Konten dari Pengguna

Hadapi Kemarau, Tim 3 Ekspedisi Patriot Petakan Kondisi dan Kebutuhan Air di SP1

Rataliya Puspita Varera

Rataliya Puspita Varera

Alumni Sastra Inggris Universitas Indonesia

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rataliya Puspita Varera tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim ketika terjun ke Lapangan. Sumber: Dokuemntasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Tim ketika terjun ke Lapangan. Sumber: Dokuemntasi Pribadi

Teluk Wondama, Papua Barat — Musim kemarau berdampak langsung terhadap ketersediaan air bagi masyarakat di SP1 Werianggi, Distrik Werianggi, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Debit air di sejumlah sumber mengalami penurunan, sementara kebutuhan masyarakat terhadap air tetap berjalan. Kondisi tersebut mendorong Tim 3 Ekspedisi Patriot melakukan survei kondisi existing sistem air dan jaringan pipa sebagai bagian dari upaya memetakan kebutuhan serta merancang tindak lanjut penyediaan air yang lebih optimal.

Pengecekan Sambungan Air dan pengukuran Diameter Pipa. Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pengecekan Sambungan Air dan pengukuran Diameter Pipa. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Survei dilakukan oleh Tim 3 di bawah bimbingan Ketua Tim, Ir. Ayomi Dita Rarasati, S.T., M.T., Ph.D. Tim yang turun ke lapangan melakukan observasi langsung terhadap sumber air, intake, reservoir, hingga jaringan pipa yang mengalirkan air ke permukiman masyarakat.

Sebanyak tiga intake yang menjadi bagian dari sistem pengaliran air menuju Kampung Werianggi dan SP1, Kampung Tamoge dan SP2 turut ditinjau. Untuk mencapai sejumlah titik tersebut, tim harus menyusuri jalur pipa hingga memasuki kawasan hutan. Selain melakukan observasi, tim juga melakukan pengukuran diameter pipa sebagai bagian dari pengumpulan data untuk kebutuhan perencanaan.

Pengecekan Aliran Sungai Kecil. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Hasil survei menunjukkan bahwa seluruh intake masih berfungsi dan air masih mengalir. Namun, debit air relatif kecil akibat kondisi kemarau. Pada Jalur 1, misalnya, aliran air terpantau sangat kecil karena sumber air yang tersedia juga mengalami penurunan. Kondisi serupa ditemukan pada beberapa titik lainnya yang mengandalkan aliran sungai.

Selain persoalan debit, tim juga menemukan adanya sedimentasi pada reservoir. Endapan tersebut menjadi salah satu alasan dilakukannya agenda pembersihan reservoir sebagai upaya menjaga kapasitas tampungan dan fungsi infrastruktur air. Dalam kondisi musim hujan, reservoir sebenarnya memiliki kapasitas yang cukup untuk menampung air secara optimal. Namun, kondisi sumber air yang menurun pada musim kemarau membuat ketersediaan air tetap menjadi tantangan.

Proses Pembersihan Reservoir. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Persoalan tidak hanya ditemukan pada sumber air dan reservoir, tetapi juga pada jaringan perpipaan. Sejumlah bagian pipa diketahui mengalami kondisi yang kurang baik, sementara beberapa percabangan menuju rumah warga berpotensi mengalami kebocoran. Salah satu penyebabnya adalah adanya sambungan yang dibuat secara mandiri oleh masyarakat dengan melubangi pipa utama untuk mengalirkan air ke rumah masing-masing.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari sistem jaringan sebelumnya, ketika pipa utama belum memiliki percabangan langsung menuju seluruh rumah warga. Akibatnya, sebagian masyarakat membuat sambungan sendiri agar dapat memperoleh akses air. Sambungan yang tidak dirancang secara optimal kemudian berpotensi menyebabkan kebocoran dan mengurangi efektivitas distribusi air.

Sambungan Pipa Mandiri oleh Warga. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Di sisi lain, persoalan terbesar yang dirasakan masyarakat saat ini adalah keterbatasan debit air akibat kemarau. Tidak semua rumah, khususnya di bagian ujung Jalur 1, mendapatkan aliran air secara optimal. Bahkan, terdapat bagian jalur pipa utama yang terputus dan belum mencapai permukiman di wilayah ujung.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain menggunakan sumber air lain, seperti sumur mushola dan fasilitas kesehatan, beberapa warga juga menghadapi kondisi sungai yang airnya keruh. Air yang tersedia untuk kebutuhan konsumsi pun perlu diolah terlebih dahulu sebelum digunakan.

Gambaran Sumur Warga. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Melihat kondisi tersebut, Tim 3 tidak hanya melakukan pemetaan infrastruktur, tetapi juga memberikan dukungan langsung kepada masyarakat melalui pembagian filter air. Upaya tersebut dilakukan sebagai salah satu langkah untuk membantu masyarakat memperoleh air yang lebih layak digunakan, terutama ketika kualitas dan ketersediaan sumber air mengalami penurunan selama musim kemarau.

Survei lapangan ini menjadi dasar bagi Tim 3 untuk menyusun rencana tindak lanjut. Perbaikan akan diarahkan terutama pada percabangan pipa menuju rumah warga yang tidak optimal dan berpotensi mengalami kebocoran. Tim juga berencana memperpanjang jaringan pipa utama di bagian yang saat ini belum mencapai permukiman sehingga cakupan distribusi air dapat diperluas.

Tim 3 Turun Survey Ke Rumah Warga. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ke depan, Tim 3 akan melakukan pemetaan lebih menyeluruh terhadap empat jalur yang terdapat di SP1. Pemetaan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi jaringan, titik permasalahan, kebutuhan masyarakat, serta prioritas penanganan pada masing-masing jalur.

Pemberian Filter Air ke Warga. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Upaya serupa juga direncanakan untuk menyasar SP2 apabila kondisi dan sumber daya memungkinkan. Selain intervensi pada infrastruktur, Tim 3 melihat pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai pemeliharaan jaringan air. Sosialisasi akan diarahkan pada pentingnya menjaga kondisi pipa dan sambungan, tidak mengubah jalur distribusi secara sembarangan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang dapat mengancam sumber dan jaringan air, termasuk pembakaran lahan di sekitar jalur pipa.

Bagi Tim 3 Ekspedisi Patriot, pemetaan kondisi existing menjadi langkah penting sebelum menentukan intervensi. Dengan memahami kondisi sumber air, kapasitas tampungan, jaringan perpipaan, serta kebutuhan masyarakat secara langsung, upaya peningkatan akses air bersih diharapkan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.