Problematika Kehidupan Masyarakat Modern
Tulisan dari Ratna Rusmiyati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
”It’s a paradox of progress: the better things get, the more anxious and desperate we all seem to feel.” —Mark Manson

Saat ini kita hidup di era digital, di mana kita dapat mengetahui berbagai informasi tentang apa yang sedang terjadi dengan sangat cepat. Namun, kemajuan teknologi ini mengakibatkan masalah sosial menjadi lebih menonjol daripada sebelumnya. Masalah-masalah yang terjadi dalam perkembangan dan kemajuan manusia ini terkenal dengan istilah paradox of progress.
Masalah tersebut terjadi di beberapa aspek kehidupan masyarakat modern saat ini, contohnya adalah saat ini terdapat banyak perangkat penghemat waktu. Salah satu contoh perangkat penghemat waktu adalah komputer yang dapat melakukan perhitungan dengan sangat cepat, padahal jika dilakukan dengan tangan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal tersebut tentu saja mempermudah masyarakat modern, tetapi ternyata masih banyak orang yang mengeluh tentang tidak memiliki cukup waktu. Mereka mengeluh karena di kehidupan saat ini, terutama sejak pandemi COVID-19, tugas yang diterima oleh siswa ataupun para pekerja semakin banyak karena tugas tersebut dapat dikerjakan di rumah atau di mana pun berkat ponsel dan e-mail.
Saat pandemi COVID-19, semua sekolah melakukan pembelajaran online. Saat itu saya cukup terkejut dengan perubahan yang terjadi. Para guru hanya memberi tugas dan meminta siswanya untuk mempelajari materi sendiri, bahkan ada guru yang memberi tugas diluar jam pelajaran dan memberi tegat waktu sangat singkat dengan alasan agar dirinya tidak lupa. Saya dan teman-teman saya sangat merasa tertekan akan hal tersebut. Waktu senggang kami terus menurun, sebelumnya kami hanya belajar dan mengerjakan ketika hari senin hingga jumat, tetapi sejak pandemi kami belajar dan mengerjakan tugas setiap hari dari pagi hari hingga larut malam.
Menurut data statistik dari Organisasi Buruh Internasional, lebih dari 400 juta pekerja di seluruh dunia bekerja 49 jam atau lebih per minggu dari total tenaga kerja di seluruh dunia hampir 1,8 miliar. Di Indonesia sendiri tidak ada data pasti yang menunjukkan waktu yang dihabiskan masyarakat dalam mengerjakan tugasnya, tetapi menurut data dari Kemkominfo, pengguna internet di daerah pemukiman naik sekitar 30 hingga 40 persen sejak pandemi COVID-19. Dan pada daerah tertinggal, jumlah pengguna internet juga meningkat sekitar 23 persen. Artinya, sejak pandemi COVID-19, sudah banyak masyarakat yang mengakses teknologi untuk bekerja dan belajar dari rumah. Dengan bertambahnya jumlah pengakses tekonologi, maka sangat mungkin jika produktivitas kerja masyarakat menjadi meningkat.
Pada 2005, Micki McGee menyatakan bahwa perubahan modern dalam stabilitas pekerjaan berkurang dan tren sosial telah mengakibatkan masyarakat terobsesi terhadap perbaikan diri yang pada akhirnya merusak rasa aman banyak orang dengan identitas mereka. Pada tahun 2011, Sherry Turkle juga menyatakan bahwa di dunia modern saat ini, banyak orang yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan teknologi dan semakin sedikit waktu dengan orang lain. Hal ini dikarenakan masyarakat modern tergila-gila terhadap informasi yang diterimanya. Mereka terlalu fokus pada teknologi dan mengabaikan kehidupan di sekitarnya, sehingga munculah rasa kurang perhatian dari orang lain dan terganggunya kesehatan fisik dan mental orang tersebut.
Karena produktivitas kerja terus meningkat, maka waktu senggang pun terus menurun dan untuk mengatasi krisis waktu ini, orang-orang mengurangi waktu tidur mereka dari yang awalnya 8 jam menjadi hanya 6,5 jam semalam. Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan efek negatif yang signifikan pada kesehatan mental dan fisik seseorang. Meskipun orang-orang mengetahui hal tersebut, mereka tidak mampu berhenti melakukannya. Mereka harus bekerja dan belajar hingga larut malam demi memenuhi tegat waktu dan kebutuhan hidupnya.
Studi kasus menunjukkan bahwa teknologi dapat mengecewakan manusia dengan dua cara, yaitu intensitas penerapannya yang berlebihan dan jika seseorang menetapkan batasan pada teknologi maka pada saat yang bersamaan orang tersebut juga harus menetapkan batasan pada ekonominya karena ia harus melepaskan sumber-sumber pendapatan ekonomi (Moriarty & Beed, 1989). Banyak kritikus sosial yang juga mengatakan bahwa kualitas hidup masyarakat modern dan rasa pemenuhan pribadi seseorang telah menurun daripada meningkat karena pengaruh kemajuan teknologi. Jadi dapat dikatakan bahwa teknologi tidak dapat terlepas dari perekonomian. Oleh sebab itu, kemajuan teknologi masa kini membawa perubahan yang sangat nyata dalam mempengaruhi kebahagiaan dan kesehatan mental seseorang.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemajuan teknologi telah membawa masalah penyesuaian baru yang mungkin lebih sulit untuk diatasi. Para ahli teori pun setuju bahwa tantangan dasar kehidupan masyarakat modern telah berubah menjadi pencarian makna, tujuan, dan prinsip hidup. Pencarian ini melibatkan perjuangan dengan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi, seperti membentuk identitas diri yang kuat hingga sampai pada keadaan yang baik dan dapat mengembangkan tujuan yang jelas tentang masa depan yang dapat memenuhi kebutuhan. Masyarakat modern harus dapat melakukan hal tersebut agar dapat menyesuaikan perkembangan teknologi.
Referensi:
Kementerian Komunikasi dan Informasi. (2020, April 17). Penggunaan internet naik 40% saat bekerja dan belajar dari rumah. Kominfo.
Moriarty, P., & Beed, C. (1989). Technology: the paradoxes of progress. Arena 87, 127–138.
P2PTM Kemenkes RI. (2018, September 17). Kerja berlebihan itu tidak baik, tapi kenapa banyak orang masih melakukannya? Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Weiten, W., Dunn, Dana., & Hammer, E. Y. (2018). Psychology applied to modern life : adjustment in the 21st century (W. Weiten, D. S. Dunn, & E. Y. Hammer, Eds.; 12th ed.). Nelson Education, Ltd.
Willis, J. (1995). The paradox of progress. Radcliffe Publishing Ltd. https://books.google.co.id/books?id=BOEOdpa55RMC&printsec=copyright&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

