Konten dari Pengguna

Rupiah Nyaris Rp18.000: Ancaman yang Diam-Diam Menguras Kantong Masyarakat

Ratu Keysya nur azizah

Ratu Keysya nur azizah

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ratu Keysya nur azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Rupiah melemah, daya beli masyarakat ikut tertekan.(sumber: istockphoto.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Rupiah melemah, daya beli masyarakat ikut tertekan.(sumber: istockphoto.com).

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik. Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah bergerak mendekati angka Rp18.000 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh level tersebut pada perdagangan tertentu. Bersamaan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami tekanan yang cukup besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Bagi sebagian orang, naik turunnya nilai tukar mungkin terlihat sebagai persoalan yang hanya berkaitan dengan investor atau pelaku bisnis besar. Padahal, dampaknya dapat dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, biaya impor akan meningkat karena transaksi perdagangan internasional umumnya menggunakan mata uang dolar AS. Akibatnya, berbagai bahan baku yang berasal dari luar negeri menjadi lebih mahal.

Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah kebutuhan industri, mulai dari bahan baku tekstil, obat-obatan, elektronik, hingga sektor energi. Ketika harga bahan baku naik, biaya produksi perusahaan juga ikut meningkat. Dalam kondisi seperti ini, banyak perusahaan memilih menyesuaikan harga jual produknya agar tetap dapat mempertahankan keuntungan dan kelangsungan usaha. Dampaknya, masyarakat harus menghadapi kenaikan harga berbagai barang dan jasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, hal yang paling mengkhawatirkan dari pelemahan rupiah bukan hanya angka kurs yang terus mendekati Rp18.000, tetapi bagaimana kondisi tersebut secara perlahan mengurangi daya beli masyarakat. Kenaikan harga tidak selalu terjadi secara drastis, namun dapat muncul sedikit demi sedikit pada berbagai kebutuhan. Ketika harga kebutuhan pokok, transportasi, obat-obatan, atau barang konsumsi meningkat, sementara pendapatan masyarakat tidak bertambah, maka beban ekonomi rumah tangga akan semakin berat.

Kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah menjadi pihak yang paling rentan menghadapi situasi ini. Mereka harus mengatur pengeluaran dengan lebih ketat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika harga barang terus naik, pilihan yang tersedia sering kali hanya mengurangi konsumsi atau menunda kebutuhan tertentu. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup masyarakat karena kemampuan memenuhi kebutuhan menjadi semakin terbatas.

Memang ada sektor yang dapat memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah, yaitu sektor ekspor. Produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga memiliki peluang lebih besar untuk bersaing. Namun manfaat tersebut tidak selalu dirasakan secara langsung oleh masyarakat luas. Sebaliknya, dampak kenaikan harga barang akibat mahalnya impor justru lebih cepat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pelemahan rupiah juga menjadi pengingat bahwa perekonomian Indonesia masih cukup sensitif terhadap perubahan kondisi global. Penguatan dolar AS, ketidakpastian ekonomi dunia, hingga perpindahan modal asing dapat memberikan tekanan besar terhadap pasar keuangan domestik. Oleh karena itu, diperlukan langkah yang tepat dari pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi serta meningkatkan kepercayaan pasar.

Masyarakat tentu berharap kondisi ini tidak berlangsung dalam waktu yang lama. Stabilitas nilai tukar sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap harga barang, aktivitas usaha, dan kesejahteraan masyarakat. Ketika rupiah melemah, persoalannya bukan hanya tentang angka yang muncul di layar perdagangan valuta asing, melainkan tentang bagaimana masyarakat harus menghadapi biaya hidup yang semakin tinggi dari hari ke hari.

Ratu Keysya Nur Azizah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Pamulang.