Stres Anak di Sekolah: Persoalan Individu atau Sistem Pendidikan?
Tulisan dari Ratih Mulyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stres pada anak di sekolah semakin sering menjadi keluhan. Anak tampak mudah lelah, cemas menghadapi tugas dan ujian, serta kehilangan minat belajar. Kondisi ini kerap dipahami sebagai masalah pribadi, seolah anak kurang tangguh dalam menghadapi tekanan.
Namun, pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apakah stres anak benar-benar hanya persoalan individu, atau ada peran sistem pendidikan di dalamnya?
Sekolah idealnya menjadi ruang aman bagi anak untuk tumbuh dan belajar. Dalam praktiknya, tuntutan akademik yang padat, beban tugas berlapis, dan penilaian yang berfokus pada hasil sering membuat proses belajar terasa menekan. Dalam situasi seperti ini, stres bukan lagi pengecualian, melainkan respons yang wajar.
Di sisi lain, setiap anak memang memiliki kapasitas berbeda dalam mengelola tekanan. Perkembangan emosi, kondisi psikologis, dan lingkungan turut memengaruhi daya tahan mereka. Namun, ketika sistem pendidikan hanya mengakomodasi satu standar keberhasilan, anak yang tidak sesuai mudah dianggap bermasalah.
Budaya pendidikan yang menitikberatkan nilai dan peringkat juga mempersempit makna belajar. Anak belajar untuk menghindari kegagalan, bukan memahami proses. Kesehatan mental pun sering terpinggirkan, padahal menjadi bagian penting dari tumbuh kembang anak.
Artinya, stres anak di sekolah tidak bisa dilihat semata sebagai kelemahan pribadi. Anak memang perlu belajar mengelola emosi, tetapi sistem pendidikan juga perlu dievaluasi agar lebih manusiawi dan inklusif. Jika semakin banyak anak merasa tertekan, mungkin yang perlu ditinjau bukan hanya ketahanan individu, melainkan cara kita merancang dan menjalankan pendidikan itu sendiri.

