iklim yang Terasa di Seluruh Dunia
Perubahan iklim ekstrem menyebabkan gangguan besar pada pola cuaca global. Di Indonesia, misalnya, tahun 2025 ditandai dengan hujan deras yang tidak biasa bahkan di musim kemarau, menyebabkan banjir dan tanah longsor yang merusak infrastruktur dan mengancam keselamatan masyarakat. Secara global, kejadian cuaca ekstrem seperti badai tropis, gelombang panas, kebakaran hutan, dan kekeringan berkepanjangan meningkat drastis hingga 400% dalam 50 tahun terakhir menurut WHO.
Risiko dan Kerugian yang Meningkat
Laporan dari World Economic Forum dan Munich Re menunjukkan bahwa cuaca ekstrem telah menjadi risiko global utama, menyebabkan kerugian ekonomi lebih dari US$ 320 miliar pada 2024 dengan jutaan orang mengungsi akibat bencana iklim. Kerusakan ini tidak hanya berdampak secara finansial, tetapi juga menimbulkan masalah kesehatan, termasuk penyakit menular dan gangguan mental yang makin meningkat akibat kondisi lingkungan yang memburuk.
Apa yang Harus Dilakukan?
Menghadapi perubahan iklim ekstrem, adaptasi dan mitigasi menjadi kunci utama. Pemerintah dan masyarakat harus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengurangan emisi gas rumah kaca, menjaga kelestarian hutan, serta memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. BMKG dan lembaga terkait juga menekankan pentingnya adaptasi bijak terhadap perubahan pola iklim yang sudah terjadi, seperti kesiapan menghadapi musim kemarau yang mundur dan durasi musim hujan yang lebih panjang.
Perubahan iklim ekstrem di tahun 2025 mengingatkan kita bahwa krisis iklim bukanlah isu masa depan lagi, melainkan kenyataan yang harus segera ditangani bersama. Kesadaran dan tindakan kolektif dari seluruh lapisan masyarakat menjadi harapan untuk mengurangi dampak buruk perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan planet ini bagi generasi mendatang.
