Polri Pasang Wi-Fi Portable & Terbangkan Tim Trauma Healing ke Lokasi Gempa NTT

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kombes Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko memberikan keterangan di Mako Poludara Korpolairud, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Minggu (16/8/2026). Foto: Ratu Shafa/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kombes Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko memberikan keterangan di Mako Poludara Korpolairud, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Minggu (16/8/2026). Foto: Ratu Shafa/kumparan

Polri mengerahkan 10 unit Wi-Fi portabel serta tim trauma healing ke wilayah terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengerahan tersebut dilakukan untuk mendukung pemulihan komunikasi dan kondisi psikologis warga korban gempa.

Karopenmas Divhumas Polri Kombes Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko mengungkapkan terputusnya akses komunikasi menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan bencana saat ini. Polri menyalurkan sejumlah unit perangkat internet portabel untuk mengatasi kendala infrastruktur di lapangan tersebut.

"Karena ada laporan dari Pak Kapolda beberapa koneksi internet yang sulit ya karena dampak bencana, ini kita juga membawa Wi-Fi portable Vintech sebanyak 10 unit. Pemasangan teknologi ini sangat penting agar jaringan komunikasi cepat terjangkau kembali, sehingga seluruh pembaruan informasi dan data penanganan di lokasi terisolir bisa didapatkan secara lebih cepat," kata Trunoyudo saat memberikan keterangan resmi di Mako Polisi Udara Korpolairud, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Minggu (16/8).

Foto udara sejumlah tenda pengungsian bencana gempa berdiri di Stadion Gelora Samador Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026). Foto: Mega Tokan/ANTARA FOTO

Selain mengatasi hambatan teknis komunikasi, penanganan dampak psikologis akibat musibah ini menjadi fokus utama jajaran kepolisian. Polri telah menerbangkan tim khusus pemulihan trauma (trauma healing) yang didampingi oleh tim kesehatan lapangan serta para dokter kepolisian.

Trunoyudo menekankan dampak bencana alam tidak sekadar menyisakan kerusakan fisik pada bangunan atau infrastruktur, tetapi juga luka emosional yang mendalam bagi para korban, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia.

"Kita mengharapkan semuanya akan mendapatkan bantuan secara merata. Bantuan ini tidak hanya disalurkan secara fisik, tetapi juga secara psikis. Kita kirimkan tim trauma healing, tenaga medis lapangan, perlengkapan pengungsian seperti tenda peleton, serta pemenuhan spesifik untuk kebutuhan kaum rentan. Ini menjadi prioritas mendesak yang sangat dibutuhkan saudara-saudara kita di tahap awal," jelasnya.

Untuk menjamin transparansi serta keterbukaan informasi di tengah situasi darurat, Mabes Polri turut menerbangkan Satuan Tugas (Satgas) Humas yang dipimpin oleh Kombes Pol. Bayu Suseno. Satgas ini bertugas mendirikan Media Center atau Posko Media guna menjembatani kebutuhan informasi publik dan jurnalis di lapangan.

Melalui keberadaan Media Center tersebut, Polri ingin memastikan arus informasi terkait proses evakuasi, penyaluran logistik, hingga pembaruan jumlah korban dapat disajikan secara terverifikasi, akurat, dan berbasis koordinasi lintas kementerian/lembaga seperti BNPB dan BPBD setempat.

Trunoyudo menambahkan, seluruh upaya intervensi teknis, jaringan, hingga pemulihan psikis ini akan terus dilakukan secara berkesinambungan. Polri berjanji akan terus mendistribusikan armada dan bantuan lanjutan secara bertahap, menyesuaikan hasil analisis kebutuhan terbaru dari wilayah terdampak bencana di NTT.