Konten dari Pengguna

Sepakbola sebagai Alat Perjuangan: Merayakan Kemenangan, Menggugat Ketidakadilan

Ratunoor Zoraya Zammaiya effendi

Ratunoor Zoraya Zammaiya effendi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila.

comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ratunoor Zoraya Zammaiya effendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Piala Dunia 1978 menjadi contoh kondisi ketika sepakbola berfungsi sebagai alat perjuangan. Sumber: fifa.com
zoom-in-whitePerbesar
Piala Dunia 1978 menjadi contoh kondisi ketika sepakbola berfungsi sebagai alat perjuangan. Sumber: fifa.com

Sepakbola adalah olahraga paling populer di dunia, bukan sekadar permainan dan perayaan kemenangan di lapangan hijau. Lebih dari itu, sepakbola telah menjadi alat yang kuat untuk menyuarakan aspirasi, menggugat ketidakadilan, dan menghadirkan perubahan sosial. Fenomena ini dapat dipahami lebih mendalam melalui peristiwa sejarah kontemporer yang menunjukkan bahwa bola dan lapangan tidak hanya merespon tendangan pemain, tetapi juga bergemuruh dalam gaung perjuangan.

Salah satu contoh paling menonjol adalah Piala Dunia FIFA 1978 di Argentina. Saat itu, Argentina tengah dilanda kediktatoran militer yang kejam di bawah Jenderal Jorge Rafael Videla. Meskipun penuh ketegangan politik dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), Argentina dipilih sebagai tuan rumah Piala Dunia. Hal tersebut pada awalnya memberi peluang berharga bagi rezim untuk mengonversi sorotan dunia menjadi propaganda positif.

Akan tetapi, sepakbola tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh rezim. Pada kenyataannya, para pemain sepakbola Argentina, yang sebagian besar tidak memiliki hubungan langsung dengan politik, tanpa sengaja menjadi aktor dalam narasi politik yang lebih besar. Mereka tidak hanya menjadi peserta di lapangan, tetapi juga tanpa disadari menjadi simbol dari keadaan Argentina saat itu. Beberapa di antara mereka, seperti Osvaldo Ardiles dan Ricardo Julio Villa, menyatakan penyesalan mereka menjadi bagian dari propaganda militer. Mereka merasakan beban moral atas peran mereka yang tak disadari dalam menyembunyikan kekejaman rezim di balik sorotan sepakbola.

Namun, pemain tidak hanya dihadapkan pada dilema etis pribadi. Mereka juga menghadapi tekanan dari pemerintah militer untuk mendukung naratif resmi. Ancaman dan penindasan diarahkan kepada mereka agar bersikap patuh terhadap rezim, bahkan sampai pada tuntutan menyanyikan lagu kebangsaan atau memberikan dukungan vokal terhadap pemerintah. Dalam keadaan seperti ini, lapangan sepakbola tidak lagi hanya menjadi tempat pertandingan, tetapi juga medan pertarungan antara kebebasan dan penindasan.

Di sisi lain, para pendukung sepakbola yang secara tradisional bersatu untuk mendukung tim nasional mereka, mulai mengekspresikan ketidaksetujuan mereka terhadap situasi politik melalui simbol dan nyanyian di tribun. Stadion menjadi tempat di mana teriakan penolakan terhadap kebijakan rezim dan keinginan untuk perubahan berbaur dengan sorak sorai menyambut gol. Dalam konteks ini, sepakbola bukan hanya tentang permainan, tetapi juga tentang bagaimana kekuatan massa dapat digunakan untuk menyuarakan kebebasan dan keadilan.

Stadion menjadi panggung bagi rakyat Argentina untuk menyuarakan penolakan terhadap rezim Videla. Sumber:fifa.com

Piala Dunia 1978 di Argentina menciptakan narasi rumit tentang peran sepakbola dalam perjuangan politik. Meskipun dimanfaatkan oleh rezim militer untuk menutupi pelanggaran hak asasi manusia, peristiwa ini juga menggambarkan bahwa bahkan dalam tekanan yang luar biasa, ada ruang untuk menyuarakan ketidaksetujuan dan menolak menjadi alat propaganda. Para pemain dan pendukung sepakbola menjadi bagian dari perjuangan tak langsung melawan ketidakadilan, memberikan wajah baru pada ide bahwa olahraga dapat menjadi katalisator perubahan sosial.

Kisah sepakbola sebagai alat perjuangan tidak terbatas pada satu tempat atau satu waktu. Di seluruh dunia, ada banyak contoh bagaimana olahraga ini telah menjadi pintu suara bagi mereka yang terpinggirkan dan ditekan. Kampanye Football Against Apartheid di Afrika Selatan adalah contoh lain ketika sepakbola digunakan sebagai alat protes terhadap rezim apartheid. Kampanye ini menjadi bukti nyata bahwa sepakbola dapat menjadi simbol perlawanan. Di Brasil, para pemain sepakbola dan pendukungnya menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap ketidakadilan sosial dan politik melalui aksi dan pernyataan selama Piala Dunia 2014.

Pentingnya sepakbola sebagai alat perjuangan tidak hanya terbatas pada skala internasional. Di tingkat lokal, klub sepakbola sering menjadi pusat perjuangan komunitas untuk hak-hak dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Mereka menyatukan orang-orang dalam solidaritas, memberikan suara kepada yang tak terdengar, dan menciptakan perubahan yang berkelanjutan di tengah ketidaksetaraan sosial dan ekonomi.

Sumber: BeritaSatu.com

Sementara sepakbola telah menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan ketidakpuasan dan memperjuangkan perubahan, hal lain tidak boleh diabaikan adalah sepakbola juga dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang berkuasa. Piala Dunia di Qatar tahun ini, sebagai contoh terbaru, menyoroti kontroversi terkait hak asasi manusia (HAM) dan kondisi kerja yang buruk di tempat konstruksi stadion. Dalam hal ini, sepakbola menjadi panggung bagi ketidaksetujuan terhadap pelanggaran HAM.

Dalam merayakan sepakbola sebagai alat perjuangan, penting untuk memahami bahwa peran ini kompleks dan bisa memberikan dampak positif dan negatif. Sepakbola bukanlah solusi ajaib untuk semua masalah sosial dan politik, tetapi dapat menjadi katalisator untuk perubahan. Untuk memastikan bahwa sepakbola terus menjadi alat perjuangan yang efektif, masyarakat, pemain, dan pengurus harus berkomitmen untuk memastikan bahwa nilai-nilai universal seperti keadilan, persamaan, dan hak asasi manusia ditegakkan di dalam dan di luar lapangan. Sepakbola, sebagai permainan yang merentang batas fisik dan ideologis, memiliki potensi untuk tetap menjadi simbol perjuangan dan harapan bagi mereka yang berani berbicara, beraksi, dan mengubah dunia.