Haflah Tilawah Ma'had Fatimah Tumbuhkan Keberanian dan Cinta Al-Qur'an

Ratna Dewi Lubis, Mahasiswi semester 2 Program Studi Jurnalistik (12405021030097), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ratna Dewi Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ciputat, Tanggerang Selatan — Suasana Musala Mabna Syarifah Fatimah pada Kamis, 29 Mei 2025 terasa berbeda. Tanpa panggung megah atau sorotan cahaya, lantunan ayat suci, puisi islami, dan irama hadroh menggema khidmat dan dibawakan oleh para mahasantri dari berbagai fakultas.
Haflah Tilawah yang digelar sebagai agenda tahunan Ma'had Fatimah bukan sekedar seremoni. Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi, penguatan spritual, sekaligus wadah menumbuhkan keberanian para mahasantri untuk menyuarakan kalam-Nya.
Beragam penampilan dihadirkan, mulai dari pembacaan asmaulhusna, murottal, sambung ayat, syarhil Qur'an, puisi islami, hingga hadroh. Semua dibawakan langsung oleh mahasantri dari latar belakang studi yang beragam.
“Kan ini asrama putri, ya. Biasanya anak-anak sibuk kuliah, kadang malah asik main handphone (HP) atau ngobrol. Nah, Haflah ini jadi reminder supaya mereka lebih sering buka Al-Qur’an daripada buka yang lain,” ujar Bunda, pengasuh asrama, sambil tersenyum.
Menurutnya, acara seperti ini jadi ruang untuk menguji apa yang telah dipelajari mahasantri selama di Ma’had, sekaligus menghidupkan suasana qur’ani di lingkungan tempat tinggal mereka.
Seorang mahasantri dari program studi Tarjamah menceritakan pengalamannya tampil membacakan murottal. "Deg-deg an sih, tapi karena tampilnya ramean, malah jadi percaya diri. Apalagi lihat teman-teman gladi tampil bagus-bagus, jadi ingin nunjukkin yang terbaik," ungkapnya.
Usai tampil, ia merasakan perubahan dalam dirinya. "Bukan hanya soal tampil, tapi kayak ada perasaan lebih dekat aja sama Al-Qur'an," tambahnya sambil tersenyum.
Keistimewaan Haflah Tilawah bukan hanya terletak pada penampilannya, tapi juga proses di balik layar. Banyak mahasantri awalnya enggan ikut serta karena merasa malu atau kurang percaya diri. Proses pembimbingan dari para mudabbiroh serta suasana kebersamaan di asrama membantu mereka memahami bahwa tampil bukan soal kesempurnaan, melainkan keberanian untuk mencoba.
Beberapa mahasantri bahkan mengaku awalnya ikut latihan karena diminta, bukan karena keinginan pribadi. Namun dari kebiasaan itu tumbuh keterbiasaan, dan dari keterbiasaan lahir keikhlasan. Rasa grogi pun berganti dengan keyakinan terhadap kemampuan sendiri.
Saat tengah hiruk-pikuk dunia perkuliahan, Haflah menjadi jeda yang menyejukkan, di tengah tugas dan deadline, para mahasantri disuguhkan kesempatan untuk menyuarakan kalam-Nya. Tidak sekadar tampil, tapi juga menenangkan hati, menguatkan iman, dan mempererat tali ukhuwah.
"Awalnya karena peraturan harus baca Al-Qur'an, lalu terbiasa, dan akhirnya mulai menikmatinya. Itu proses yang luar biasa,” tambahnya, menggambarkan bagaimana kegiatan sederhana ini bisa berdampak begitu dalam.
Pengasuh asrama berharap, Haflah semacam ini tak berhenti di sini. Kegiatan serupa di masa mendatang dapat melibatkan lebih banyak kolaborasi, termasuk mahasiswa internasional dan unit kegiatan mahasiswa (UKM) kampus yang sejalan. Bukan hanya untuk tampil, tapi untuk menumbuhkan semangat qur’ani di lingkungan mahasiswa.
Malam itu meski acara telah usai, gema lantunan ayat dan semangat para mahasantri masih terasa menggema dalam hati. Musala kecil itu bukan sekedar panggung hafalan, melainkan ruang bertumbuh bagi jiwa-jiwa muda yang ingin semakin dekat dengan Allah.
