Fokus Tergerus, Tugas Menggulung: Liku-Liku Perjuangan Mahasiswa PEKO
Tulisan dari Ratih Mulyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik tumpukan tugas dan padatnya jadwal perkuliahan mahasiswa Pendidikan Ekonomi (PEKO), ada satu musuh yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat kuat menarik perhatian: game. Dari “cuma 10 menit” yang jadi satu jam, sampai “sekalian push rank” yang akhirnya memakan waktu semalaman, game menjadi distraksi besar yang memengaruhi cara mereka belajar.
Bagi sebagian mahasiswa, game awalnya hanya pelarian kecil dari rasa penat setelah kuliah. Tapi lama-lama, game justru mengambil alih ritme belajar. Saat harus membaca materi, notifikasi game lebih menggoda. Saat niat mengerjakan tugas, pikiran malah lari ke strategi pertandingan berikutnya. Akhirnya fokus hilang, waktu habis, tugas belum tersentuh. Fenomena ini bukan sekadar soal malas. Banyak mahasiswa yang sebenarnya ingin fokus, tetapi kesulitan mengendalikan dorongan untuk “main sebentar”. Game menawarkan rasa senang instan, berbeda dengan belajar yang butuh proses panjang. Inilah yang membuat mahasiswa mudah terdistraksi, terutama ketika mood belajar sedang turun. Dampaknya jelas terasa yaitu tugas menumpuk, jadwal berantakan, dan rasa cemas meningkat. Beberapa mahasiswa mengaku sudah mencoba membuat jadwal belajar, tapi tetap kalah oleh keinginan untuk bermain. Ada juga yang merasa bersalah setelah bermain lama, tetapi terus mengulangi pola yang sama. Realita ini menunjukkan bahwa kesulitan belajar tidak selalu disebabkan oleh materi kuliah yang berat. Kadang masalahnya ada pada bagaimana mahasiswa mengelola waktu, emosi, dan godaan di sekitarnya. Game bukan musuh, tetapi ketika tidak dikendalikan, ia bisa memengaruhi performa akademik secara signifikan. Pada akhirnya, mahasiswa perlu belajar menempatkan game sebagai hiburan, bukan penguasa waktu. Karena ketika fokus kembali, materi lebih mudah dicerna, tugas cepat selesai, dan game tetap bisa dinikmati tanpa rasa bersalah.

