Konten dari Pengguna

Mengajar Bukan Hanya Sekadar Metode, Teknik, dan Strategi

Ratna Nisrina Puspitasari

Ratna Nisrina Puspitasari

Pengajar Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Doplang - Alumni S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ratna Nisrina Puspitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan Pembelajaran di Kelas (dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Pembelajaran di Kelas (dokumen pribadi)

Seorang guru seyogyanya selalu dituntut menjadi kreatif dan inovatif tidak terkecuali dalam mengajar siswa di kelas. Banyak metode, teknik, dan strategi pengajaran yang bisa dipakai.

Beberapa di antaranya dapat ditemui di berbagai buku referensi yang ditulis oleh pakar-pakar pendidikan, baik dalam negeri maupun asing. Namun, metode dan teknik tersebut perlu diadaptasi oleh guru sesuai dengan kondisi, situasi, dan gaya mengajar masing-masing.

Inilah letak keunikan dalam kegiatan mengajar siswa. Perlu adanya seni mengajar yang tentu saja berpijak pada berbagai metode dan teknik mengajar yang biasa ditemui dan dipakai.

Seni mengajar adalah metode, teknik, dan strategi yang dipakai oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dengan memperhatikan gaya mengajar setiap guru yang berbeda-beda.

Ilustrasi guru di sekolah inklusi. Foto: Shutter Stock

Walaupun memakai metode, teknik, maupun strategi yang sama, setiap guru mempunyai gaya mengajar yang berbeda sehingga dalam praktiknya terdapat ciri, karakteristik, dan kekhasan yang melekat pada setiap guru. Di sinilah letak keunikan seni mengajar di kelas.

Metode, teknik, dan strategi boleh sama, namun vibe yang dirasakan berbeda-beda. Jika dianalogikan secara sederhana, resep masakan boleh sama namun cita rasa akan berbeda tergantung siapa juru masak yang meraciknya.

Cita rasa dalam mengajar inilah yang perlu diperhatikan oleh seorang guru. Guru dituntut untuk peka terhadap situasi dan kondisi di tempat mengajar masing-masing.

Semakin peka seorang guru, semakin tinggi pula intuisi yang dimiliki untuk mengembangkan gaya mengajar menjadi seni mengajar yang menarik. Guru tidak boleh terlalu terkekang terhadap metode, teknik, dan strategi tertentu yang pada akhirnya berakhir kaku.

Ilustrasi guru sekolah anak Foto: Shutterstock

Jika sudah seperti itu, kreativitas dalam mengajar tidak akan tampak. Padahal tidak semua siswa di kelas cocok dengan metode, teknik, dan strategi yang diterapkan di awal. Perlu improvisasi dalam bentuk seni mengajar untuk dapat merangkul dan memfasilitasi karakter setiap siswa yang beraneka ragam.

Siswa cenderung lebih tertarik terhadap guru yang mampu membawakan pembelajaran dengan menarik. Siswa kurang begitu suka suasana belajar yang kaku dan stagnan seperti halnya metode,

teknik, dan strategi yang diterapkan secara kaku dan monoton. Walaupun guru benar-benar taat dengan langkah-langkah yang ada dalam metode, teknik, dan strategi yang digunakan.

Namun, jika tidak ada improvisasi dan fleksibilitas di dalamnya maka akan terasa membosankan. Demi menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan menggugah siswa, perlu beberapa seni di dalamnya.

Ilustrasi guru mengajar. Foto: Shutterstock

Perlu sesuatu yang indah, menarik, dan menyenangkan dalam membawakan pembelajaran di kelas. Sesuatu yang indah, menarik, dan menyenangkan yang inilah yang dapat ditemui dalam seni. Siswa mengharapkan pembelajaran yang bercita rasa seni yang dapat memanjakan jiwa.

Kekakuan dalam kegiatan belajar tidak pernah diharapkan oleh siswa. Apalagi di era digital dan teknologi yang berkembang saat ini, yang segala sesuatunya dapat dikemas dengan lebih menyenangkan.

Oleh karena itu, metode, teknik, dan strategi mengajar tidaklah cukup bagi seorang guru, perlu seni mengajar yang kreatif dan inovatif demi menciptakan suasana belajar yang indah, menarik, dan menyenangkan.