Konten dari Pengguna

Peran Guru dalam Perkembangan Internal Murid

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ratna Nisrina Puspitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi interaksi guru dan murid. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi interaksi guru dan murid. Foto: Unsplash

Guru harus berusaha memahami setiap murid. Sebuah kalimat yang erat kaitannya dengan teori belajar humanistik yang dikemukakan oleh Carl Roger. Dalam teori tersebut sikap memahami dan menghargai antara guru dan murid ditekankan dalam proses belajar. Teori tersebut berpusat pada kebutuhan individu untuk dapat mengaktualisasi dirinya secara utuh agar setiap potensi dalam dirinya dapat berkembang. Dijelaskan pula bahwa dalam penerapannya berpusat pada klien, dalam hal ini klien yang dimaksud tentu saja adalah murid.

Proses belajar memerlukan pemahaman dalam setiap aspek internal yang meliputi perasaan, motivasi, dan perasaan. Terutama aspek internal murid sebagai subjek yang menjalani proses belajar. Guru berperan sebagai fasilitator yang dimaksudkan dapat memahami setiap aspek internal murid. Pada kondisi tertentu, tuntutan tersebut semakin berkembang ke posisi yang lebih vital karena aspek internal murid mempengaruhi perkembangan akademik khususnya kognitif murid selama proses pembelajaran di sekolah.

Tidak jarang perasaan yang sedang berkembang pada murid berpengaruh besar terhadap capaian prestasi, baik secara akademik maupun non akademik. Contoh ringan yang kerap terjadi misalnya saja kehadiran orang tua saat murid sedang menghadapi sebuah perlombaan dapat menciptakan kesan yang berbeda sehingga seringkali mempengaruhi semangat dan motivasi dan bermuara pada performa. Namun orang tua tidak selamanya dapat menjadi sosok ideal seperti pada contoh tersebut. Acapkali peran dan kondisi orang tua murid yang kurang ideal justru membawa murid ke arah sebaliknya. Pada kondisi seperti itulah peran guru menjadi vital, guru diminta untuk menjadi sosok yang dapat menumbuhkan semangat dan motivasi murid.

Guru berperan ganda, bukan hanya berperan sebagai pengajar namun bertambah perannya sebagai konselor dan motivator. Peran yang diharapkan mampu memahami setiap pergolakan emosi dan perasaan murid yang beraneka rupa. Peran yang juga dituntut untuk menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri murid sehingga segala potensi nya dapat berkembang dengan optimal.

Tidak jarang murid membawa emosi negatif ke sekolah sehingga pada kondisi inilah peran guru untuk dapat menetralkan emosi tersebut. Sebagai contoh, murid yang berangkat sekolah dengan perasaan sedih, marah, ataupun kecewa akan mempengaruhi menurunkan motivasi belajar saat di kelas. Sebaliknya, murid yang berangkat sekolah dengan perasaan bahagia, senang, dan penuh suka cita akan lebih mudah fokus pada proses belajar di kelas.

Memang tidak semua perasaan dan emosi murid adalah tanggung jawab guru, terlebih emosi dan perasaan yang berakar dan berasal dari kondisi lingkungan keluarga murid. Namun, menurut teori humanistik guru dapat membantu sebagai pihak yang dapat menerimak emosi dan perasaan murid sehingga murid merasa didengar dan dipahami. Peran tersebut dapat membuat murid merasa mempunyai lingkungan pendukung yang terasa tulus sehingga murid merasa dihargai dan dipahami.

Saat murid merasa didengar, dihargai, dan dipahami barulah dapat tercipta kondisi yang ideal untuk menginternalisasi nilai-nilai yang diinginkan, termasuk menumbuhkan motivasi kepada murid. Kondisi tersebut mendukung aktualisasi diri sehingga segala potensi dan bakat murid dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itu, peran guru semakin semakin berkembang ke posisi yang vital terutama dalam aspek perkembangan internal murid.