Konten dari Pengguna

Membaca Budaya melalui Sapaan Kekerabatan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ratna Juwitasari Emha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat menggunakan AI oleh penulis
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat menggunakan AI oleh penulis

Ditulis oleh Ratna Juwitasari Emha, M.Hum, Dosen Sastra Indonesia Universitas Pamulang.

Pernahkah kita memperhatikan seseorang yang lebih dikenal sebagai Bapaknya Rafi daripada nama aslinya? Di lingkungan sekolah, perumahan, atau komunitas tertentu, seseorang bisa saja dipanggil Mamanya Dinda, Bapaknya Fajar, atau Ibunya Nisa. Nama pribadi yang melekat sejak lahir seolah-olah tidak lagi menjadi penanda utama ketika seseorang memasuki lingkungan sosial yang mengenalnya melalui anak. Kebiasaan ini tampak sederhana, bahkan mungkin dianggap terlalu biasa untuk dipikirkan. Padahal, dari perspektif etnolinguistik, praktik tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana bahasa berkaitan dengan cara suatu masyarakat memahami keluarga, membangun hubungan sosial, dan menempatkan individu dalam kehidupan bersama. Nama anak tidak hanya berfungsi untuk mengidentifikasi dirinya sendiri, tetapi dalam konteks tertentu juga menjadi pintu masuk untuk mengenali orang tuanya. Etnolinguistik mempelajari hubungan antara bahasa dan kebudayaan, termasuk bagaimana kebiasaan berbahasa mencerminkan cara suatu komunitas memahami dunia sosialnya. Dalam perspektif ini, sebutan Bapaknya Rafi bukan sekadar rangkaian kata yang menggantikan nama pribadi. Sebutan tersebut memperlihatkan cara identitas seseorang dibangun melalui hubungan kekerabatan. Seseorang dikenali bukan hanya berdasarkan siapa dirinya secara individual, melainkan juga berdasarkan hubungannya dengan anggota keluarga lain. Kata bapak menandai posisi kekerabatan, sedangkan nama Rafi memperjelas hubungan yang dimaksud. Ketika kedua unsur itu digunakan untuk mengenali seseorang, bahasa menghadirkan keluarga sebagai salah satu kerangka penting dalam memahami identitas manusia. Dengan demikian, bentuk penyapaan tersebut dapat dibaca sebagai praktik kebahasaan yang mengandung pengetahuan budaya mengenai hubungan antara orang tua dan anak. Menariknya, praktik tersebut menunjukkan bahwa identitas dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu dibangun melalui nama pribadi. Nama yang diberikan ketika seseorang lahir memang berfungsi sebagai penanda individual, tetapi penggunaannya dalam masyarakat dapat berdampingan dengan berbagai sebutan yang lahir dari hubungan sosial. Seseorang bisa dikenal sebagai ayah, ibu, paman, bibi, atau anggota keluarga lainnya, bergantung pada siapa yang menyebut dan dalam situasi apa sebutan itu digunakan. Dalam lingkungan yang dihuni banyak keluarga, misalnya, menyebut seseorang sebagai Bapaknya Rafi dapat terasa lebih mudah daripada menggunakan nama pribadi yang belum dikenal. Identitas keluarga menjadi sumber informasi yang membantu orang lain memahami siapa yang sedang dibicarakan. Dari sudut pandang etnolinguistik, hal ini memperlihatkan bahwa bahasa menyediakan cara-cara kultural untuk mengenali individu melalui jaringan hubungan yang mengitarinya. Namun, kita perlu bertanya lebih jauh: mengapa nama anak yang digunakan, bukan nama orang tuanya sendiri? Jawabannya tidak dapat disamaratakan karena kebiasaan tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya setempat. Di sekolah, orang tua mungkin lebih dahulu mengenal anak-anak melalui kegiatan belajar, kemudian mengenali orang tua mereka melalui nama anak tersebut. Dalam kelompok orang tua murid, sebutan Mamanya Dinda dapat berkembang karena interaksi antarkeluarga berpusat pada kegiatan anak. Situasi serupa bisa terjadi di lingkungan perumahan atau komunitas tertentu, ketika seseorang lebih mudah dikenali melalui hubungan keluarga yang telah diketahui bersama. Dalam konteks seperti ini, nama anak menjadi semacam penanda sosial yang menghubungkan satu keluarga dengan keluarga lainnya. Praktik tersebut bukan berarti nama pribadi kehilangan makna, melainkan menunjukkan bahwa kebutuhan komunikasi dan kebiasaan komunitas turut menentukan identitas mana yang lebih sering ditampilkan. Fenomena ini juga membuka pemahaman mengenai pentingnya kekerabatan dalam praktik berbahasa. Dalam kehidupan sosial, hubungan keluarga tidak hanya hadir melalui tindakan, tanggung jawab, dan ikatan emosional, tetapi juga melalui kata-kata yang digunakan untuk menyebut anggota keluarga. Istilah seperti bapak, ibu, kakak, adik, paman, dan bibi tidak sekadar menunjuk hubungan biologis atau keluarga. Dalam konteks tertentu, istilah tersebut dapat digunakan untuk membangun kedekatan dengan orang yang tidak memiliki hubungan darah. Seseorang, misalnya, dapat memanggil tetangganya Pak atau Bu sebagai bentuk penghormatan, meskipun keduanya tidak memiliki hubungan kekerabatan. Kebiasaan semacam ini memperlihatkan bahwa istilah kekerabatan dapat memperoleh fungsi sosial yang lebih luas daripada makna dasarnya. Dalam praktik Bapaknya Rafi, hubungan keluarga yang semula merujuk pada relasi antara ayah dan anak juga menjadi dasar untuk mengenali seseorang di luar lingkungan keluarga inti. Meskipun demikian, tidak semua orang mengalami praktik tersebut dengan cara yang sama. Bagi sebagian orang tua, panggilan berdasarkan nama anak dapat terasa akrab karena menandakan bahwa mereka telah menjadi bagian dari suatu komunitas. Sapaan itu memungkinkan hubungan antarkeluarga terbentuk tanpa harus selalu dimulai dengan perkenalan formal. Akan tetapi, bagi orang lain, penggunaan sapaan tersebut secara terus-menerus mungkin membuat nama pribadinya semakin jarang disebut. Perbedaan pengalaman ini mengingatkan kita bahwa makna budaya suatu bentuk bahasa tidak selalu tunggal. Sebuah sapaan dapat menghadirkan keakraban dalam satu situasi, tetapi terasa membatasi dalam situasi lain. Karena itu, kajian etnolinguistik tidak cukup hanya mencatat bentuk sapaan yang digunakan masyarakat. Kajian tersebut juga perlu memperhatikan konteks pemakaian, pandangan penutur, dan makna yang diberikan komunitas terhadap kebiasaan berbahasa itu. Lebih jauh, praktik penamaan berdasarkan hubungan keluarga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana suatu masyarakat menempatkan individu di dalam kehidupan sosialnya. Ketika seseorang disebut Bapaknya Rafi, identitas yang ditonjolkan adalah perannya dalam keluarga. Ketika ia disebut Pak Ahmad, identitas yang ditampilkan bertumpu pada nama pribadi yang disertai penanda penghormatan. Sementara itu, sebutan seperti Pak Guru menonjolkan peran pekerjaan atau kedudukan sosial. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki beragam cara untuk mengidentifikasi seseorang, dan pilihan yang digunakan dapat memberikan petunjuk tentang hubungan yang dianggap relevan dalam konteks tertentu. Meski begitu, kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa masyarakat yang sering menggunakan sapaan berdasarkan nama anak pasti lebih mengutamakan keluarga daripada identitas individu. Kesimpulan semacam itu memerlukan penelitian terhadap komunitas yang bersangkutan. Etnolinguistik justru mengajak kita memahami kebiasaan bahasa berdasarkan konteks budaya yang melahirkannya, bukan menempelkan generalisasi kepada seluruh masyarakat. Pada akhirnya, Bapaknya Rafi dan Mamanya Dinda bukan sekadar panggilan alternatif yang muncul dalam percakapan sehari-hari. Keduanya dapat menjadi contoh bagaimana bahasa menghubungkan penamaan dengan sistem kekerabatan dan kehidupan sosial. Melalui perspektif etnolinguistik, kita dapat melihat bahwa cara menyebut seseorang menyimpan petunjuk tentang hubungan yang dianggap penting, kebiasaan yang berkembang dalam komunitas, dan cara individu dikenali melalui lingkungan sosialnya. Fenomena ini juga menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya diwariskan melalui upacara adat, cerita rakyat, atau tradisi besar, tetapi dapat ditemukan dalam kebiasaan berbahasa yang berlangsung setiap hari. Oleh karena itu, meneliti sapaan sederhana seperti Bapaknya Rafi dapat membantu kita memahami hubungan bahasa dan budaya secara lebih dekat. Sebab, dalam kehidupan masyarakat, sebuah nama terkadang tidak hanya menunjukkan siapa seseorang, tetapi juga mengungkapkan melalui hubungan apa ia dikenali.